HAK ATAS PANGAN: “Menegakkan Kedaulatan Pangan”
Oleh: RD. F.A. Teguh Santosa – Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?. Satu pertanyaan dari seorang muda yang memiliki harta banyak yang diajukan kepada Yesus. Ini adalah pertanyaan mendasar dari tujuan hidup manusia. Hidup kekal adalah hidup dalam suasana surga bersama Allah. Hidup dimana hanya ada kasih dan kasih inilah yang selalu menjiwai dan mewarnai kehidupan.
Untuk jaman sekarang, rasanya tidak mudah dengan tulus dan jujur untuk berani bertanya seperti anak muda tersebut. Dalam dunia modern ini, dimana nilai-nilai materialistis, konsumerisme, mewah dan serba enak tanpa disadari sudah menjadi bagian dari gaya hidup manusia. Nilai-nilai inilah yang juga sudah membelenggu orang muda itu, sehingga tidak mudah untuk melepaskannya untuk kemudian mengikuti Kristus. Biar pun orang muda itu sudah menjalankan semua perintah Allah :
Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu. Ternyata bagi Kristus ini belum cukup, masih ada yang harus dibuat, dan ini menjadi syarat mutlak untuk mencapai Hidup Kekal, yaitu pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mart dan ikutlahAku.
Mencapai hidup kekal berawal dari peng¬hargaan dan penghormatan kepada orang miskin. Menempatkan orang miskin sebagai manusia yang bermartabat, sebagai citra dan gambar Allah sendiri. Penghargaan dan penghormatan akan martabat orang miskin berarti peng¬hormatan dan penghargaan akan hak-hak yang dimiliki oleh orang miskin. Dan Yesus menegaskan kepada kita, orang miskin akan selalu ada padamu. Para buruh tani, para petani, gelandangan, anak jalanan, buruh pabrik, buruh migran, dan masih banyak lainnya. Orang-orang macam inilah yang harus dikembalikan haknya. Hak untuk mendapatkan hidup yang layak.
Saudara-saudari yang terkasih, pada tanggal 16 Oktober, Gereja merayakan HARI PANGAN SEDUNIA. Hak Atas Pangan masih menjadi tema besar HPS dan subtema tahun 2009: “Menegakkan Kedaulatan Pangan menjadi fokus perhatian Gereja dalam merayakan HARI PANGAN SEDUNIA tahun ini. Pangan sangat penting bagi kehidupan. Karenanya, hak atas pangan merupakan perluasan dari hak asasi manusia paling mendasar untuk hidup. Sebagai kaidah hak asasi manusia kedau-latan pangan menegaskan baik hak-hak individu maupun hak kolektif sekaligus mendorong pengejawantahan hak-hak tersebut.
Hak untuk memiliki pangan secara teratur, permanen dan mendapat¬kan secara bebas dengan harga bahan pangan yang terjangkau bagi seluruh rakyat, jaminan untuk mengusahakan pangan yang sehat dan berkelanjutan, serta cocok dengan tradisi-tradisi kebudayaan masyarakat yang meng¬konsumsinya. Juga harus tersedia peker-jaan dan mata pencaharian dengan pendapatan yang memadai untuk mendapatkan pangan dan kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya.
Oleh karena itu, dalam merayakan HARI PANGAN SEDUNIA ini Gereja mengajak seluruh umat beriman untuk intropeksi dan refleksi, kemana arah dan tujuan hidup kita? Kemana arah gerak hati kita saat ini, apakah masih tertuju pada kelekatan hal-hal duniawi, atau capaian hidup kekal menarik dan menjiwai hidup kita, menjadi energi untuk mencari harta surgawi ?
Dalam Perayaan Ekaristi Hari Pangan, kita mengenangkan dan sekaligus meng-hadirkan kembali Kristus yang mengorban¬kan diri untuk membebaskan dan menyelamatkan manusia dari dosa. Maka Gereja dalam hidup dan menghidupi Ekaristi harus berfungsi dan berperan sebagai pangan ekaristik. Menjadikan dirinya untuk dibagi-bagi dan menjadikan makanan kehidupan bagi banyak orang.
Persaudaraan alamiah yang tampak melalui pembagian makanan ini me¬mancar¬¬kan penghargaan bukan hanya bagi manusia itu sendiri, tetapi juga untuk semua yang hadir. Sebagai manusia kristiani kita hadir dalam sikap saling menghargai dan saling berbagi, sebagai perlawanan individualisme dan kerakusan dari orang-orang yang hanya bertujuan menumpuk dan menguasai harta ? Kalau sudah demikian, rasa-rasanya tidak mustahil bagi kita untuk mencapai hidup kekal. Semoga!!!***
Penulis adalah anggota
Pengurus Komisi PSE KWI 2008-2011
Sumber: Panitia HPS KWI
Filed Under: Renungan
Comments
No Comments
Leave a reply
You must be logged in to post a comment.