Simbolisme Lilin Paskah

Meski tidak memahami sejarahnya, umat dapat menerima sinyal-sinyal yang keluar dari simbolisme lilin paskah ini. Aura api lilin yang memancar redup, lalu dibagi-bagikan ke lilin-lilin kecil yang dibawa umat dan memberikan pe­ne­rangan lebih jelas, bak Tuhan Yesus sendiri yang mulanya redup karena kematian-Nya, kemuliaan setelah bangkit membagi­kan kehangatan-Nya kepada seluruh umat terkasih-Nya. Ini merupakan ke­nya­taan misteri Lilin Paskah yang me­ngan­dung sejumlah simbol.
Menurut Ennodius, Lilin Paskah yang secara tradisional dibuat dari lilin lebah itu menyatakan makrokosmos (alam ciptaan). Bagian lilin yang terdiri dari lilin dan sumbu dengan bahan dasar lebah (hewan) dan tanaman papyrus yang tumbuh di sungai serta nyala api yang ditimbulkan berasal dari langit ingin menyatakan bahwa Lilin Paskah merupakan mikrokosmos yang mem­pres­en­tasikan seluruh makrokosmos yang karena campur tangan Allah dipakai untuk keselamatan. Sedangkan tiga elemen Lilin Paskah yang diperkenalkan oleh st. Agustinus, lilin-lebah, sumbu dan nyala api bukanlah simbol makro­kosmos, melainkan berkaitan erat dengan tubuh, jiwa dan intelektual manusia. Menurut pujangga Gereja itu: lilin lebah merupakan lambang tubuh Kristus, lambang kemanusiaan-Nya yang lahir dari seorang perawan (seperti lilin lebah yang dihasilkan oleh lebah); sumbunya adalah jiwa Kristus; dan nyala api adalah pikiran-Nya. Pandangan ini diikuti oleh Durandus. Namun ia lebih melihat nyala api sebagai keilahian Kristus. Untuk orang Kristen lilin melambangkan tubuh, jiwa dan iman. Di Napoli, Lilin Paskah di­buat dalam ukuran besar, sehingga cahaya yang dihasilkan adalah cahaya yang cukup terang.

Penggunaan Lilin Paskah
Lilin Paskah ini tidak hanya diguna­kan dalam Upacara Cahaya, namun juga dalam hal-hal lainnya. Lilin tetap ditah­takan dekat ambo di altar. Dalam pene­ri­maan sakramen baptis dan pem­baharuan janji baptis di malam paskah, lilin ini dinyalakan. Selama masa masa paskah sampai Pentakosta, lilin paskah tetap dinyalakan setiap kali ada ibadat di Gereja. Setelah Pentakosta, lilin paskah dipindahkan dari ambo ke bejana baptis (yang hendaknya masih tetap dapat dilihat umat). Dan sebaiknya tetap dinyalakan setiap kali ada perayaan liturgi Gereja.
Penggunaan Lilin Paskah yang lain di luar liturgi Paskah adalah ketika ada pembaptisan anak. Jadi lilin anak di­nyala­kan dari Lilin Paskah. Baik juga kalau Lilin Paskah dinyalakan dekat pada kepala orang yang meninggal sepanjang upacara kematian. Sejauh memungkinkan untuk mengangkatnya dari bejana baptis ke tempat perayaan pemakaman. Lilin Paskah menunjukkan hubungan antara pembaptisan, kematian dan kebangkitan orang beriman dengan kebangkitan Kristus.
Lilin Paskah sungguh menyimbol­kan dan memiliki arti yang mendalam. Memandang Lilin Paskah berarti me­ngajak kita sadar akan kesatuan dengan Kristus: lahir dalam Kristus pada pem­baptisan, seluruh hidup diterangi oleh Kristus, mati bersama Kristus dan dibangkitkan serta hidup selamanya bersama Dia.
Bila demikian adanya, sangat cocok kalau Lilin Paskah selalu ditempatkan di tempat yang dapat dilihat oleh seluruh umat. Hanya kenyataannya sekarang ini sangat terbatas Gereja yang memper­laku­kan Lilin Paskah seperti itu. Selesai Pentakosta Lilin Paskah sudah ber­pindah tempat entah ke mana.***

Disarikan dari Majalah HIDUP
edisi 11 April 2004.

Be the first to comment on "Simbolisme Lilin Paskah"

Leave a comment