Keluarga memaknai nilai-nilai kerohanian

Masyarakat lebih mem­banggakan dan mengagumi materi atau kehidupan duniawi, yang nampak secara sepintas men­janji­kan kehidupan yang nya­man, bahagia dan sejahtera, yang tanpa disadari dalam kemajuan tehnologi yang begitu pesat dibutuhkan suatu kendali agar kita tidak terjerumus kedalam godaan yang menyesat­kan. Kendali utama agar kita dapat menikmati kehidupan yang nyaman, damai sejahtera adalah harus mau untuk kembali men­dalami nilai-nilai kerohanian termasuk mewujudkan iman dalam perbuatan.
Saat ini banyak orang mengalami gang­guan kejiwaan, entah Depresi ataupun Stres ataupun gangguan kejiwaan yang semua itu disebabkan seseorang me­mak­sakan diri untuk berlomba dengan ge­mer­lapnya nilai-nilai duniawi dan materi yang dianggap di­atas segala-galanya, namun mereka melupa­kan bekal keselamatan yaitu iman dan nilai rohani yang lain. Sekularisme yang memen­ting­kan kehidupan dunia­wi, Hedonisme merupakan sikap ingin mencari kesenangan diri dan konsumerisme sebagai sikap senang memakai atau memiliki barang mewah yang mendorong terjadinya sikap hidup boros me­rupakan sikap yang ngetrend dewasa ini. Orang tidak mengindahkan lagi tentang norma-norma, asal keinginannya dapat ter­capai, tanpa memandang apakah per­buatan pantas atau tidak untuk dilakukan. Nilai-nilai agama, moral dan rohani yang lain dikesampingkan demi mencapai ke­puasan diri. Seperti yang digam­barkan oleh Pujangga besar R.. Ronggo­warsito tentang kehidupan jaman sekarang: yang pernah mengatakan “ Saiki jaman edan, yen ora ngedan ora keduman “ apa yang digambar­kan oleh R.Ronggo­warsito ada benarnya bahwa banyak orang yang sudah tidak mem­punyai rasa malu melaku­kan perbuatan yang tercela tetapi ia me­ngingatkan kepada kita semua untuk tetap ingat akan karya penye­lamatan Tuhan agar kita memiliki kewas­padaan terhadap godaan yang menyesatkan, seperti yang disampaikan oleh beliau: ”Isih beja Wong kang eling lan waspada “.
Bagaimana tanggapan Gereja untuk menyelamatkan keluarga-keluarga Katolik agar tidak terlarut arus jaman yang membuat orang lupa akan andalan hidupnya yaitu dengan meneladan Yesus dan melaksanakan keutamaan hidup orang Kristiani: Iman, Harapan dan Kasih. Gereja jauh-jauh mem­beri bekal kepada keluarga-keluarga Katolik, agar kita menjadi ke­luar­ga yang selalu menjunjung nilai-nilai rohani sebagai landasan utama dalam me­lakukan segala tindakan. Sebelum kita masuk menjadi warga gereja atau masih men­jadi calon baptis, kita dibekali bermacam-macam nilai-nilai ke­rohanian, baik iman kepada Kristus, 10 Perintah Allah, 5 Perintah Gereja, Hukum Kasih dan sebagainya. Sebelum kita me­nerima Sakramen Per­nikahan kita juga dibekali adanya nilai-nilai kesetiaan dalam keluarga dan nilai yang lain. Masa Advent Masa Pra­paskah, ,Bulan Kitab Suci, dan bulan-bulan yang lain, kita selalu dihimbau untuk selalu memegang, men­dalami, meng­hayati nilai-nilai kerohanian, yang diajarkan oleh tokoh-tokoh orang Kudus. Liturgi Gereja juga memberikan nilai-nilai rohani agar kita menjadi pewarta sabda dan me­laku­kan karya pelayanan yang tulus bagi Tuhan maupun sesama.

Nilai-nilai rohani keluarga Katolik
Untuk mewujud­kan nilai-nilai kerohani­an dalam kehidupan dalam keluarga Katolik adalah keteladan Keluarga Kudus Nasaret. Tiga hal keteladan­an yang merupakan bekal rohani yang menjadi pegangan bagi keluarga Katolik yaitu :
Pertama : KESEDERHANAAN. Kese­derhanaan bukanlah identik dengan kemis­kinan, artinya bahwa orang hidup se­derhana bukan dilakukan oleh orang miskin saja, orang-orang mampupun banyak yang senang hidup sederhana. Dari kesederhanaan Ke­luarga Kudus Nazaret kita mendapat bekal nilai-nilai kerohanian yaitu: adanya sikap bersyukur atas Kasih Tuhan, adanya sikap terbuka dan mawas diri, adanya sikap rendah hati dan tabah menghadapi segala tantangan dan penderitaan serta mau ber­sikap menghargai orang lain dan mem­persiapkan diri untuk masa depan.
Kedua : KEBAJIKAN . Kebajikan Keluarga Kudus Nazaret memberikan peng­hayatan kepada kita suatu sikap peduli ter­hadap sesama, tekun berdoa dan berkarya, penuh maaf kepada orang yang bersalah, mampu mewujudkan iman dalam perbuatan dan pewarta sabda yang gigih.
Ketiga : KESETIAAN. Kesetiaan dalam Keluarga Kudus Nazaret ditunjukkan oleh Bunda Maria siap menjalankan ke­hendak Tuhan. Kesetiaan ditunjukkan pula oleh Santo Yusup yang berkenan untuk menikahi Maria dengan tulus hati dan oleh Yesus yang memenuhi permintaan Maria dengan mengubah air menjadi anggur walau belum saatnya. Nilai –nilai rohani yang dapat kita petik dan kita dalami, yaitu adanya sikap saling mengasihi diantara anggota keluarga, sikap menjaga keharmo­nisan keluarga, sikap rela berkorban dan saling menghargai.
Sebagai akhir kata, semoga Tuhan kita Yesus Kristus selalu menyertai dalam hidup kita, agar semua keluarga Katolik hidup dalam kesatuan Kasih Kristus.***

Filed Under: Berita

Comments

No Comments

Leave a reply

You must be logged in to post a comment.