Misa Novena Persiapan Pembangunan Gua Maria Fatima Ngrawoh

ngrawohNgrawoh (LENTERA) – Lingkungan Dionisius Ngrawoh, Jumat (20/01) mengada­kan pembukaan doa/ekaristi Novena plus bertempat di belakang Kapel Ngrawoh yang merupakan lokasi persiapan pembangunan Gua Maria Fatima Lingkungan St. Dionisius Ngrawoh, Sragen. Kegiatan tersebut dimulai pada pukul 19.00 WIB, diawali dengan doa Rosario bersama. Setelah itu, doa novena dipuncaki dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Rm. Christophorus Tri Wahyono Djati Nugroho, Pr. Adapun tema yang direnungkan dalam perayaan ekaristi/Doa Novena tersebut adalah: “Maria Bunda Orang Berdosa.”

Sungguh menggembirakan dan me­ngejut­kan bahwa meski kegiatan ini baru pertama kali diadakan ternyata umat begitu antusias untuk hadir. Terbukti dari 200 orang yang diperkirakan, ternyata yang hadir lebih dari 300 orang dari berbagai pelosok di Paroki Sragen. Tampak dalam hal ini kerinduan umat untuk mempunyai tempat ziarah dan kedekatan personal dengan Bunda Maria dapat dirasakan. Suasana “semuwa” mewarnai seluruh proses perayaan iman yang diadakan.

Dalam kesempatan kotbah, Rm. Djati, Pr menyatakan bahwa kehadiran Bunda Maria dalam sejarah dunia telah memberikan warna dan harapan baru akan penyelamatan dunia dari belenggu dosa. Kesediaan Maria yang terungkap dalam “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu” menjadi tanda janji penyelamatan Allah atas dunia semakin nyata untuk diwujudkan. Oleh karena itu, Gereja memberi penghormatan dan sekaligus gantungan pengharapan kepada Bunda Maria sebagai Bunda penolong bagi orang-orang berdosa. “Santa Maria Bunda Allah doakanlah kami, sekarang dan waktu kami mati”.

Secara khusus, Rm. Djati, Pr menyinggung makna dan pesan penampakan Bunda Maria di Fatima. Penampakan Maria pada 3 orang anak yang sedang meng­gembalakan ternak di Fatima tersebut menyaratkan pentingnya pertobatan manusia agar mendapatkan rahmat penyelamatan. Semangat pertobatan itu akan semakin berdaya dan sungguh mengubah kehidupan dunia kalau didasari oleh laku doa dan keheningan yang mendalam.

Secara nyata, melalui penampakan­nya di Fatima, Bunda Maria menganjurkan pentingnya berdoa Rosario setiap hari. Melalui, doa Rosario yang tekun ini, bunda Maria yang sejak semula terlahir tanpa noda dosa, menjanjikan bantuannya untuk turut berdoa memohon rahmat keselamatan hidup bagi jiwa-jiwa orang berdosa. Bahkan, bagi jiwa-jiwa saudara-saudara kita yang sudah berpulang. Maka, setiap akhir peristiwa dalam doa salam Maria kita menambahkan ungkapan ini “Yesus, ampunilah segala dosa kami, lindungilah kami dari api neraka, dan hantarkanlah jiwa-jiwa ke dalam surga, terlebih jiwa-jiwa yang memerlukan pertolongan.”

Kehadiran Bunda Maria sebagai bunda kita orang berdosa seakan membangun harapan bersama bagi kita untuk membawa seluruh keluh-kesah, kehinaan dan ketidakberdayaan sifat kemanusiaan kita ke pangkuan Bunda Maria. Kita berharap Bunda Maria berkenan untuk mendampingi dan membantu kita dalam membangun semangat pertobatan hidup dan kehendak untuk senantiasa bertekun dalam doa dan keheningan. Melalui doa rosario, manusia diajak untuk harus memperbaiki kelakuannya serta memohon ampun atas dosa-dosanya.

Pada akhir kotbah Rm. Djati, Pr mengajak seluruh umat (dimulai dari diri sendiri) untuk menghidupi doa rosario secara lebih tekun dan khidmad serta benar-benar mempraktek­kan devosi Maria Fatima tiap tanggal 13 dalam bulan. Sebelum berkat penutup umat diajak untuk mendoakan doa penyerahan kepada hati Maria tak bernoda. Doa ini mempunyai daya yang sama dengan kebaktian kepada hati Yesus yang Mahakudus pada hari Jum’at pertama tiap bulan.

Setelah ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan sarasehan. Pada kesempatan ini, Rm.Lambertus Issri Purnama, Pr (yang juga pastor paroki Sragen) memberikan beberapa penegasan seputar langkah ke depan pem­bangunan Gua Maria ini. Pertama-tama Rm. Issri, Pr memberikan apresiasi dan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh umat, khususnya umat Lingkungan St. Dionisius Ngrawoh yang telah memulai usaha meraih mimpi yang ada. Bisa dibayangkan bahwa tempat ini dulunya masih gunung batu dan penuh dengan semak, bahkan mungkin binatang-binatang kecil lainnya. Namun demikian, dengan segala daya dan laku doanya umat di Lingkungan St. Dionisius Ngrawoh ini telah menjadikan tempat ini sedemikian baik untuk tempat doa bersama.

Rm. Issri juga mengajak seluruh umat untuk sungguh-sungguh menjadikan tempat ini sebagai tempat untuk menggali spiritualitas rohani dengan ketekunan doa. Hal tersebut sepertinya senada dengan semangat Bunda Maria di Fatima yang menjadi pelindung paroki ini. Bunda Maria di Fatima mengajak kita semua untuk bertekun dalam doa dan keheningan. Kalau hal ini sungguh dihidupi maka kita semua yakin bahwa berkahnya akan dirasakan oleh banyak orang.

Berangkat dari hal semangat tersebut maka Rm. Issri menegaskan bahwa langkah ke depan terkait dengan rencana pembangunan dan pengelolaan tempat doa ini, fokusnya terletak pada “laku” doa terlebih dahulu. Pembangunan tempat ziarah bisa dikatakan gampang-gampang susah. Kalau ada dana maka pembangunan dapat segera dimulai. Namun demikian, per­masalahan pokoknya bukan pada bagaimana membuat bangunan fisik tetapi bagaimana bangunan fisik tersebut mampu membangun semangat rohani yang mendalam.

Terkait dengan pelaksanaan peribadatan dan liturgi di gua Maria ini, Rm. Issri, Pr menggagas akan diupayakan pelayanan ekaristi setiap “Malem Jumat Wage”. Hal ini tentu perlu dipikirkan secara lebih baik agar jadual-jadual ekaristi lingkungan yang juga mesti dilayani dapat diatur lagi. Begitu pula dengan pastor yang akan melayani, dapat juga dicarikan bantuan. Yang jelas adalah bahwa tema-tema renungan yang sudah dipersiapkan dapat mewarnai seluruh perayaan liturgi. Dengan demikian, perlu kerjasama yang aktif antara seksi liturgi lingkungan dan paroki.

Banyak kasus, bahwa banyak gua Maria yang dibangun dengan cepat-cepat, ternyata secepat itu pula semangat doa dan keheningannya hilang. Oleh karena itu, kita justru ingin mendasari seluruh proses perencanaan pembangunan dengan laku doa yang mantap terlebih dahulu. Selama 1 tahun ini kita akan coba menghidupinya. Memang hal fisik tidak bisa begitu saja dilupakan. Untuk itu, sambil berjalan laku doa kita, kita akan mulai sedikit demi sedikit menata hal-hal fisik. Dalam kesempatan tersebut beliau menyatakan bahwa seluruh kolekte yang terkumpul dapat dikelola oleh panitia lokal untuk mendukung proses penataan fisik (meski harus diingat juga perlu untuk membuat laporan pengelolaan secara resmi ke Paroki secara berkala).

Akhirnya, Rm. Issri mengajak seluruh umat yang hadir untuk turut terlibat dalam proses perencanaan dan pengelolaan tempat ziarah ini. Bentuk keterlibatan bisa dalam rupa material (bantuan dana, barang-barang, snack, gula, teh dan sebagainya) serta hal rohani (semakin giat mendatangi tempat ini untuk berdoa dan hening). Kalau hal tersebut terjadi maka kita yakin bahwa impian ini akan segera terwujud.

Kegiatan sarasehan ditutup dengan acara ramah tamah. Meski panitia hanya mampu menyediakan makanan ala kampong (thiwul, sawut, gablok, kacang godhok dan lainnya), namun dalam acara tersebut umat tampak merasakan kegembiraan dan keakraban satu dengan yang lain. Inilah berkat nyata yang dirasakan bersama malam itu. Pukul 22.00, umat mulai meninggalkan lokasi ziarah dan kembali ke rumah. Sementara itu, panitia local bersama Romo Issri dan perwakilan Dewan Paroki Sragen mengadakan bincang-bincang seputar rencana-rencana praktis yang dapat dilakukan ke depan, seperti perluasan tempat doanya, siring tanah, penyiapkan kegiatan liturgi dalam koordinasi dengan seksi liturgi paroki, pengelolaan bantuan-bantuan dan lainnya.(Srie Hartanto)

Related Posts

  • 76
    Ngrawoh (LENTERA) – Perayaan Misa Novena Plus kedua, Kamis (24/02) boleh dikatakan semakin semarak. Hal ini terlihat dari antusiasme umat yang hadir lebih dari 500 orang. Sungguh merupakan kegembiraan tersendiri. Tidak hanya itu, kerelaan umat dalam mengikuti perayaan meski duduk berdesakan dan bahkan di luar tenda karena tempat yang terbatas,  sungguh menjadi tanda kerinduan umat…
    Tags: yang, dan, untuk, maria, dalam, ini, bunda, umat, tempat, kita
  • 76
    Ngrawoh (LENTERA) - Hari itu, Kamis (31/03), hujan deras sempat mengguyur daerah Ngrawoh dan mungkin wilayah Sragen pada umumnya sejak pukul 16.30 WIB. Gua Maria Fatima Ngrawoh yang sedianya digunakan untuk Misa Novena ke-3 yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa pun tidak luput dari tetesan air yang mengguyur dari “rembesan” atap terpal. Semua basah dan becek.…
    Tags: yang, maria, dan, untuk, bunda, kita, dengan, dalam, ini
  • 74
    Ngrawoh, Sragen (LENTERA) - Denting suara siter dan hentakan gendang dari Wilayah Santo Andreas Sragen yang bertugas, menambah kesyahduan situasi Ekaristi Novena III di Gua Maria Fatima Ngrawoh. Sungguh malam hari itu, Ekaristi berjalan dengan “semuwa”. Novena IV diadakan pada Kamis (05/05). Seperti biasa, novena pada kesempatan kali ini dihadiri oleh 400-500 umat. Yang lebih…
    Tags: kita, yang, dan, untuk, maria, bunda, ini, dalam, dengan