Dari Militansi…, Berani Menjadi Saksi

Oleh: Rm. CT. Wahyono Djati Nugroho, Pr

Belajar dari realitas hidup seorang simbah…..
“Lik Karsa, awan-awan ngene ki arep menyang ngendi?” itulah salah satu cuplikan sapaan seorang warga di perbukitan menoreh. “Arep nyang Greja gene, lha kowe ora menyang po le?” Jawab spontan mbah Karsa putri dengan suara terengah-engah, karena sudah termakan usia.

Mbah karsa adalah sosok warga Katolik di salah satu wilayah Paroki Boro. Orangnya sudah sepuh, dimakan umur. Di rumah sendirian, karna sudah ditinggal suaminya sowan Gusti, dan anak-anak yang sudah mentas alias pergi ngumboro ke kota untuk mengadu nasib. Walau sudah ada bantuan dari anak-anaknya guna mencukupi kebutuhan hidup keseharian, mbah Karsa tidak mau tenguk-tenguk tumpang tali, santai-santai di rumah menikmati hasil jerih payah anak-anaknya. Melainkan dengan sisa-sisa tenaganya beliau masih tetap setia menjalankan aktivitasnya bekerja di ladang. Pengin tahu, moto hidup mbah Karsa yang sudah tuyuk-tuyuk itu? Amat sangat sederhana beliau mengutarakan moto hidupnya: “urip nang donya iku GOGO – GOGO, tegese yo Golek Sego, naging ugo golek Swargo”. Golek sego lumantar nyambut gawe padinan, golek swargo lumantar menyang Gereja lan sembahyang.

Maka tidak mengherankan kalau beliau sering lupa nama cucu-cucunya, tetapi tidak akan pernah lupa acara sembahyangan atau pergi ke Gereja. Sembahyang lan menyang gereja menjadi skala prioritas dalam hidupnya. Karena dengan cara itu beliau bisa mendengarkan Sabdo Pangandiko Dalem Gusti, membangun relasi personal dengan Tuhan dan umat lain. Sabda Tuhan menjadi penerang jalan hidupnya dan menerima sakramen dalam ekaristi menjadi kekuatan baginya untuk menghadapi kesulitan dan tantangan hidup keseharian. “Sanadyan dewekan uripe, nanging kula tetep rumangsa ayem tentrem manunggal ing Gusti”. Demikian ungkapan hati yang pernah terlontar dari lubuk hatinya.

Militansi iman: Sebuah upaya menjadi saksi iman
Bulan September ditetapkan menjadi Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Tema besar BKSN th 2009 yang ditawarkan ”Yakub bergulat dengan Allah dan manusia”, kemudian oleh Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Semarang di kemas dengan ungkapan “Menjadi Saksi iman siapa takut?” Sebuah pembelajaran dari kitab Makabe.

Tema ini tidak pernah lepas dengan membangun niat guna mewujutnyatakan iman yang militan. Salah satu alasan mengangkat tema ini tidak lain karena manusia dihadapkan pada realitas hidup yang kompleks, kehidupan iman zaman sekarang yang semakin di hadapkan dengan tantangan yang berat. Pendek kata manusia dihadapkan dengan suatu pergulatan yang hebat dengan realitas hidup sehari-hari.

Menghadapi situasi zaman yang serba glamor dan syuur ini, kalau tidak hati-hati tentu akan mudah jatuh ke dalam budaya hedonisme, mentalitas hidup mementingkan keduniawian. Dunia yang penuh dengan tawaran dan tantangan yang tidak selalu sejalan dengan nilai iman. Oleh karena itu, iman hendaknya di tumbuh kembangkan, baik secara pribadi maupun dalam kebersaman. Pertumbuhan dan perkembanan iman dapat dilakukan dalam keluarga kita masing-masing maupun lingkungan. Sebagai misal dengan doa bersama, sharing pengalaman iman, ke gereja bersama, pendalaman kitab suci, pendalaman materi bekaitan dengan perkembangan iman. Belajar dari pengalaman iman mbah Karsa yang sudah sepuh, tetapi masih mempunyai semangat muda untuk menimba sabda–sabda Tuhan dalam hidupnya. Kita belajar dari padanya, bagaimana sosok seorang yang sudah uzur dimakan waktu, tetapi mempunyai hati unuk memprioritaskan waktunya guna ‘necep, neges dan ngemban Sabda Dalem Gusti’, tanpa meninggalkan urusan duniawi. Kalau boleh dikatakan, beliau sosok yang militan dalam hidup beriman kepada Tuhan. Iman yang dia jalani tidak hanya jatuh dalam rumusan/ungkapan belaka, melainkan diwujudnyatakan dalam tindakan dan perbuatan hidup sehari-hari. Justru melalui perjuangan hidup, melalui peristiwa-peristiwa yang kita alami sehari-hari, baik dalam suka maupun duka, dalam untung dan malang kita di harapkan bisa menemukan Tuhan. “Dalam segala sesuatu kita menemukan Tuhan. Dan dalam Tuhan kita melakukan tindakan dan perbuatan keseharian”. Semoga……!

Tidak lepas dari tema kita yang berinspirasikan pada kitab makabe, kita juga diajak belajar bagaimana ungkapan iman itu kita perjuangkan dan kita wujudnyatakan dalam peristiwa sehari-hari. Kitab 4 Makabe yang ditulis oleh seorang Yahudi mau membuktikan bahwa budi yang dipimpin oleh kesalehan iman akan mampu mengendalikan nafsu. Oleh iman dan kepercayan itulah dapat dilihat dan di rasakan campur tangan Allah yang membebaskan umat manusia dari perbudakan nafsu (bdk 1 Makabe). Kegagalan manusia untuk tetap setia pada iman yang menjadi gantungan harapan, terus menerus merupakan peringatan bagi kita, sebuah pesan pengharapan. Kita dapat merasakan bahwa keadaan tidak berpengharapanpun dapat menumbuhkan pengharapan baru serta kepercayaan akan keterlibatan Tuhan dalam hidup kita..

Menjadi saksi iman siapa takut?
Terinspirasi dari 1 Makabe 2:1-22.27-31, kita bisa belajar juga dari pengalaman Matatias bin Yohanes bin Simon, seorang imam dari keluarga Yoarib. Matatias dan anak-anaknya serta umat Yahudi di zamannya menghadapi tantangan berat dalam hal iman. Apa yang dilakukan oleh Matatias dan keluarganya merupakan salah satu pilihan dari banyak kemungkinan untuk melawan kejahatan raja Antiokhus Epifanes yang sewenang-wenang dan bengis melakukan penghambatan terhadap agama Yahudi. Raja telah memusuhi bangsanya dengan penindasan, raja juga telah memusuhi Allah dengan pencemaran terhadap Bait suci. Matatias merasa bersalah jika tidak berbuat apa-apa, melihat tindakan raja yang sewenang-wenang itu. Perang gerilya merupakan cara yang tepat untuk dilakukan zaman itu. Perjuangan bersenjata menjadi jalan yang jelas baginya.

Bagaimana dengan kita? Kita sebagai warga gereja sekaligus warga negara tentunya mempunyai pelbagai macam keprihatinan yang menantang keteguhan iman kita. Keprihatinan itu bisa jadi muncul dari kelemahan diri pribadi, dari keadaan sekitar kita, atau dari orang lain. Kalau kita melihat pengalaman Matatias dalam memerangi keprihatinan iman dengan kekerasan, kiranya bagi kita bukan dengan kekerasan semacam itu yang bisa kita lakukan. Namun bagaimana kita bersikap untuk mempertahankan iman itu menghadapai arus zaman yang tidak relevan lagi dengan nila iman kita (ateisme, konsumerisme, materialisme, hedonisme).

Salah satu hal yang bisa kita lakukan sebagai solusi, membangun persaudaraan orang-orang beriman itu sendiri. Gereja sebagai komunitas / paguyuban orang-orang beriman pada Allah TriTunggal, yang kiranya bisa kita temukan dalam setiap kali kita merayakan Ekaristi bersama atau dalam setiap peristiwa yang melibatkan saudara-saudari seiman. Sembahyang lan sowan Gusti menyang Gereja seperti yang dilakukan oleh mbah Karsa menjadi skala prioritas dalam hidup kita. Akhirnya dengan menjadi orang katolik yang militan, kita semakin berani untuk menjadi saksi-saksi iman. Mewartakan sabda Tuhan dan memerangi budaya-budaya arus zaman yang tidak relevan dengan nilai-nilai iman kita. Sampai pada pengakuan akan kematian, kebangkitan dan kehidupan kekal bersama Bapa dalam Kerajaan Surga. Semoga niat dan usaha baik kita ini senantiasa di berkati oleh Tuhan.***

Sragen, memasuki bulan kitab suci nasional-2009
Teriring salam dan doa, m’djatipr

Related Posts

  • 78
    Dibacakan/diterangkan pada Malam Tirakatan atau Hari Raya Kemerdekaan Indonesia Rabu - Kamis, 16 - 17 Agustus 2017 “MENGEMBANGKAN SEMANGAT KEBANGSAAN DAN KE-BHINNEKA TUNGGAL IKA-AN” Para sahabat muda, anak-anak dan remaja; para Saudari-saudara, Ibu, dan Bapak; serta para Rama, Bruder, Suster, Frater yang terkasih. Baru saja kita akhiri perhelatan besar Keuskupan Agung Semarang sebagai tuan rumah…
    Tags: dan, yang, kita, dengan, di, dalam
  • 75
    Ngrawoh, Sragen (LENTERA) - Denting suara siter dan hentakan gendang dari Wilayah Santo Andreas Sragen yang bertugas, menambah kesyahduan situasi Ekaristi Novena III di Gua Maria Fatima Ngrawoh. Sungguh malam hari itu, Ekaristi berjalan dengan “semuwa”. Novena IV diadakan pada Kamis (05/05). Seperti biasa, novena pada kesempatan kali ini dihadiri oleh 400-500 umat. Yang lebih…
    Tags: kita, yang, dan, hidup, dalam, dengan, iman, dari
  • 74
    Langkah 1: Mempersiapkan diri sebelumnya dan mengarahkan hati sewaktu mengikuti liturgi Untuk menghayati liturgi, kita harus sungguh mempersiapkan diri sebelum mengambil bagian di dalamnya. Contohnya ialah: membaca dan merenungkan bacaan Kitab Suci pada hari itu, hening di sepanjang jalan menuju ke gereja, datang lebih awal, berpuasa (1 jam sebelum menyambut Ekaristi dan terutama berpuasa sebelum…
    Tags: kita, yang, dan, di, dengan, dalam