PASKAH : Kematian dan Kebangkitan

Alkitab menegaskan Andai kata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah juga kepercayaan kamu (1 Korintus 15:14). Kebangkitan Kristus adalah wujud keterlibatan Allah kepada manusia yang mengakhiri kuasa kematian dan meng­ganti­kannya dengan kuasa kehidupan. Injil Yohannes mengungkapkan peristiwa itu dengan menegaskan kata-kata Yesus: Akulah kebangkitan dan hidup, barang siapa percaya kepada-Ku ia akan hidup walaupun ia sudah mati (Yohanes 11:25).
Hari kematian Yesus di kayu salib, yang dalam ruang lingkup gereja di­peringati sebagai Hari Jumat Agung me­miliki makna yang amat dalam dan mendasar, khususnya bagi umat kristiani. Hari Jumat Agung yang tahun ini jatuh pada 23 Maret 2008 diperingati oleh gereja-gereja di seluruh dunia dengan penye­lenggaraan Perjamuan Kudus yang di dalamnya warga gereja yang telah dewasa dan mengaku percaya memakan roti (simbol dari tubuh Yesus) dan meneguk anggur (simbol dari darah Yesus) yang diberikan oleh gereja pada saat upacara Perjamuan Kudus itu. Dengan memakan roti dan minum anggur itu warga gereja melibatkan diri dengan yang mati dan bangkit serta melalui itu pula mereka mendapat kekuatan baru dan dikuduskan untuk mampu bergumul di tengah-tengah pergulatan dunia dengan aneka cobaan dan tantangan. Alkitab mendeskripsikan dengan amat jelas dan lugas kesengsaraan yang dialami Yesus hingga saat-saat kematiannya.
Dari pengungkapan Alkitab, kematian Yesus di kayu salib bukanlah sesuatu yang tiba-tiba saja terjadi. Jalan sengsara dan kematian adalah sesuatu yang memang menjadi alternatif yang dipilih oleh Yesus sendiri, dan bayangan seperti itu telah sejak awal ia nyatakan. Itulah sebabnya Yesus menolak dengan tegas ketika murid-murid berupaya untuk mengurung Yesus dalam tenda di gunung kemuliaan (Matius 17:1-13), dan justru turun dan meninggalkan gunung itu untuk menempuh penderitaan di Yerusalem. Beberapa kali murid-murid diberi tahu oleh Yesus bahwa ia harus pergi ke Yerusalem dan meminum cawan penderitaan di kota itu (Markus 8:31, dst). Ia konsisten dengan misi-Nya, ia tidak lari dari penderitaan. Ia datang menyongsong bahkan merangkul penderitaan, betapa pun getir dan pahitnya karena ia memiliki komitmen untuk itu.
Sinisme, hujatan, dan cemooh dari banyak orang mewarnai saat Yesus menderita di kayu salib. Mahkota duri ditaruh di atas kepala-Nya, sebatang buluh diletak­kan pada tangan kanan-Nya, lalu orang-orang mengejek Yesus, meludahi-Nya dan memukul kepala Yesus dengan buluh (Matius 27:29-31).
Penderitaan dan kesengsaraan Yesus lengkaplah ketika orang-orang yang lewat di sekitar salib itu mengejek Dia: Jika Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu! Orang lain diselamakan tetapi diri sendiri tak dapat Ia selamatkan (Lukas 23:35 dan seterusnya).
Yesus tidak menyerah kalah oleh sinisme, cemooh, dan hujatan. Ia tegar dan konsisten. Pilihannya tidak berubah, jalan kematian mesti ditempuh, supaya manusia mengalami perspektif masa depan. Kematian Yesus adalah kematian yang real dan faktual, bukan maya dan hanya ada dalam dunia ide. Ia merasakan kesepian dan kesendirian ketika berhadapan dengan kematian, sehingga kemanusiaan-Nya mengaduh; Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Matius 27:46).
Kematian Yesus menginspirasikan beberapa hal kepada kita yang tengah menghidupi kekinian dunia. Pertama, Yesus mengajarkan bahwa keberpihakan terhadap manusia dan komitmen untuk memberi perspektif masa depan baru bagi manusia adalah segala-galanya. Keber­pihakan dan komitmen itu tidak berhenti pada slogan, jargon, dan program, tetapi sesuatu yang real dan operasional, sesuatu yang bersifat action. Walaupun untuk mewujudkannya kita mesti menderita, harus kehilangan segala-galanya, bahkan kehilangan diri sendiri.
Kedua, Yesus tidak sekadar men–jadi guru yang menunjukkan dan mengajar­kan sesuatu tetapi Ia sekaligus menjalani dan mempraktikkan apa yang Ia ajarkan itu. Tidak ada ambivalensi dan dikotomi antara perkataan dan tindakan Yesus, keduanya bersifat integral dan menyatu. Apa yang Ia ajarkan, itu juga yang Ia lakukan.
Ketiga, peristiwa Jumat Agung menginspirasikan kepada kita bahwa Yesus concern dengan seluruh umat manusia tanpa mempertimbangkan kesiapaan manusia itu. Yesus benar-benar mempraktikkan sikap hidup inklusif di tengah-tengah perjalanan pelayanan -Nya. Kematian-Nya di kayu salib terarah bagi semua umat manusia, bukan hanya untuk sekelompok orang. Sikap inklusif seperti ini harus menjadi nada dasar serta gaya hidup gereja-gereja bahkan masyarakat dan bangsa di dalam masyarakat majemuk Indonesia. Dalam semangat inklusif itulah kita berjuang terus membangun rumah besar Indonesia yang di dalamnya semua orang dari berbagai suku, agama, etnik, dan golongan dapat tinggal bersama dengan penuh persaudaraan dan saling menghargai, tanpa rasa takut, curiga, dan waswas.
Keagungan Jumat Agung terletak pada kemauan dan kemampuan kita sebagai umat kristiani Indonesia untuk meneladani kerelaan Yesus dalam mereguk anggur penderitaan, bukan untuk kepentingan diri sendiri golongan/ kelompok sendiri, tetapi untuk orang lain, untuk sesama manusia. Keagungan Jumat Agung akan banyak tergantung pada kesediaan kita sebagai warga gereja untuk mempersembahkan yang terbaik bagi bangsa dalam penuh ketaatan kepada Yesus Kristus yang tersalib itu.
Jumat Agung dan Paskah adalah tanda solidaritas serta pengorbanan Allah bagi pemulihan harkat-martabat manusia. Gereja yang ber-Paskah adalah gereja dan kekristenan yang menyatakan solidaritas­nya bagi masyarakat dan bangsa yang tengah menapaki jalan penderitaan. Bukan Gereja yang ter­alienasi dari degup per­gumulan bangsanya, gereja yang introvert dan menghabiskan waktu dan energi untuk kepentingan diri sendiri.
Sumber : http://www.glorianet.org

Be the first to comment on "PASKAH : Kematian dan Kebangkitan"

Leave a comment