Jiwa Umat Beriman Beristirahat Dalam Ketentraman Karena Kerahiman Tuhan
Oleh: Rm. CT. Wahyono Djati Nugroho, Pr – ”Ayo menyang kuburan mbakyu?”, Pitakonané cempluk marang mbakyuné. ”Lha iyo jaré, mengko rak misa kanggo ngurmati para leluhur tho?”
Dalam sejarah Gereja Katolik, setiap tanggal 02 November, di peringati Arwah Semua Orang Beriman. Bahkan peristiwa ini berkembang menjadi tradisi yang tidak hanya dilaksanakan pada tanggal itu, melainkan setiap hari pada bulan November menjadi peristiwa yang tepat untuk memperingati arwah para leluhur yang sudah sumare.
Memperingati arwah para leluhur sering dipakai istilah memule. Istilah memule itu sendiri sebenarnya mengandung tiga makna, yaitu: Pertama, memule mengandung arti MENGENANG (menghadirkan kembali) seseorang yang telah dipanggil Tuhan. Kedua, dalam memule kita di ajak untuk memberi RASA HORMAT dan RASA CINTA kepada leluhur yang sudah sumare. Ketiga, rasa hormat dan cinta itu sendiri diwujudnyatakan dengan BERDOA.
Mengapa Kita Mendoakan Arwah?
Tiap kali terjadi kematian massal, akibat bencana alam misalnya, bisa dipastikan banyak jiwa yang sebenarnya tidak siap untuk MATI. Kehidupan yang mereka jalani tiba-tiba sirna. Bagi orang yang beriman Katolik, saat kematian itu adalah saat yang ditunggu-tunggu karena itu merupakan saat dimulainya hidup baru bersama dengan Allah. Tetapi bagaimana kalau jiwa mereka memang belum siap? Apa yang akan terjadi setelah kematian tanpa menerima Sakramen Minyak Suci terlebih dahulu? Selamatkah jiwa mereka?
Kita mendoakan orang yang sudah meninggal agar mereka memperolah kerahiman Allah dan dibebaskan dari api penyucian. Meskipun sudah diampuni, orang tetap harus menjalani denda dosa dan perbuatan silih. Orang yang sudah meninggal tidak bisa menjalani perbuatan silih dan denda dosa. Kita yang masih memiliki tubuh, pikiran, dan kehendak, berkewajiban mendoakan mereka agar segera terbebas dari api penyucian dan bisa bersatu dengan Allah di surga. Doa-doa kita itulah sebagai silih atas dosa-dosa mereka. Mereka yang masih di api penyucian membutuhkan pertolongan kita yang masih ada di dunia ini untuk menjalani perbuatan silih atas dosa-dosa.
Ajaran Gereja :
Dengan menerima sakramen baptis kita dimasukkan sebagai satu kesatuan dengan Gereja yang kudus, persekutuan para Kudus di surga, dan dengan orang-orang Kristen yang sudah mendahului kita bersatu dalam keluarga kudus di surga. Dengan baptis kita memperoleh jaminan keselamatan. Boleh dikatakan kita sudah masuk dalam daftar penghuni surga. Oleh karena itu mestinya orang Katolik kalau sudah mati hanya ada dua kemungkinan :
1) Masuk surga, langsung bersatu dengan Allah jika hidupnya di dunia sungguh-sungguh suci;
2) Masuk ke purgatorio, api penyucian ( bukan pencucian/api tidak bisa mencuci). Neraka hanya untuk orang yang tidak beriman (atau hidup sama sekali tidak seperti orang yang punya iman ).
Orang Kristen itu bukan berbuat baik untuk/agar bisa naik surga ( nabung kebaikan agar mendapat pahala ). Perbuatan baik atau hidup yang baik di dunia ini bagi orang Kristen adalah kesaksian sebagai orang beriman yang sudah memperoleh keselamatan. Perbuatan baik itu adalah berlimpahnya kasih yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Keselamatan itu sungguh merupakan anugerah bukan hasil usaha manusia. Anugerah yang amat sangat besar itu (hidup kekal, kebahagiaan kekal ) berbuah kebaikan yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari.
Tuhan yang pertama bertindak menyelamatkan. Tanggapan atas tawaran keselamatan itu adalah IMAN. Dibaptis adalah titik di mana kita dimeteraikan oleh keselamatan. Janji babtis adalah janji untuk mewujudkan kelimpahan keselamatan itu dalam hidup. Saat MATI adalah saat kepenuhan misteri penyelamatan itu di mana kita meninggalkan yang duniawi dan bersatu dengan Allah. Orang beriman tidak takut MATI, karena itu adalah saat yang dinanti-nantikan untuk menggenapi janji keselamatan Allah.***
Terinspirasi dari (webGaul Forum- A Z ein company)
Filed Under: Pastoralia


Comments
No Comments
Leave a reply
You must be logged in to post a comment.