Dialog Kaum Muda – Tokoh Umat: Bergerak Dengan Penuh Syukur sbg Kaum Muda Yang Kritis & Militan

Pada kesempatan itu Romo Alip mengajak peserta yang hadir belajar dari ARDAS KAS 2006-2010 dan draf Nota Pastoral 2009 tentang fokus pastoral kaum muda. Dikatakan bahwa Gereja memberi tempat dan menaruh harapan yang berarti pada orang muda karena mereka adalah pribadi-pribadi yang selalu dinamis dan belajar untuk mengetahui, berbuat, menjadi diri sendiri dan untuk hidup bersama. Masa seperti itulah yang seringkali diistilahkan bahwa masa muda adalah “teachable moment”, yaitu masa yang paling baik untuk mendapatkan pendidikan. Karena itu Gereja pun mempunyai kewajiban untuk mendampingi dan mendidik orang muda supaya mampu mengarungi masanya dengan baik.

Gereja dibangun dan ditumbuhkan oleh orang-orang muda. Yesus sang pokok iman kita adalah pribadi muda. Kita ingat Yesus memulai karyanya pada usia 30 tahun. Aneka macam kegiatan dan langkah kehidupan orang muda di Gereja merupakan jantung hati gereja dan membuat denyut kehidupan Gereja semakin terasa. Kaum muda menjadi orang yang dinamis dan senantiasa belajar

Dalam konteks seperti ini Nota Pastoral tahun 2009 ini mengajak kita semua, dan orang muda pada khususnya, untuk bangkit dan terlibat aktif dalam sejarah dunia sekaligus membawanya pada perwujudan Kerajaan Allah yang memerdekakan. Di sini kita akan diantar untuk merefleksikan kembali siapa orang muda, bagaimana realitas yang dihadapi, meneladan Paulus menyikapi dunia, apa yang bisa dilakukan bagi dan oleh orang muda serta sapaan-sapaan pada para muda maupun pemerhati orang muda.

Sedangkan dari Tim Kerja Kepemudaan Dewan Paroki Sragen, Sdr. Leo Widiarto pada kesempatan itu menyampaikan dialog dan sharing menuju tahun kaum muda 2009. Hendaknya dengan banyaknya aneka paguyuban kaum muda akan memperkaya dan mewarnai gereja. Antar paguyuban bisa saling berjejaring, dan tidak menjadi ekslusif pada kelompoknya masing-masing. Ia bekerjasama dengan para pengurus Mudika telah membuat angket/shampling kepada 40 responden kaum muda yang tersebar di seluruh lingkungan dan paguyuban. Pertanyaannya pun bervariasi, mulai dari ekaristi, pengetahuan dunia internet, peristiwa aktual yang terjadi di negara ini baik sosial politik, pengetahuan tentang kegiatan paroki sampai pada keahlian yang dimiliki para kaum muda.

Dari angket/sampling tersebut akhirnya bisa dirumuskan bahwa pemahaman kaum muda katolik tentang ekaristi sangat kurang, kaum muda punya potensi, kurang peduli pada perkembangan paroki, kurang kritis terhadap masalah eksternal sosial politik, kurang tertarik terhadap kegiatan lingkungan, kurang kooordinasi (terjadi spoty activity di lingkungan, wilayah, paroki), tergantung adanya penggerak, kaderisasi kurang lancar, kurang perhatian dan dukungan dari Orang tua, jenjang usia yang dominan dan adanya idealisme kaum muda, lebih suka mencari kebebasan dan kesenangan, adanya sekat karena adanya perbedaan usia dan kondisi kurang mendukung (geografis, pendidikan)

Pada tema acara ini :” Bergerak Dengan Penuh Syukur Sebagai Kaum Muda Yang Kritis dan Militan” terdapat 5 kata kunci. Yakni: bergerak, penuh syukur, sebagai, kritis dan militan. Masing-masing kata mempunyai makna yang luas untuk mengugah kaum Katolik.

Berdasarkan angket/sampling dan diskusi kelompok yang diadakan pada acara itu (sebelumnya peserta dibagi menjadi 12 kelompok, masing-masing kelompok ada unsur kaum tua dan kaum muda) tersebut juga dibuat analisa SWOT, yakni:

Strenght (Kekuatan)
1. Banyak tersedia aneka paguyuban kaum muda
2. Secara kualitas, berpotensi, berpendidikan
3. Secara kuantitas, jumlah cukup banyak
4. Heterogen
5. Kreatif
6. Dalam kondisi tertentu, sangat bersemangat
7. Kekompakan
8. Komunikasi baik
9. Dalam kepengurusan Dewan Paroki ada bidang kepemudaan
10. Mau belajar
11. Refleksi bersama, doa bersama rutin, saling mendukung antara satu dengan yang lain

Weakness (kelemahan)
1. Tergantung penggerak (tokoh)
2. Spoty Activity (lemah koordinasi)
3. Kurang peduli (greget) terhadap masalah gereja, sosial-politik Pengetahuan iman yang kurang sehingga kurang menghayati ekaristi
4. Kondisi geografis
5. Banyaknya tugas-tugas Sekolah, kurang tanggung jawab terhadap tugas-tugas sekolah, pengaturan waktu
6. Kurang dukungan orang tua (batasan dari ortu, ortu cuek dengan anak (iii
7. Kurang tanggung jawab terhadap gereja dan sekolah
8. Kondisi psikologi Kaum Muda minder kuper, merasa tidak diajak, mutungan, kurang sadar males
9. Beberapa aktivis berlagak inklusif dengan gaya hidup mewah, yang ekonomi lemah merasa minder
10. Proporsi kunjungan pengurus Mudika ke Lingkungan yang sangat kurang
11. munculnya Geto-geto, GAP
12. Kurang masalah dana
13. Kurang kesadaran/malas melakukan kegiatan bersama Orang tua
14. Mementingkan kepentingan pribadi, kelompok
15. Pemahaman bahwa Kaum Muda masih menganggap Perayaan Ekaristi Lingkungan sebagai kegiatan orang tua
16. Pemahaman dan pengarahan orang tua tentang Ekaristi Kurang
17. Kurang sosialisasi untuk program-program kerja
18. Kurang terlibat dalam mencari informasi

Opportunity (peluang)
1. Dukungan Dewan Paroki, Kevikepan, Keuskupan, orang tua
2. Link dengan paroki lain
3. Akses ke pemerintah daerah
4. Sarana dan prasarana yang semakin mendukung
5. Sarana komunikasi dan Transportasi
6. Link dengan komunitas mahasiswa lain
7. adanya pelatihan Kewirausahaan
8. Ada website paroki
9. Ada pedoman lingkungan
10. Ada buku Sejarah Paroki, Kenangan Pesta Emas

Treath (Ancaman)
1. Tarikan dari keyakinan lain di luar gereja katolik
2. Gerakan luar gereja yang semakin gencar
3. Aneka hiburan
4. Life Style (gaya hidup)
5. Orang tua kurang bisa menjadi teladan
6. Pindah agama karena Jodoh yang beda agama
7. Lingkup pergaulan dan pekerjaan yang luas

Setelah menganalisa SWOT, akhirnya para peserta diajak membuat program kerja selama tahun 2009 yang berfokus pastoral kaum muda sesuai dengan yang dicanangkan oleh Keuskupan Agung Semarang yakni Tahun 2009 adalah tahun Kaum Muda. (dn)

Be the first to comment on "Dialog Kaum Muda – Tokoh Umat: Bergerak Dengan Penuh Syukur sbg Kaum Muda Yang Kritis & Militan"

Leave a comment