SIAP NAIK, SIAP TURUN !

Program Kerja Tahun 2006 mengisyaratkan pada bulan September / Oktober akan dilaksanakan Pergantian dan Pelantikan Dewan Paroki masa bhakti 2006-2009, yang didahului juga dengan pergantian pengurus lingkungan / wilayah serta kepengurusan lainnya. Pergantian, silih, suksesi suatu organisasi apapun bentuknya adalah suatu hal yang biasa dan harus dilakukan dalam kerangka tour of duty dan tour of area, kaderisasi dan tujuan lain yang ingin dicapai. Semua ini dapat terjadi karena adanya sistem yang mengatur dan mengendalikannya atau oleh suatu sebab, hingga ada suatu batas atau masanya.

Pengalaman dan pengamatan penulis selama dua periode kepengurusan Dewan Paroki Th. 2000-2003 dan Th. 2003-2006, memberi kesimpulan dan menolak tegas opini sebagian umat bahwa kepengurusan di badan Gereja semata asal mau dan dimaui, bahkan ada yang merasa di plekotho (setengah dipaksa) tanpa syarat lain. Kepengurusan di Badan Gereja dalam era serba cepat dan tanpa batas (mengglobal) dewasa ini, pemikiran dan opini itu hendaknya perlu disingkirkan dan dibuang jauh. Lalu apa dan bagaimana Pengurus Gereja kita harus dipilih? Disamping syarat minimal yang diama­natkan dalam pasal 19 dan 20 dalam Pedoman Pelak­sanaan PDDP, menurut penulis bahwa suksesi kepengurusan badan Gereja kita sekarang ini sungguh diperlukan calon yang benar-benar “Siap Turun, Siap Naik“ dalam arti kata tidak enggan diganti dan tidak enggan mengganti.

Alkitab telah memberi contoh dalam hal itu, dengan berbagai alasan yang berbeda – beda. Ada yang merasa belum siap, merasa kurang Percaya Diri, merasa belum cukup umur, kurang mampu berbicara dan berbagai macam lainnya. Suasana batin ini pernah dialami oleh Yosua saat akan menggantikan Musa. Yosua sungguh gamang, ciut hati dan resah sebab ia tahu tantangan dan kesulitan besar sedang menanti. Ia belum tahu persis menghadapi negeri di seberang sungai Yordan, yang baginya begitu asing dan misteriusnya yaitu negeri terjanji. Yosua sangat tergantung dan merasa lebih aman dan nyaman berlindung di bawah sayap karisma Musa dalam menghadapi sebuah tantangan. Lebih enak dan bebas menjadi penonton di pinggir lapangan, bebas bersorak bebas bergerak dari pada terjun menjadi pemain.

Begitu pula proses suksesi kepengurusan di Gereja kita ini, tidak boleh dan tidak akan terhenti lantaran ketidak siapan si pengganti. Umat Paroki termasuk penulis sungguh berharap dan menghendaki agar generasi penerus utamanya yang muda wanita dan prianya senantiasa siap sedia memegang dan melanjutkan tongkat estafet Kepengurusan Gereja kita ini serta siap memikul tanggung jawab bersama, baik itu melalui proses dipersiapkan maupun tidak dipersiapkan. Memikul tanggung jawab dan resiko dengan rela dan setia. ”…Jangan kecut dan tawar hati, sebab Tuhan Allahmu menyertai engkau, kemana engkau pergi“ (Yos.1:9).

Pergantian pengurus di Badan Gereja kita, bukan berarti segalanya mesti diganti, hanya yang sudah usang dan lapuk oleh usia zaman harus diganti. Yang salah harus dikoreksi, tetapi yang baik harus lestari.

Pergantian pengurus mesti ada pembaharuan dan inovasi, mesti ada peningkatan dan pengembangan sesuai dinamika, tetapi masih dalam kerangka menjaga kesinambungan.

Bagaimana menjadi pengurus yang baik? Banyak konsep teori bisa dibaca dan dipahami. Disamping persyaratan dan pemilihan dalam pasal 19 dan 20 PDDP, umat dan penulis berharap proses demokratis dan non ­ tradisi perlu diterapkan. Sebab kepengurusan Gereja sangat jelas yaitu memiliki spesifikasi tersendiri yang memiliki landasan atau bertumpu kepada konsep kepengurusan kristiani, yaitu kepengurusan yang ”melayani“ dan kepengurusan yang menghamba (servan leadership). Ini dapat terefleksi dalam gaya / model kepengurusan yang sarat dengan semangat Ardas KAS 2006-2010, yaitu rendah hati (human-humilis) spirit dan gaya menghidupkan, mbombong, taat asas, transparan dll.

Sebagai akhir tulisan, penulis kutipkan surat pertama rasul Petrus.. “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntung­an, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu” (1 Petrus 5:2-3)

Kepada segenap calon Pengurus Gereja dimanapun anda berada, kata imperatif sekaligus penugasan telah membuka pintu kemungkinan baru, nyaris tanpa tapal batas untuk dijelajahi dimasa depan. Selamat datang pengurus baru dan kesempatan berkarya baru.***

Related Posts

  • 83
    Melayani. Kata kerja ini sudah tidak asing bagi kita umat Kristiani. Kata yang mempunyai membantu mengurus apa yang diperlukan seseorang ini tidak asing bagi hidup orang Kristiani dan telah menjadi bagian dari kehidupan misalnya dalam Liturgi dan peribadatan maupun dalam kegiatan gereja maupun di masyarakat. Kata melayani ini pula diangkat menjadi tema Bulan Kitab Suci…
    Tags: yang, dan
  • 83
    Saudara-saudara terkasih di dalam Yesus Kristus, 1. Kita patut menaikkan syukur ke hadirat Allah dalam Yesus Kristus, sebab atas anugerah-Nya bangsa dan negara kita dapat mengukir karya di tengah sejarah, khususnya dalam upaya untuk bangkit kembali serta membebaskan diri dari berbagai krisis yang mendera sejak beberapa tahun terakhir ini. Anugerah, penyertaan dan bimbingan Tuhan bagi…
    Tags: dan, yang
  • 82
    PERNYATAAN SIKAP KOMISI KEADILAN DAN PERDAMAIAN KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KKP KWI) Jln. Cikini 2 No. 10 Jakarta Pusat MERAWAT KEBHINEKAAN, MENYELAMATKAN NKRI Akhie-akhir ini kehidupan berbangsa kita sedang terkoyak dengan munculnya isu-isu radikalisme, sektarianisme dan kepentingan politik jangka pendek. Masyarakat yang masih belajar hidup berdemokrasi dengan mudah digiring masuk dalam sekat-sekat agama, etnis, dan aliran…
    Tags: dan, yang