Sejarah Rosario

Kata Rosario ditemukan pertama kali dalam tulisan tahun 1327. Rosarium artinya taman mawar. Maria adalah simbol kecantikan, bagaikan mawar yang tetap mekar di musim dingin, memancarkan keindahan dari antara duri-duri dan memberikan kesembuhan batin. Kemudian abad XVII rangkaian mazmur Bunda Maria disebut Rosarium atau Rosario. Entah tasbih (rosario) terbuat dari emas atau kayu, atau bahan lain, sudah diberkati oleh imam atau belum, tidak mempengaruhi daya guna doa, karena itu hanyalah sarana untuk menghitung.

Rosario dan Mazmur

Bentuk dan rumusan doa rosario yang kita kenal saat ini merupakan proses sejarah yang sangat panjang. Asal-usul Doa Rosario tidak terlepas dari sejarah panjang kesalehan umat Kristiani. Dalam Alkitab kita mengenal adanya 150 Mazmur yang disebut sebagai Mazmur Daud. Mazmur-mazmur ini menjadi bahan doa yang sudah dipakai umat Yahudi sebelum kelahiran Kristus. Kebiasaan membaca Kitab Suci dan mendoakan Mazmur berlangsung terus di kalangan para rahib dan pertapa. Mereka mengisi hari-harinya dengan doa, meditasi dan membaca Kitab Suci termasuk membaca 150 Mazmur setiap hari. Sekitar tahun 800an para rahib Irlandia membagi mazmur-mazmur itu dalam tiga kelompok lima puluhan yang dikenal dengan istilah na tri coicat (tiga lima puluhan).

Setelah berakhirnya zaman penganiayaan (melalui Edikta Milan tahun 312) kaum awam pun ingin mengadakan doa bersama. Namun sayangnya, tidak semua orang dapat membaca mazmur, karena kebanyakan masih buta huruf. Untuk mengatasi kesulitan tersebut dicarilah bentuk doa populer, singkat dan sederhana agar umat pun dapat berpartisipasi dalan doa bersama. Usaha inilah yang menjadi awal mula pendarasan 150 mazmur menjadi 150 Bapa Kami atau Salam Maria.

Rosario dari abad ke abad

Ke 150 doa Bapa Kami dikenal sebagai ‘mazmur kecil’ atau little psalter. Sebagai alat bantu mereka menggunakan 150 biji-bijian atau kerikil di sakunya, atau membuat simpul-simpul kecil dari tali. Kemudian timbul alat bantu berupa tasbih untuk menghitung jumlah doa mereka.

Sejalan dengan perkembangan devosi kepada bunda Maria, pada abad XI pendarasan 150 doa Bapa Kami diganti dengan 150 Salam Maria. Ke 150 Salam ini dikenal sebagai ‘Mazmur Santa Perawan Maria’ atau Mary’s Psalter. Doa Salam Maria didaraskan berulang-ulang dan dibagi dalam format tiga lima puluhan atau na tri coicat.

Pada abad XII pendarasan Salam Maria dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa hidup Yesus dan Maria. Misal-nya 15 Salam Maria untuk mengenang 15 kegembiraan Maria, 7 Salam Maria untuk mengenang 7 duka Maria, 33 Salam Maria untuk mengenang 33 tahun umur Yesus dan 63 SalamMaria untuk mengenang umur Maria yang konon mencapai 63 tahun.

Pada abad XIV seorang rahib Kartu-sian dari Rhineland bernama Henricus Kalkar mengusulkan pembagian 150 Salam Maria ke dalam tiap dekade (sepuluhan) yang dipisahkan dengan satu Bapa Kami. Biarawan Kartusian menye-barkan metode ini ke Inggris dan dari Inggris menjadi praktek umum di berbagai negara.

Tahun 1470 seorang Dominikan dari daerah Bertagne Perancis bernama Alain de la Roche mendirikan perserikatan doa rosario yang pertama. Perserikatan ini ke-mudian menyebar ke seluruh Eropa dan sangat berjasa dalam usaha mempopu-lerkan kebiasaan berdoa rosario di kalangan umat.

Unsur-Unsur Doa Rosario

Praktek doa rosario di kalangan umat dewasa ini umumnya dibuka dengan Syahadat Para Rasul, tiga Salam Maria untuk menghormati hubungan Bunda Maria dengan Allah Tritunggal lalu dilanjutkan dengan pendarasan peristiwa-peristiwa. Setiap peristiwa terdiri atas satu kali Bapa kami disusul dengan 10 Salam Maria dan ditutup dengan Kemuliaan kepada Allah Tritunggal. Rumusan ini merupakan hasil proses panjang. Syahadat Para Rasul baru dirangkaikan menjadi bagian Rosario pada abad XV. Dikatakan bahwa ke lima puluh Salam Maria bersama Bapa Kami membentuk kalung mawar dan Syahadat Para Rasul merupakan simpai atau pengikatnya.

Bapa Kami merupakan warisan doa dari Yesus sendiri (lihat Lukas 11:1-4). Sedangkan Doa Salam Maria merupakan proses perubahan yang panjang. Bagian pertama berasal dari kata-kata Malaikat Gabriel dalam peristiwa anunsiasi: “Salam hai engkau yang terberkati, Tuhan sertamu.” (Luk1: 28).

Dan ungkapan yang keluar dari mulut Elisabeth, “Terpujilah Engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu.” (Luk 1;42). Dua kalimat biblis ini membentuk doa Salam Maria bagian pertama.

Bagian kedua baru muncul pada abad XIII. Pada masa itu ada kebiasaan untuk menambahkan doa kepada Bunda Maria dalam doa-doa devosi, yaitu berupa seruan yang diulang-ulang: Doakanlah kami.atau ‘Santa Maria Bunda Allah doakanlah kami’. Lama kelamaan seruan ini berkembang menjadi suatu permohonan untuk mendapatkan perlindungan Bunda Maria pada saat ajal tiba, sehingga ru-musannya menjadi: Santa Maria Bunda Allah doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati. Amin.

Peristiwa-peristiwa dalam Rosario

Umat Katolik Indonesia mengenal pembagian Rosario atas peristiwa-peristiwa, yang merupakan terjemahan dari kata Yunani misterion yang berarti realitas rahasia. Demikian pun setiap peristiwa dalam kehidupan Yesus merupakan misteri. Mula-mula terdapat 150 peristiwa, yang kemudian dikurangi menjadi 15 peristiwa. 15 peristiwa itu dibagi dalam tiga lima puluhan untuk merenungkan penjelmaan Yesus menjadi manusia (peristiwa gembira), kesengsaraan dan wafat Yesus (peristiwa sedih) serta kemuliaan Yesus yang bangkit (peristiwa mulia). Kemudian Paus Yohanes Paulus II, melalui surat apostolic Rosarium Virginis Mariae menambah satu lagi misteri yaitu yang berkaitan dengan kehidupan Yesus di depan umum atau peristiwa terang.***

Filed Under: Pastoralia

Comments

No Comments

Leave a reply

You must be logged in to post a comment.