Surga, Neraka dan Api Penyucian
Oleh: Mgr. Ign. Suharyo – Katekismus Gereja Katolik mengenai surga mengatakan demikian: “Kehidupan yang sempurna bersama Tri Tunggal Mahakudus ini, persekutuan dan cinta bersama Allah, bersama Perawan Maria, bersama para malaikat, dan orang kudus, dinamakan ‘surga’. Surga adalah tujuan terakhir dan pemenuhan kerinduan terdalam manusia, keadaan bahagia tertinggi dan definitif” (no 1024) “Hidup di dalam surga berarti ‘ada bersama Kristus’. Kaum terpilih hidup ‘di dalam Dia’, mempertahankan, atau lebih baik dikatakan, menemukan identitasnya yang sebenarnya namanya sendiri” (no. 1025)
Dengan demikian surga pada dasarnya adalah hidup dalam kesatuan dengan Allah yang mem¬berikan kebahagiaan sempurna. Ungkapan-ungkapan seperti ‘tempat kediaman di surga’ (1Kor 5:1), ‘upahmu besar di surga’ (Mat 5:12) adalah kiasan.
NERAKA
Mengenai neraka, Katekismus Gereja Katolik mengatakan antara lain, ”Yesus beberapa kali berbicara tentang ’gehenna’, yakni ’api yang tidak terpadamkan’, yang ditentukan untuk mereka yang sampai akhir hidupnya menolak untuk percaya dan bertobat, tempat jiwa dan badan sekaligus dapat lenyap. Dengan pedas, Yesus menyampaikan bahwa Ia akan ‘menyuruh malaikat-malaikat-Nya’, yang akan mengumpulkan semua orang yang telah menyesatkan orang lain dan telah melanggar perintah Allah, dan men¬campak¬kan mereka ke dalam dapur api; di sanalah terdapat ratapan dan kertakan gigi’ (Mat 13: 41-42), dan bahwa Ia akan mengucapkan keputusan pengutukan: ‘Enyahlah daripada-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal’ (Mat 25: 41) (no. 1034).
Dengan demikian neraka adalah lawan dari surga, yang berarti terpisah dari Allah. Keadaan terpisah dari Allah inilah yang disebut siksaan karena pada dasarnya manusia merindukan kesatuan dengan Allah. Tidak sedikit orang yang bertanya, “Siapa saja yang masuk neraka?” Dikisahkan dalam Injil, orang-orang Yahudi bertanya kepada Yesus, ’Sedikit sajakah orang yang diselamatkan?’ Waktu itu Yesus tidak memberi jawaban. Ia hanya berkata, ’Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak.’ (Luk 13: 23-214). Dari satu pihak kita mendengar sabda keselamatan, ”Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih-karunia berlimpah-limpah.” (Rom 5: 20). Dari lain pihak tidak bisa disangkal bahwa mungkin saja manusia menutup diri sepenuhnya untuk menerima rahmat dan belas kasih Allah. Akibatnya ia terpisah secara abadi dari Allah.
API PENYUCIAN
Mengenai api penyucian, Katekismus Gereja Katolik mengatakan: “Siapa yang mati dalam rahmat dan dalam persahabatan dengan Allah, namun belum disucikan sepenuhnya, memang sudah pasti akan diselamatkan, tetapi ia masih harus menjalan¬¬kan suatu penyucian untuk mem¬peroleh kekudusan yang perlu, supaya dapat masuk ke dalam kegembiraan surga” (no. 1030).
Gereja menamakan penyucian akhir para terpilih, yang sangat berbeda dengan siksa para terkutuk, purgatorium (api penyucian). Gereja telah merumuskan ajaran-ajaran iman yang berhubungan dengan api penyucian terutama dalam Konsili Firenze dan Trente. Tradisi Gereja berbicara tentang api penyucian dengan pedoman pada teks-teks tertentu dari Kitab Suci, misalnya 1Kor 3: 15; 1Petr 1: 7’ (no. 1031)
Kata yang dipakai adalah purgatorium (=penyucian, tanpa ’api’). Dengan ajaran ini mau dinyatakan bahwa ada tahap terakhir dalam proses pemurnian dalam perjalanan kepada Allah karena proses itu belum selesai pada waktu kematian. Untuk itulah dosa-dosa bagi jiwa-jiwa di tempat penyucian mempunyai artinya. Orang-orang itu meninggal dalam persekutuan iman, dalam Gereja, maka sudah semestinya persekutuan orang beriman dihayati dalam mendoakan saudara-saudara yang masih dalam perjalanan menuju persekutuan sempurna dengan Tuhan.***
Sumber tulisan:
The Catholic Way oleh Mgr. Ignatius Suharyo terbitan Kanisius 2009
Filed Under: Fokus


Comments
No Comments
Leave a reply
You must be logged in to post a comment.