Wedangan Patimura 2 April: CERDAS MENDIDIK ANAK

Acara yang sedianya dimulai pukul 18.00 wib, mundur satu jam karena turun hujan yang sangat lebat, sampai tenda yang dibuat panitia harus dibongkar lagi karena tidak mampu menahan curah hujan yang deras sekali. Beralaskan tikar dan beratapkan langit, akhirnya jadi juga acara ini digelar dihalaman gereja, setelah hujan reda. Dengan iringan orgen dan nyanyian ”Engkau Selalu Ada” dari anak –anak PIA, acara dibuka dengan doa oleh moderator.

Sebagai pembicara pertama, Mbak Naomi menyampaikan materi tentang bagaimana memahami masa kanak- kanak dan menanamkan konsep diri yang positif pada anak, serta pola pengasuhan yang efektif bagi anak usia balita sampai remaja. Bagi balita, yang paling berperan dalam pembentukan karakter dan konsep diri anak, adalah orangtua, baik ibu maupun bapak, serta lingkungan tempat tinggal. Anak yang belum dapat berbicara dapat melihat dan merasakan komunikasi, jika ada yang mengajak berbicara dan menyentuhnya dengan kasih sayang. Karena karakter setiap anak itu berbeda, maka diperlukan perlakuan yang berbeda pula antara anak- anak dalam satu keluarga. Ada beberapa macam kecerdasan yang dimiliki oleh tiap anak, misalnya: cerdas Bahasa, cerdas menggambar, cerdas musik, Cerdas Saint atau ilmu pengetahuan, Cerdas spiritual, dll.
Setelah mendengar paparan Mbak Naomi, ada beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta, antara lain dari Bp. Joko Susilo yang menanyakan tentang Pola pengasuhan yang berbeda antara Bapak dan Ibu, bapak lebih sabar dibandingkan ibu si anak. Juga dari Bp. Joni Ismanto yang bertanya mengenai pengaruh musik pada anak usia 0-2 tahun. Semua pertanyaan ditanggapi dan dijawab dengan baik oleh Mbak Naomi.

Sebelum masuk ke sesion kedua, diberikan doorprice bagi beserta wedangan, dimana pertanyaannya adalah seputar Kitab Suci, dilanjutkan dengan lagu ”Bagaikan Rajawali” yang dinyanyikan oleh Brigitta Anisa Putri, siswi kelas 3 SD Santo Fransiskus Sragen, dan diiringi oleh Fransiska Ajeng Dwi Ayuningsih siswi kelas 5 SD N Sragen IV. Anak-anak memang diberi kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat dan kemampuannya, juga dihadirkan dalam setiap kesempatan bersama orangtua agar keterlibatan mereka, juga didukung oleh keluarga.

Sebagai Pembicara kedua, Ibu Indri, memberikan contoh dari keluarganya sendiri, dimana kedua putrinya sudah mulai beranjak remaja. Pola pendampingan yang kadang kurang pas pada anak dapat membuat anak merasa bingung dengan sikap orangtua yang tidak jelas. Anak sering berkegiatan keluar, ditegur ibu, sebaliknya jika tidak pernah aktif di gereja dan masyarakat, juga ditegur ibu. Bingung nih!!!!! Maunya ibu itu apa sih ?????
Yang menarik dari Ibu Indri adalah cara berkomunikasi antara keluarga, dimana anak kadang takut kepada bapak atau ibunya. Pertanyaan dari Bp. Andreas Djumali, seputar anak-anaknya yang mulai berkurang aktifitasnya di gereja, karena merasa sudah besar atau kurang pas dengan wadah dan paguyuban yang ada, misalnya; dia merasa terlalu besar untuk masuk PIA, atau merasa sudah bukan remaja lagi, jadi lebih baik tinggal di rumah saja, dan belajar. Selain itu, Bp. Budi dari Gawan, juga sharing tentang anak-anaknya yang jarang kegiatan keluar karena lingkungan yang kurang baik. Rupanya tema kali ini sungguh pas dengan kondisi dan situasi di lingkungan dan keluarga masa kini. Ibu Marcia Rukmini Suseno bertanya, ” Bagaimana cara menegur anak agar mereka mau mengerti apa yang dikehendaki orangtua, tanpa harus menyakiti perasaan anak-anaknya.” dan Ibu Yanti Mudo juga menanyakan, bagaimana cara atau pola pengasuhan bagi kedua anaknya yang sekolah dan duduk di kelas yang sama. Dalam hal ini yang menjawab adalah Bp. Poedarwanto, yang menyatakan bahwa anak-anak harus selalu didampingi dan dimengerti dunianya. Orangtua tidak boleh memaksakan kehendaknya pada anak, tetapi memberi kesempatan pada anak untuk berpendapat dan belajar bertanggungjawab pada pilihan-pilihan yang diambil. Tanggapan lain juga ada dari Tim Wedangan.
Anak tidak akan mendengar, tetapi meniru apa yang dibuat oleh orang dewasa, begitu kata Mas Fajar selaku Ketua Tim Wedangan.

Menarik sekali untuk terus didiskusikan bersama, tetapi waktu yang semakin malam, memaksa moderator untuk mengingatkan bahwa anak-anak, besok masih harus masuk sekolah dan belajar, untuk itu diakhir pembicaraan, ibu Rosa mengingatkan pada orangtua, untuk membiasakan diri dengan litani malaikat pelindung dan berkata yang baik, agar anak-anak dapat juga meniru yang baik, sehingga kata-kata yang kurang baik sedapat mungkin dihindarkan dari pendengaran anak-anak, sehingga anak dapat bertumbuh dalam keluarga yang saling mengasihi.Berkat Tuhan memampukan kita dalam mendampingi dan mendidik buah hati kita dengan cerdas dan beriman. Berkah Dalem (Mbok-é PIA)

Related Posts

  • 79
    (23 Oktober 2016) GEREJA MISIONER, SAKSI KERAHIMAN Saudara dan saudari terkasih, Yubileum Agung Kerahiman, yang sedang kita rayakan, memberikan cahaya terang bagi Hari Minggu Misi Sedunia 2016: Ia mengajak kita untuk merenungkan misi ad gentes sebagai misi besar melalui karya kerahiman, baik rohani dan jasmani. Pada Hari Minggu Misi Sedunia ini, kita semua diundang untuk…
    Tags: dan, yang, dengan
  • 78
    Salam damai Kristus,... Seandainya kita mengikuti perayaan Ekaristi Kudus dari awal sampai akhir, namun tanpa kehadiran kidung-kidung pujian, tanpa alunan musik, iringan gending, serta lagu-lagu yang mengiringi rangkaian upacara yang penting dan sakral itu, kira-kira apa yang dapat kita rasakan? Sudah barang tentu kita merasakan ada “sesuatu yang hilang” , semuanya jadi terasa kurang, tak…
    Tags: yang, dan, dengan, ibu
  • 76
      Pendahuluan Anak adalah pewaris dan sekaligus sebagai generasi pelangsung cita-cita perjuangan keluarga, gereja dan bangsa. Anak perlu dipersiapkan demi kelangsungan eksistensi keluarga, gereja, bangsa dan negara di masa mendatang dan agar dapat tumbuh dan berkembang dengan sebaik-baiknya sehingga menjadi generasi yang beriman, jujur, disiplin, cerdas, sehat secara fisik dan mental, maupun sosial-emosionalnya. Untuk mencapai…
    Tags: dan, anak, yang