Sudahkah kita Pelihara iman kita ?

Oleh : D. Supardi – Beriman tidak sekedar mengatakan bahwa aku percaya kepada Tuhan. Beriman harus nyata dalam kehidupan bahwa Tuhan beserta kita. Manakah harta hidup yang paling berharga? Mengapa hal ini patut kita pertanyakan? Karena kita sering lupa merawat atau memelihara iman kita. Jika harta kita yang paling berharga adalah iman kita, maka perlulah kita bertanya;”SUDAHKAH KITA PELIHARA IMAN KITA?”

Iman adalah sikap pasrah kepada Tuhan. Mempercayakan diri dalam kuat kuasa-Nya akan menyelamatkan kita. Penyelamatan ini bukan hasil jerih payah manusia semata, tetapi janji Allah sendiri kepada manusia. Keselamatan akan mendorong manusia untuk membalas baik budi Tuhan dan bersyukur kepada-Nya, dengan jalan hidup baik dan selalu setia serta mewujudkan kehendak Tuhan dalam hidup hariannya.

Apa konsekuensinya jika kita mewujudkan kehendak Allah dalam hidup kita?

– Menyangkal diri, artinya ikut serta masuk dalam karya keselamatan yang telah dimulai Yesus dengan melepaskan kepentingan pribadi, tidak memandang gengsi. Bahkan kadang jaminan hidup yang sudah mapanpun dilepaskan kalau memang melawan keselamatan.

– Memikul salib setiap hari, artinya bahwa kita dituntut untuk bersedia menanggung banyak masalah, banyak kesusahan, kekurangan, kesepian, penolakan karena kita mau memberikan keselamatan kepada sesama. Dengan kata lain berani menderita demi terwujudnya keselamatan yang dikehendaki Allah.

Bulan Nopember adalah bulan peringatan arwah semua orang beriman bagi umat Katolik. Timbul pertanyaan dalam hati kita, apakah orang yang sudah meninggal masih membutuhkan bantuan kita?

Marilah kita telusuri adat istiadat dari nenek-moyang kita tentang peringatan arwah bagi keluarga, serta sanak famili yang telah berjalan dalam kurun waktu lama. Kita ambil contoh, peringatan arwah 3 hari, 7 hari, 40 hari,100 hari,1000 hari dll. Peringatan arwah bukan hanya monopoli dari Gereja Katolik saja, melainkan dan hampir pasti doa/ peringatan arwah ini juga milik saudara-saudara kita yang berkeyakinan lain (Islam, Hindu, Budha, Kabangan) juga mempunyai tradisi dan tujuan yang sama, yaitu agar keluarga yang sudah meninggal mendapat pengampunan atas segala dosa yang telah dilakukan semasa hidupnya, sehingga mereka yang kita doakan hidup penuh bahagia bersama Tuhan di dalam surga .

Perlunya mendoakan mereka yang sudah meninggal

Jadi atas pertanyaan, apakah orang yang sudah meninggal masih membutuhkan bantuan kepada kita. Yang masih hidup di dunia ini, khususnya bagi mereka yang masih di dalam api penyucian? Jawabnya adalah “YA”

Kepercayaan bahwa orang yang sudah meninggal membutuhkan bantuan untuk dapat keluar dari api penyucian dapat dibantu melalui perbuatan-perbuatan yang saleh, seperti: doa, indulgensi, derma, puasa, korban dll.

Kita percaya berkat kemurahan dan kasih Allah terhadap jiwa-jiwa dalam api penyucian yang telah dekat dengan Allah, pastilah menggerakkan DIA untuk mempercepat pembebasan mereka dari masa penyucian.

Ada buku kecil dalam “Assist the souls in purgatory” (Pertolongan membersihkan jiwa-jiwa). Ada doa yang sangat sederhana untuk mereka yang berada di api penyucian. Suatu doa yang pendek tetapi sungguh-sungguh dihayati, sering kali lebih besar manfaatnya bagi jiwa-jiwa yang masih malang dari pada suatu bentuk kebaktian yang bertele-tele dimana kurang mendapat perhatian.

Contoh doa pendek:
“Istirahat kekal berikanlah bagi mereka, O Tuhan, dan biarlah cahaya kekal bersinar atas mereka, semoga mereka beristirahat dalam damai. Amin.”

Selagi kita masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan, marilah kita gunakan kesempatan yang sangat berharga ini untuk berbuat baik sesuai dengan kehendak Tuhan, karena kalau kita sudah mati, maka segalanya akan terlambat,dan tidak dapat berbuat apa-apa lagi, selain tunduk dan patuh kepada penghakiman terakhir dari Tuhan. Kesempatan dan kemungkinan yang diberikan Tuhan kepada kita seharusnya kita terima dengan sungguh-sungguh.

Janganlah hidup ini kita jadikan suatu permainan, janganlah kita mengabaikan panggilan untuk bertobat, sebab manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja,dan sesudah itu dihakimi.(Ibrani 9:27).

Banyak contoh-contoh yang diberikan oleh Yesus kepada kita, misalnya:
Dalam hidupNya Yesus sudah menunjukkan bagaimana corak dan warna cinta kasih sejati. Yesus banyak sekali menolong orang lain, namun tidak pernah menolong diri-Nya sendiri. Yesus dapat berbuat demikian, karena Yesus senantiasa mempertanyakan apa yang dibutuhkan orang lain, dan tidak pernah bertanya tentang keperluanNya sendiri.

Begitulah cara Yesus membawa cinta kasih ke dalam dunia yang benar-benar Yesus kasihi itu. Dan Yesus membutuh¬kan kita, agar cinta kasih itu tidak lenyap begitu saja dari muka bumi ini, dan kita diajak untuk menerus¬kan melestarikan cinta kasih kepada sesama kita.

Marilah kita cermati sejenak tentang hidup kita ini, seberapa jauh, seberapa lama hidup kita bisa bertahan, paling lama hidup ini 70 – 100 tahun, kalau kita bandingkan dengan hidup yang kekal, tentu hidup ini sangatlah pendek, sangatlah singkat, dengan waktu yang sangat singkat ini, kita bisa bertanya dalam diri kita masing-masing.

”Apa yang bisa kita perbuat?” Dunia adalah jembatan, lewatilah, tetapi jangan membangun rumah di situ, ia yang berharap selama satu (1) jam, dapat berharap untuk kekekalan, dunia tidak lebih dari satu (1) jam, habiskan waktumu untuk ketaatan, lebih dari itu tidak ada harganya.”

Dunia adalah jembatan, artinya kita harus melewatinya yaitu kematian, jembatan suatu alat perantara dari suatu tempat menuju ke tempat yang lain yaitu dari dunia ini menuju ke hidup yang kekal, maka semua manusia mau atau tidak mau, harus melewatinya.

Lewatilah tetapi jangan membangun rumah di situ, artinya kita hendaknya jangan menyibukkan ke hal-hal yang duniawi sehingga yang mempunyai nilai rohani terabaikan dan akan merugikan bagi perkembangan iman kita.Kita harus melewati jalan yang telah disediakan oleh Tuhan, agar kita tidak tersesat dan hendaklah kita fokus untuk mempersiapkan diri untuk Tuhan.

Ia yang berharap selama satu jam, dapat berharap untuk kekekalan, artinya Tuhan bermurah hati kepada kita yang berbuat baik sesuai dengan kehendak-Nya akan memperoleh karunia yang kekal.

Contoh: Seorang penjahat yang disalibkan bersama Yesus, yang satu bertobat dengan tulus dan saat itu juga Yesus menyelamatkan jiwanya.

Dunia tidak lebih dari satu jam, habiskan untuk ketaatan, artinya hidup ini sangat pendek, sangat singkat. Apa yang bisa lakukan?”Berdoalah dengan sungguh, seakan-akan besok kamu akan mati, agar kita mempunyai persiapan menyongsong kehadiran Tuhan dalam diri kita.Kita berusaha dengan sepenuh hati untuk melakukan kehendak Nya, sehingga kita tidak perlu was-was, takut, karena kita sudah melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Kita siap, kapan saja menyambut kedatangan Tuhan.

Lebih dari itu tidak ada harganya, artinya semuanya akan terlambat bilamana hidup kita hanya didominasi oleh hal-hal yang tidak berguna bagi hidup iman kita, sehingga hidup kita dihadapan Tuhan tidak ada harganya, sia-sia. Semoga renungan ini bermanfaat bagi perkembangan iman kita .Amin ***

Be the first to comment on "Sudahkah kita Pelihara iman kita ?"

Leave a comment