Generasi Muda, Bukan Obyek Pewartaan

Tapi, slow down baby, tidak usah buru buru kebakaran jenggot dan menuduh bahwa itu pertanyaan yang berbau bidaah dari aliran sesat. Atau buru buru meng¬hindar dengan mengatakan, Ah, pertanya¬an semacam itu sudah ada sejak dulu. Itu kan tidak menjawab pertanyaan, dan secara tidak langsung mengatakan bahwa kita tidak menguasai masalah. Harap diingat bahwa pertanyaan tersebut amat menggelitik minat komunitas generasi muda kita (mudah-mudahan generasi muda Sragen tidak sekritis itu ). Dan harap diingat pula, bahwa komunitas mereka bukanlah orang orang bodoh yang keting¬galan jaman. Juga harap diingat pula, bahwa merekalah yang kita harapkan menjadi generasi penerus Gereja Katolik. Berarti mereka adalah wajah Gereja kita dimasa yang akan datang. Seburuk itukah wajah Gereja kita dimasa yang akan datang? Mungkin tidak. Tapi untuk gambaran, marilah kita menengok sebentar keadaan pemeluk agama agama di Kabupaten Sragen ini dalam angka angka :

No. Pemeluk Agama Th 2003 Th 2004 Th2005
1 Islam 859.850 865.353 870.264
2 Hindu 1.198 1.214 1.293
3 Kristen Protestan 8.900 8.795 8.582
4 Katolik 7.566 7.216 6.383

Anda kaget? Dalam kurun waktu 2 tahun saja umat kita turun 15,63 %. dan diantara 4 agama besar di Kabupaten Sragen yang turun populasinya adalah pengikut Kristus Jesus! Ada apa gerangan? Dimana letak kesalahannya? Mungkin ada sesuatu yang salah kita kerjakan. Atau mungkin jumlah tempat ibadah kita kurang memadai dibanding dengan jumlah umat sehingga banyak umat yang “ketriwal”/tidak mendapat perhatian. Sebagai gambaran, di tahun 2005 tersebut, ratio jumlah tempat ibadah dibanding jumlah umat di Indonesia adalah sebagai berikut :
No. Agama Ratio tempat ibadah dibanding umat

1. Islam 1 : 930 ( tidak termasuk mushola dan langgar )
2. Hindu 1 : 188
3. Kristen Protestan 1 : 521
4. Katolik 1 : 1.141

Kaget lagi kan? (Tapi untuk data ini saya akan kupas lain kali saja, supaya tidak nglantur) Atau misalnya saja, ini hanya misal lho. Karena rutinitas kita, kita lupa bahwa sejak 2 tahun yang lalu kita sudah berubah. Bukan lagi Gereja Katolik Indonesia, tetapi Gereja Roma Katolik di Indonesia. Konsekwensinya, kita harus berkiblat ke Roma/Vatikan, sedapat mungkin 100 %.. Padahal kita tahu betul bahwa seturut Konsili Vatikan II dipertegas bahwa kita bukanlah domba, tetapi Kita Adalah Gereja (bandingkan dengan Yoh.15:15). Jadi pengertiannya, dalam pembinaan umat maupun generasi muda, teologi yang digunakan mestinya bukan lagi teologi gembala domba, tetapi teologi tentang komunitas basis, dimana umat bukan lagi sebagai obyek pewartaan (sebagai domba), tetapi umat sebagai subyek pewartaan. (sebagai sahabat). Sekali lagi ini hanya misal lho, bukan nuduh.
Menarik sekali bahwa dalam suratnya kepada kita tertanggal 5/6 Januari 2008, Romo Uskup Ignatius Suharyo tidak sekalipun menyebut kita sebagai domba, tetapi sebagai sahabat. Contohnya:

1.……………. Bersama para majus, kita ingin bersuka cita karena boleh datang kepada Yesus, menjadi sahabat Nya, serta ……………………. dst.
2.……………. Mereka diundang untuk merasakan sukacita berjumpa dan mengenal Yesus, menjadi sahabat-sahabat Nya yang terlibat ………. dst.

Jadi jelas bahwa Keuskupan Agung Semarang sudah memakai habitus (baru), tidak lagi memakai teologi gembala domba, tetapi teologi tentang komunitas basis. (HABITUS, menurut Romo Ignatius Suharyo Pr. dalam terjemahan buku A CONCISE DICTIONARY OF THEOLOGY adalah: Perubahan yang terjadi pada diri kita, dan menghasilkan pola tetap dalam tingkah laku. Baik atau buruk !)
Sudah barang tentu dalam pembinaan/pemberdayaan generasi muda, kita harus merubah paradigma kita, bahwa generasi muda bukanlah obyek, tetapi subyek pewartaan.
Jadi kalau kita bertanya pada diri kita, pertanyaannya bukan mengapa mereka tidak berminat pada Gereja, tapi mengapa Gereja tidak bisa menarik minat mereka ? Padahal Gereja, khususnya Paroki Sragen sudah berbuat banyak. Misalnya dengan membuka situs di dunia maya/internet. Tapi berapa banyak pengunjung yang mengaksesnya setiap hari? Mengapa tidak sebanyak pengunjung situs Jaringan Islam Liberal ( punyanya Ulil ), misalnya. Atau situs yang memuat fotonya Bucil (Bunga Citra Lestari )? Atau situsnya Dan Brown terutama mengenai bukunya DVC (The Da Vinci Code) atau Angel and Demon? Jawabnya kan mudah sekali. Mereka menyuguhkan apa yang diminati oleh pengunjung situs, sedang situs kita menyuguhkan apa yang diminati oleh pengelola. Jadi mudah diterka, bahwa pewartaan kita masih bersifat evangelisasi (menggurui), bukannya diskusi (mencari yang benar ). Akibatnya tentu saja kita menjadi gagap bila dihadapkan dengan pertanyaan pertanyaan seperti pada pembukaan tulisan ini. Jika kita tidak mau /malas untuk menambah wawasan/pengetahuan antara lain dengan cara membaca, atau belajar Tehnologi Informasi, misal¬nya. Dan ini makin menjerumuskan kita ke alam pikiran fundamentalisme. Karena menurut Romo Tom Jacob S.J, fundamentalis adalah orang orang yang malas untuk berpikir. Padahal kita diciptakan Tuhan sebagai makhluk berpikir. (Kalau nggak percaya, tanya aja ama beliau di Paroki Kota Baru Jogja sana ). Jadi saya setuju sekali dengan Romo Kendar, bahwa kita harus banyak membaca, sekali lagi membaca untuk menambah pengetahuan, wawasan, iman dan menambah kecerdasan ( bukankah Sragen adalah SMART REGENCY?) Dengan demikian kita tahu persis apa dan bagaimana cara memberdayakan generasi muda kita dan paling tidak kita tidak keder dengan per¬tanyaan yang berbau “bidaah” seperti di atas tadi. Lha wong jelas jelas pada tahun 2006 para ahli arkeologi yang disponsori oleh antara lain The Discovery Channel sudah menemukan dan membuktikan adanya osuarium (peti mati dari batu) dari Yosef, Maria, Mateus, Maria Magdalena dll. di Talpiot (dekat kota Yerusalem) kok dibilang Jesus itu merupakan konflasi dari mitos manusia pagan. Kesiaaaaaan deh lu!
He … he … he …..***

Referensi : – The Jesus Family Tomb – Simcha Jacobovici & Charles Pellegrino’ A Concise Dictionary of Theology
(Terjemahan oleh Ign. Suharyo Pr)
? Pusat Informasi Keagamaan Departemen Agama Republik Indonesia
? Departemen Agama Kabupaten Sragen
? Harian Kompas (tanggalnya lupa lho !)
? Majalah Lentera No.01 Tahun XXVII Januari 2008;
? Situs http://www.paroki-sragen.or.id;
? Situs situs Internet lain yang diakses via google & yahoo

Related Posts

  • 91
    Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) Saudari-saudara terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda. Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di…
    Tags: yang, dan, kita
  • 86
    PESAN NATAL BERSAMA PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI) DAN KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) Tahun2016 "HARI INI TELAH LAHIR BAGIMU JURUSELAMAT, YAITU KRISTUS, TUHAN, DI KOTA DAUD" (Lukas 2:ll)   Saudari-Saudara umat Kristiani di Indonesia, Setiap merayakan Natal hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita. Allah berkenan turun ke dunia, masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan kita.…
    Tags: kita, dan, yang
  • 83
    Era yang sudah-sudah, barangkali era-nya kakek-nenek, atau bapak-ibu kita, atau bahkan, diantara kita masih ada yang mengalami, kalau hendak berkirim kabar, atau terlibat dalam sebuah pembicaraan, santai atau serius; kita mesti berhadapan-muka, face to face, mesti ada dalam sebuah perjumpaan, atau, kalau terbentang jarak yang jauh, telepon atau telegram, jadi sarana yang dipilih untuk mengabarkan…
    Tags: kita, yang, dan, tidak