Novena ke-2 Gua Maria Fatima Ngrawoh : Maria Teladan Dalam Membangun Pertobatan

183916_1671399nnnnnNgrawoh (LENTERA) – Perayaan Misa Novena Plus kedua, Kamis (24/02) boleh dikatakan semakin semarak. Hal ini terlihat dari antusiasme umat yang hadir lebih dari 500 orang. Sungguh merupakan kegembiraan tersendiri. Tidak hanya itu, kerelaan umat dalam mengikuti perayaan meski duduk berdesakan dan bahkan di luar tenda karena tempat yang terbatas,  sungguh menjadi tanda kerinduan umat untuk semakin mengalami kedekatan pengalaman iman bersama Bunda Maria.

Seperti biasa, sebelum ekaristi, rangkaian perayaan novena dibuka dengan rosario bersama. Perayaan kali ini, seluruh petugas liturgi diperkaryakan pada Wilayah St. Petrus Sragen. Tema yang direnungkan dalam perayaan ekaristi/doa novena saat itu adalah Maria Teladan dalam Membangun Pertobatan. Dalam kesempatan kotbah, Rm. Lambertus Issri Purnomo, Pr mengajak umat untuk mengawali permenungan dengan sebuah pertanyaan apa motivasi yang mendorong bapak, ibu, yang muda dan anak-anak datang ke tempat ziarah ini?

Tentu saja ada aneka jawaban dan sharing yang muncul dari umat yang mengikuti perayaan ekaristi novena. Intinya adalah bahwa banyak orang datang ke tempat ziarah ini berdoa memohon bantuan dan pertolongan Bunda Maria dalam berbagai permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam hidup. Berangkat dari jawaban tersebut, Rm. L. Issri Purnomo, Pr menegas­kan bahwa sering kali kita datang ke tempat ziarah untuk sekedar “meminta” berbagai macam pertolongan dari Bunda Maria melalui doa-doa yang kita panjatkan. Meski hal itu tidak salah namun sepertinya masih kurang mendalam maknanya.

Ziarah dimaksudkan sebagai proses pergumulan batin untuk menemukan punctum-punctum (buah-buah) kehidupan yang didasarkan oleh semangat iman. Orang memang diajak untuk membuka kembali seluruh pergumulan hidupnya, dengan aneka macam persoalannya dan coba dicerna, disarikan sehingga menjadi semacam daya baru untuk menjalani kembali pergumulan hidup itu. Oleh karena itu, ziarah bersama Bunda Maria di tempat ini bukan semata-mata untuk mencari mudjizat atas seluruh permohonan kita, tetapi sebuah proses untuk menggumuli dan meneladani kehidupan Bunda Maria dalam menghayati kedalaman hidup imannya.

Secara nyata, Bunda Maria di Fatima menghayati dan menghidupi makna ter­dalam dari apa yang dinamakan kesucian hidup. Dalam bacaan Injil, hal itu ditegaskan, “kalau matamu menyebabkan kamu berdosa maka cungkilah...”. Kesucian hidup itu dapat terbangun karena kesetiaan Bunda Maria menghayati makna pertobatan hidup dan kehendak untuk senantiasa bertekun dalam doa dan keheningan.

Menyadari hakekat dan makna per­tobatan dalam kehidupan manusia memang merupakan proses yang terus berkembang. Apalagi disadari bahwa hidup manusia dari waktu ke waktu diwarnai dengan peristiwa jatuh dan gagal. Untuk itu perlu membangun semangat untuk terus bertobat dan bangkit dari keterpurukan. Untuk dapat bertobat dengan tulus maka orang mesti mau merasakan rahmat kerahiman Allah. Kalau kita tidak dapat marasakan bahwa Allah itu maharahim dan belas kasih maka kita tidak pernah akan merasa berdosa.

Ajakan Bunda Maria untuk senantiasa menghayati dan menghidupi pertobatan dalam seluruh kehidupan kita menjadi inti pesan penampakan Bunda Maria di Fatima. Manusia harus memperbaiki kelakuannya serta memohon ampun atas dosa-dosanya.Bagimana dengan semangat pertobatan kita?

Kerinduan umat untuk menghayati keteladan hidup Bunda Maria ini rasanya semakin tumbuh di hati umat. Hal ini tampak dari beberapa sharing pengalaman yang dirasakan umat saat menjalani laku rohani di tempat ini.Tempat ziarah ini sudah membawa nuansa tersendiri bahkan ada yang mengatakan keramat, sunyi dan mendukung keheningan. Ada pula yang merasakan hatinya merinding dan terharu begitu memasuki tempat ziarah ini. Harapannya adalah bahwa di kemudian hari tempat ziarah ini dapat dijadikan sebagai Sekolah Maria, yang amat berguna untuk menggali spiritualitas hidup iman bersama Bunda Maria. Sungguh semua ini tiada lain adalah buah karya Roh Kudus.

Ekaristi selesai pukul 21.00 WIB. Seperti biasa, sesudah ekaristi umat diajak untuk mengadakan ramah tamah. Yang juga semakin menggembirakan adalah bahwa dalam acara ramah tamah ini semakin banyak umat yang mau berbagi atas makanan dan minuman yang mereka bawa dari rumah. Sungguh ini semua adalah berkah. (Srie Hartanto)

Related Posts

  • 79
    Ngrawoh, Sragen (LENTERA) - Denting suara siter dan hentakan gendang dari Wilayah Santo Andreas Sragen yang bertugas, menambah kesyahduan situasi Ekaristi Novena III di Gua Maria Fatima Ngrawoh. Sungguh malam hari itu, Ekaristi berjalan dengan “semuwa”. Novena IV diadakan pada Kamis (05/05). Seperti biasa, novena pada kesempatan kali ini dihadiri oleh 400-500 umat. Yang lebih…
    Tags: kita, yang, dan, hidup, untuk, maria, bunda, ini, dalam, dengan
  • 76
    Ngrawoh (LENTERA) – Lingkungan Dionisius Ngrawoh, Jumat (20/01) mengada­kan pembukaan doa/ekaristi Novena plus bertempat di belakang Kapel Ngrawoh yang merupakan lokasi persiapan pembangunan Gua Maria Fatima Lingkungan St. Dionisius Ngrawoh, Sragen. Kegiatan tersebut dimulai pada pukul 19.00 WIB, diawali dengan doa Rosario bersama. Setelah itu, doa novena dipuncaki dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Rm.…
    Tags: yang, dan, maria, ini, untuk, dengan, dalam, bunda, kita, tempat
  • 73
    Ngrawoh (LENTERA) - “Dalu punika anginipun santer sanget. Bergemuruh seperti pertanda datang Roh Kudus”, begitulah ungkapan Rm. Yohanes  Ari Purnomo, Pr ketika membuka Perayaan Ekaristi Novena II di Gua Maria Fatima Ngrawoh. Hari itu, Kamis (15/03) memang hembusan angin yang cukup kencang menerpa wilayah Ngrawoh dan sekitarnya. Keadaan ini mewarnai suasana sepanjang perayaan Ekaristi malam…
    Tags: kita, dalam, dan, dengan, ini, yang, untuk, hidup, adalah, maria