Misa Novena Ke – 3 Gua Maria Ngrawoh: Bersama Maria memanggul salib sebagai bentuk panggilan kepada pertobatan

ngrawohNgrawoh (LENTERA) – Hari itu, Kamis (31/03), hujan deras sempat mengguyur daerah Ngrawoh dan mungkin wilayah Sragen pada umumnya sejak pukul 16.30 WIB. Gua Maria Fatima Ngrawoh yang sedianya digunakan untuk Misa Novena ke-3 yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa pun tidak luput dari tetesan air yang mengguyur dari “rembesan” atap terpal. Semua basah dan becek.

Meski situasinya demikian, toh itu semua bukan berarti bahwa kegiatan hari itu menjadi terhenti. Segera sesudah hujan mulai mereda, panitia segera menata kembali tempat. Alas-alas tempat duduk yang basah mulai di lap. Tempat-tempat yang bocor segera dicarikan alat untuk menampung air. Semua ditata kembali agar kegiatan hari itu dapat segera dimulai.

Kira-kira pukul 18.00 WIB, Umat yang hendak mengikuti Ekaristi Novena III Maria Fatima di Gua Maria Ngrawoh sudah mulai berdatangan. Melihat kondisi yang demikian, umat pun segera membantu dan mencari alas tempat duduk tambahan (dari koran, kertas dan lainnya) untuk mengurangi basahnya air. Semua orang bekerja bersama-sama dan dengan hati “legawa” memahami keadaan yang terjadi. Ini adalah sebuah berkat tersendiri.

Kalau direnungkan, kondisi macam inipun merupakan bukti kerinduan umat secara rohani. Meski kondisi hujan semacam itu, toh semangat umat untuk menggali inspirasi dan teladan kehidupan iman bersama Bunda Maria tidak juga surut. Bahkan semakin bertambahnya waktu, semakin banyak umat yang datang. Malam itu, hampir 500 orang hadir untuk turut berdoa dan memberikan penghormatan kepada Bunda Maria.

Pukul 18.30, kegiatan Novena III Maria Fatima dibuka dengan doa Rosario bersama. Tidak seperti novena sebelumnya, pada kesempatan ini tata pelaksanaan doa rosario dibuat secara khusus. Selain untuk memberi nuansa khusus pada tempat ziarah ini, doa juga dimaksudkan untuk menambah pemahaman rohani umat dalam kaitannya dengan penghormatan kepada Bunda Maria Fatima. Tata pelaksanaan doa rosario yang dilaksanakan diberi nama Rosario Kerinduan Maria Fatima. Inspirasinya dari penampakan Bunda Maria Fatima, yang menawarkan sendiri doa kerinduan itu.

Perayaan ekaristi dipimpin oleh Rm. Christophorus Tri Wahyono Djati Nugroho, Pr. Adapun tema permenungan yang direfleksikan dalam Novena III ini adalah “Bersama Maria Memanggul Salib sebagai Bentuk Panggilan Kepada Pertobatan”. Tema ini disesuaikan dengan situasi umum pergumulan Gereja yang tengah memasuki masa pantang dan puasa atau masa pertobatan.

Mengawali kotbah, Rm. Djati meminta kelompok koor (dari Wilayah Mateas Masaran) dan umat untuk menyanyikan lagi lagu “Salam Maria”. Memang pada saat ini suasana peziarahan juga begitu bersemangat. Apa lagi kelompok koor yang bertugas mengiringi nyanyian dengan irama “klotekan koplo”. Tambah lagi penabuhnya pun dibantu dari saudara-saudara yang lain keyakinan. Ini juga merupakan berkah tersendiri.

Setelah menyanyikan lagu Salam Maria, Rm. Djati mulai mengajak umat untuk merenungkan motivasi orang datang ke tempat ziarah. Acap kali ditemui pengalaman bahwa orang datang ke tempat ziarah, mengikuti novena, karena memiliki maksud tersendiri, seperti memohon agar sesuatu yang diperlukan dalam hidupnya terkabul­kan. Masalahnya, sesudah per­mohonan­­nya terkabul, banyak orang kemudian meninggal­kan novenanya. Dengan kata lain, karena sudah mendapatkan yang diharapkan maka tidak lagi mau mengikuti (berhenti) novena.

Bunda Maria dalam seluruh kehidupan­nya justru memberikan keteladanan yang lain. Bunda Maria senantiasa bertekun tanpa henti dalam rangka memahami kehendak Allah (bukan kehendaknya sendiri). Inilah Salib yang dipanggul Bunda Maria. Sejak Bunda Maria menjawab warta Malaekat, “ya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendakMu”, seluruh pergumulan hidup Bunda Maria diwarnai dengan salib.

Di saat mengandung mesti mengungsi sampai ke Mesir. Belum lagi mau melahirkan tidak mendapat tempat. Disusah­kan Tuhan Yesus sejak usianya 12 tahun. Namun demikian semua dijalani oleh Bunda Maria dengan keyakinan mendalam akan kehendak Allah. Semua disimpannya dalam batin. Bahkan kesetiaan Bunda Maria itu dituntaskan dengan keyakinannya untuk berdiri di depan Salib Tuhan Yesus sendiri.

Pembelajaran kita untuk me­manggul salib seperti Bunda Maria dapat diarti­kan sebagai langkah keteladanan kita kepada Bunda Maria dalam menanggapi seluruh pergulatan kehidupan kita seturut kehendak Allah. Terlebih dalam peristiwa-peristiwa kehidupan kita yang paling berat, menyakit­kan dan terpuruk. Fonemena per­gulatan hidup kita ini digambarkan dalam Bacaan Injil yang kita dengarkan hari ini (Luk 11:14-23).

Reaksi yang muncul saat Yesus menyembuhkan orang yang kerasukan setan ada 2, yaitu bersyukur/senang dan penolakan atau bahkan permusuhan. Inilah kenyataan yang sering hidup dalam keseharian kita. Ketika ada seseorang yang mencoba berjuang memanggul salib kehidupannya demi kebaikan bersama justru yang muncul adalah reaksi semacam itu. Malahan tidak jarang niatan baik pun ditanggapi dengan sikap penolakan dan permusuhan.

Kalau dalam komunitas kita, pasamuan suci, lingkungan dan bahkan keluarga sudah mulai tumbuh situasi macam begini maka itu pertanda bahwa kuasa Beelzebul sudah mulai hadir di dalamnya. Nantinya yang terjadi pasti situasi tercerai-berai, terkotak-kotak dan saling menyerang untuk mencari kemenangan diri sendiri atau kelompoknya. Hati-hati dengan situasi macam ini? Lama-lama orang akan meninggalkan salib kehidupan­nya dan lari untuk meninggalkan laga perjuangan hidup.

Keyakinan Bunda Maria untuk setia pada kehendak Allah, Roh yang baik dan Kudus, ditegaskan oleh Tuhan Yesus. “Aku mengusir setan dengan Kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang padamu”. Seiring dengan pergumulan kita pada masa prapaskah ini maka jelas bahwa keteladanan Bunda Maria dalam rangka memanggul Salibnya bersama Allah menjadi inspirasi bagi kita semua untuk membawa seluruh perjuangan, persoalan hidup yang berat, tanggung jawab dan harapan hidup kita dibawah kuasa kehendak Allah. Hal ini kita jalani sampai tuntas.

Demikian pula dalam komunitas kita, pasamuan suci, lingkungan dan keluarga kita hendaknya tidak dibawa pada kerajaan Beelzebul yang nantinya akan tercerai berai tetapi pada kuasa kerajaan Allah yang meneguhkan satu dengan yang lain. “Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpul bersama Aku, ia mencerai beraikan”. (Srie)

Related Posts