Peringatan Hari Arwah

Oleh: D. Soepardi : Bulan Nopember adalah bulan Peringatan Arwah bagi semua orang beriman khususnya bagi umat katolik. Banyak orang Kristiani ketika masih muda dan sehat belum memberi perhatian terhadap hidup dan mati. Pikiran tentang surga, neraka, atau api penyucian belum mendominasi benak mereka .Namun ketika orang sudah pensiun, mulai sakit-sakitan, atau tenaga mulai loyo, barulah mereka memberi perhatian serius akan nasib hidupnya sesudah mati. Pikiran tentang Surga atau Api Penyucian akan mewarnai hari-hari mereka.

Menurut para ahli teologi ada dua macam hukuman di Api Penyucian:
Pertama, hukuman karena perasaan kehilangan Tuhan. Kedua, Hukuman karena sesal batin yang tak kunjung henti.

Hukuman karena perasaan kehilangan Tuhan diakibatkan oleh hilangnya kesempatan berjumpa dengan Allah, sumber segala kebajikan, tujuan akhir hidup manusia.Inilah kehausan moral yang menyiksa jiwa-jiwa.

Hukuman karena sesal batin yang tak kunjung henti, hal ini menyangkut penderitaan yang dapat dirasakan sebagaimana halnya dengan hukuman fisik yang dapat kita rasakan.

Marilah kita telusuri adat istiadat dari nenek moyang kita tentang peringatan arwah bagi keluarga,sanak famili yang telah berjalan dalam kurun waktu berabad-abad. Kita ambil contoh peringatan yang sampai saat ini masih bisa kita lihat: Peringatan 3 hari,7 hari,40 hari, 100 hari,1 tahun, 2 tahun, 1000 hari dll. Peringatan ini bukan hanya monopoli dari Gereja Katolik saja, akan tetapi hampir pasti doa / peringatan arwah ini juga menjadi kebiasaan saudara-saudara kita yang mempunyai keyakinan lain, misalnya: Agama Islam, Hindu, Budha, dsb. Bahkan orang kabangan juga mempunyai tradisi yang sama, yang tujuannya sama yaitu agar keluarga yang sudah meninggal mendapat pengampunan atas segala dosa yang dilakukan semasa hidupnya. Tujuannya sama,hanya berbeda versinya.

Apakah orang-orang yang sudah meninggal masih membutuhkan bantuan doa dari kita yang masih hidup? Kita melihat tradisi kita sebagai umat Katolik dalam doa / peringatan arwah, baik itu misa arwah, intensi khusus dalam misa, doa 3 hari,7 hari,40 hari.100 hari,1000 hari dsb,dengan tujuan mendoakan arwah salah keluarga yang meninggal dunia, agar dengan doa dan sebagainya, mereka yang kita doakan mendapat pengampunan atas segala dosa yang diperbuat semasa hidupnya. Jadi jawaban atas pertanyaan di atas bagi umat Katolik adalah YA.

Kepercayaan bahwa orang yang sudah meninggal membutuhkan bantuan doa untuk lepas dari Api Penyucian tidak terbatas kepada agama bukan Kristiani saja.Jiwa-jiwa di Api Penyucian dapat dibantu melaui perbuatan-perbuatan yang saleh, seperti: doa, indulgensi, derma, puasa, korban dll. Khusus Indulgensi sudah ter-cover dalam LEMBARAN MISA MINGGU TERAKHIR BULAN OKTOBER 2009, bapak ibu bisa membaca dengan cermat.

Meski tak seorangpun dapat menyatakan dengan tegas bahwa Allah dapat menggunakan perbuatan-perbuatan salehnya kepada jiwa-jiwa di Api Penyucian, namun kita dapat berharap bahwa Allah akan mendengar per¬mohonan-permohonan dan membantu yang kita doakan.Karena berlakunya perbuatan-perbuatan baik itu tergantung pada permohonan seseorang kepada Allah, kita tidak tahu jaminan yang pasti bahwa doa-doa kita akan membantu jiwa-jiwa tertentu dalam Api Penyucian.Tetapi kita percaya berkat kemurahan dan kasih Allah terhadap jiwa-jiwa dalam Api Penyucian yang telah`dekat dengan Allah, pastilah menggerakkan Allah untuk mempercepat pembebasan mereka dari masa penyucian, apabila orang yang setia di bumi mengarah¬kan doa-doa mereka untuk maksud tersebut.

Ada doa dalam ASSIST THE SOULS IN PURGATORY berbicara: Suatu doa yang pendek tetapi sungguh-sungguh dihayati, sering kali lebih besar manfaat¬nya bagi jiwa-jiwa yang malang daripada suatu bentuk kebaktian yang bertele-tele dimana kurang mendapat perhatian.Tak terhitung banyaknya doa-doa singkat dan langsung terhadap dimana Gereja telah memberikan indulgensi yang semuanya itu berlaku untuk jiwa-jiwa yang malang.

Contoh doa pendek itu sbb:
“Istirahat kekal berikanlah bagi mereka,oh tuhan, dan biarlah cahaya kekal bersinar atas mereka, semoga mereka beristirahat dalam damai. amin”

Selagi kita masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Allah, marilah kita selalu berusaha hidup baik sesuai dengan kehendak Allah.Kita semakin menyadari bahwa kita berasal dari Allah dan kita berusaha kembali kepada Allah dalam damai.Kita semua tahu bahwa setelah kita mati segalanya telah terlambat. Kesempatan dan kemungkinan yang diberikan Tuhan kepada kita,haruslah kita terima dengan sungguh-sungguh, demikian panggilan kitab Suci. Janganlah hidup kita ini kita jadikan suatu per¬mainan. Janganlah kita mengabaikan panggilan untuk bertobat itu, sebab “Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi” (Ibrani 9:27)

Banyak sudah dan tak terhitung jumlahnya contoh-contoh yang diberikan oleh Yesus kepada kita. Kita ambil contoh yang sangat mengesankan bagi kita yaitu: Dalam hidupnya Yesus sudah menunjuk¬kan bagaimanakah corak dan warna cinta kasih sejati.Yesus banyak sekali menolong orang lain, namun tidak pernah menolong dirinya sendiri.Yesus dapat berbuat demikian, karena Yesus senantiasa mempertanyakan apa yang dibutuhkan orang lain dan tidak pernah bertanya tentang keperluannya sendiri.

Begitulah cara Yesus membawa cinta kasih ke dalam dunia yang benar-benar Yesus kasihi itu. Dan Yesus membutuhkan kita, agar cinta kasih itu tidak lenyap begitu saja dari bumi ini.

Marilah kesempatan emas yang diberikan kepada kita ini,dapat kita manfaatkan sebaik mungkin,dan paling tidak kita dapat meneladan contoh yang diberikan oleh Yesus walaupun sekecil apapun, agar kita tidak terlambat selagi masih hidup.

Oleh karena itu bukanlah suatu perbuatan yang salah, apabila kita menengok kuburan nenek moyang dan meletakkan bunga di atas kuburan itu. Akan tetapi kita harus selalu hati-hati.Memperingati dengan hormat dan khidmat itu janganlah sampai berubah sifatnya menjadi BERBAKTI (dengan membakar kemenyan, membuang ancak atau memberi sesajian dan sebagai¬nya).Janganlah kita menengok kuburan nenek moyang kita dengan anggapan, bahwa roh mereka masih bertempat tinggal di situ. Di dekat kuburan itu juga hati kita haruslah menengadah ke surga, ke tempat kediaman Yesus Kristus.Di situ nenek moyang kita bersekutu dengan Kristus dan menerima bagiannya dalam anugerah Kristus.

Ada sebuah pengakuan salah seorang dari saudara kita seiman, dia mempunyai kebiasaan yang sangat baik, yaitu sebelum tidur biasanya berdoa, dan dalam doa itu selalu disisipkan doa untuk sanak-keluarga, orang tua yang sudah meninggal, demikian juga dalam doa pagi. Kebiasaan ini menurut pengakuannya sudah berjalan puluhan tahun dan setiap hari tanpa lowong. Hal ini tidak dia sadari, tetapi seperti gerakkan refleks, yang secara otomatis muncul dalam doa-doanya. Mungkin kebiasaan ini patut kita tiru, untuk membantu arwah dari saudara-saudara kita, orang tua, sanak famili, keluarga yang kita cintai dan kasihi yang telah dipanggil Tuhan.

Semoga kebiasaan yang baik ini bisa tumbuh dalam setiap keluarga Katolik Paroki Santa Perawan Maria Fatima khususnya dan keluarga yang lain pada umumnya. Semoga!***

Filed Under: Renungan

Comments

No Comments

Leave a reply

You must be logged in to post a comment.