Pesan Pra-Paskah: Lingkungan Hidup

Apakah ini hanya keganasan alam atau merupakan konsekuensi dari kesera-kahan manusia? Jawabannya jelas. Alam memang marah pada tindak-tanduk manusia yang tidak memperhatikan kelangsungan ciptaan Tuhan. Kapasitas daya cipta manusia digunakan untuk merusak karya Tuhan tersebut. Pem­bangunan tanpa mematuhi ketentuan yang bersahabat dengan lingkungan, seperti batasan keserasian antara guna lahan, penyediaan perlengkapan sistem drainase yang tepat dan sumur resapan, dan pengabaian persyaratan pembangunan dalam daerah aliran sungai.

Mengatasi Pemanasan Global
Konferensi Pemantauan Global di Bali mengusulkan berbagai langkah untuk mengerem peningkatan gas buang karbon-dioksida (CO2). Pengendalian gas perusak lapisan ozon CFC kelihatannya cukup berhasil dilakukan. Tetapi pengurangan gas buang CO2 sungguh sulit. Faktor penghambatnya adalah egoisme manusia yang mengabaikan kepentingan sesama makhluk, baik yang hidup saat ini maupun generasi mendatang. Salah satu faktor vital ialah penggunaan transportasi individual, satu dari sumber emisi CO2, serta kemacetan.
Kemajuan manusia dalam bidang teknologi ternyata ada yang berlawanan dengan kebutuhan pengelolaan lingkung-an. Perubahan teknologi memperpendek daur hidup banyak produk. Situasi sektor riil demikian mempunyai efek finansiil, yang berakibat pada pengalihan investasi pada jangka panjang ke jangka pendek. Alasannya terkait dengan ketakutan atas munculnya produk substitusi pada produk dari proyek yang akan didanai. Kenaikan signifikan volume investasi jangka pendek global seolah-olah merupakan sambutan hangat terhadap pendekatan siklus produk, product life cycle. Situasi pasar finansiil ini bersifat dissuasif terhadap investasi lingkungan hidup, yang mempunyai jangka waktu pengembalian lebih lama daripada produk biasa.
Manfaat investasi penanggulangan degradasi lingkungan hidup akan diperoleh dalam jangka panjang. Investasi tersebut tidak bersifat quick yielding sesuai sifat tamak manusia yang ingin mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya pada jangka pendek. Akibatnya banyak dari keuntungan rekayasa finansiil tidak mempunyai imbalan produk riil.
Sektor finansiil bukan lagi fasilitator sektor riil. Tetapi, menjadi sumber peng­hasilan tanpa peningkatan produk riil. Tendensi para para investor pada investasi jangka pendek beserta peningkatan daya beli hasil rekayasa finansiil tanpa imbalan produk riil memicu peningkatan suku bunga relatif pada investasi, terutama jangka panjang. Hal itu menjadi kendala besar dalam investasi lingkungan hidup. Ini tidak lain daripada egoisme generasi.
Pengalihan kemampuan rekayasa sektor riil kepada sektor finansiil sangat spektakuler, seperti pemindahan risiko aset-aset perbankan ke pihak lain. Hal itu berdampak pada peningkatan jumlah kredit yang jauh lebih besar daripada yang seharusnya, menurut modal dan jumlah dana pihak ketiga dalam bank. Ini terjadi pada tingkat global dan praktik tersebut pasti akan menjalar ke dalam negeri, bila tidak dikontrol. Kelayakan produk finansiil tidak mempertimbangkan efeknya pada investasi jangka panjang. Seperti jatuh ditimpa tangga, usaha penanggulangan semua efek pemanasan global berlangsung dengan amat lambat. Solusi teknologinya sebagian telah tersedia. Tetapi belum dilakukan sebagai akibat ketidaktahuan atau karena vested interest kelompok tertentu pada sistem sekarang.

Apa Yang Harus Dilakukan
Lingkungan finansiil global yang bias anti investasi jangka panjang seperti untuk proyek lingkungan hidup, diperparah oleh ketidakpatuhan masya-rakat dan pemerintah Indonesia pada persyaratan pembangunan berkelanjutan. Pembangunan wilayah dan kota sungguh banyak melawan tuntutan itu. Pembabatan hutan yang meluas, pengelolaan daerah aliran sungai yang tidak tepat, ketiadaan angkutan kota yang handal dan murah serta terpercaya, perencanaan kota yang amburadul, sistem ekonomi dan finansiil liberal dalam globalisasi yang tanpa penyesuaian lokal, adalah sebagian dari faktor yang tidak kondusif terhadap pembangunan lingkungan hidup yang tepat.
Pada tingkat individu dan keluarga banyak yang dapat dilakukan. Pembuatan sumur resapan tiap rumah, daur ulang air, penghematan listrik, transportasi, kultur membuang sampah pada tempatnya merupakan beberapa tindakan akar rumput dengan dampak agregat besar. Ungkpan menjalin sadar lingkungan sebagai bagian dari iman sungguh tepat, yang berarti manusia memelihara ciptaan Tuhan .***

Sumber:
Majalah HIDUP Edisi Februari 2008

Be the first to comment on "Pesan Pra-Paskah: Lingkungan Hidup"

Leave a comment