Misa Novena IV Gua Maria Fatima Ngrawoh: Sesarengan Ibu Mariyah Nggayuh Gesang Enggal Adhedhasar Iman Ing Wungu Dalem Sang Kristus

231037_1530303917856_1842493534_901081_7900887_nNgrawoh, Sragen (LENTERA) – Denting suara siter dan hentakan gendang dari Wilayah Santo Andreas Sragen yang bertugas, menambah kesyahduan situasi Ekaristi Novena III di Gua Maria Fatima Ngrawoh. Sungguh malam hari itu, Ekaristi berjalan dengan “semuwa”. Novena IV diadakan pada Kamis (05/05). Seperti biasa, novena pada kesempatan kali ini dihadiri oleh 400-500 umat. Yang lebih menarik lagi, banyak umat dari luar wilayah Paroki Santa Perawan Maria Fatima Sragen yang turut menghadiri Ekaristi. Beberapa umat dari Paroki Ngawi, Ponorogo dan Madiun pun juga hadir.

Yang tidak kalah menarik perhatian adalah imam yang memimpin Ekaristi. Novena IV ini, menjadi novena pertama yang dipimpin oleh imam dari luar Paroki Sragen. Ekaristi pada Misa Novena IV ini dipimpin oleh Rm. Agus Sulistya, Pr, yang bertugas di Paroki Ngawi, Kesukupan Surabaya. Rm. Agus sangat bersemangat memberikan dukungannya untuk keberadaan tempat doa ini, khobahnya juga sangat menarik, berkobar-kobar, jelas dan “lucu”.

Dalam kotbahnya, Rm. Agus mengajak umat untuk memahami makna dari tema yang direnungkan pada novena kali ini. “Sesarengan Ibu Mariyah, Nggayuh Gesang Enggal Adhedhasar Iman ing Wungu Dalem Sang Kristus”. Tema ini dibagi dalam 3 permenungan Adhedhasar Iman ing Wungu Dalem Sang Kristus. Dan pokok terakhir dari permenungan adalah bagaimana semua makna tersebut mampu mendayai hidup kita sehari-hari dengan dasar iman yang mendalam dan berdaya guna.

Pertama-tama, Rm. Agus mengajak umat untuk mendalami makna “Nggayuh Gesang Enggal”. Mengapa kita perlu mengupayakan hidup baru? Di manakah letak kebaharuan hidup itu? Bukankah setiap hari hidup kita selalu berubah-ubah dan bisa dikatakan sudah nampak ada kebaharuannya? Secara lahiriah, fisik ataupun material, hidup kita memang tampak selalu baru. Hari ini belum ada uban….e besoknya sudah tumbuh uban. Begitu juga kondisi fisik lainnya. Namun demikian, kebaharuan hidup tidak bukan terletak pada soal-soal fisik, lahiriah dan bahkan tambahan material. Kebaharuan yang dimaksud lebih pada soal kualitas hidup.

Hidup baru adalah sebuah upaya yang tanpa henti untuk menjadikan hidup kita semakin berkualitas. Kualitas ini semakin tampak dalam perilaku dan sikap hidup yang semakin menunjukkan kedalaman makna dan hakekat dari manusia yang beriman di tengah-tengah arus zaman. Penyelamatan Yesus Kristus atas dunia bukan untuk membuat baru fisik manusia, tetapi untuk memperbaharui kualitas dan eksistensi kehidupannya.

Kesengsaraan dan WafatNya justru karena kualitas dan eksistensi hidup manusia yang jelek dan lama, yaitu hidup dalam kedosaan. Oleh karena itu, yang menjadi dasar kebaharuan kita adalah daya kebangkitan Kristus itu sendiri. Menjadi jelas untuk dapat “Nggayuh Gesang Enggal” dasarnya adalah “Iman  ing Wungu Dalem Sang Kristus. Inilah makna permenungan kita yang kedua.

Sebuah pesan awal yang disampaikan Yesus kepada Para Murid sesaat setelah kebangkitanNya adalah “Jangan takut….Ia sudah bangkit dan tidak ada lagi di sini….pergilah dan katakanlah kepada murid-muridNya dan Petrus, bahwa Ia mendahului kamu ke Galilea…” (Lih. Mat 16 : 5-8). Inilah pokok permenungan kita. Mengapa yang dipilih Galilea? Dalam Kitab Suci, Galilea mempunyai arti tersendiri. Galilea merupakan tempat pertama para murid bertemu dengan Yesus Kristus. Galilea merupakan tempat di mana para murid dipanggil untuk merasul. Dan Galilea merupakan tempat di mana Yesus Kristus membuat karya-karya besar Kerajaan Allah.

Pilihan tempat Galilea seakan mengajak kita untuk juga kembali pada hakekat terdalam dari iman dan tanggung jawab atas pilihan hidup kita. Kita diajak untuk merenungkan kembali pada makna terdalam dari Janji Baptis kita. Saat itulah kita membuat perjanjian iman dengan Allah dalam Diri Yesus Kristus dan Roh Kudus. Bukan lagi soal ya saya menerima atau ya saya menolak tetapi bagaimana hal ini dihidupi secara nyata. Inilah kebaharuan hidup yang senantiasa perlu dihayati.

Demikian juga denga pilihan kita dengan hidup kita. Bagi keluarga diingatkan kembali untuk menyegarkan kembali janji pernikahan. Untuk para imam dan biarawan diingatkan kembali untuk menyegarkan kembali janji imamat/kaul. Itu bukan sekedar ucapan tetapi sebuah tanggung jawab pilihan hidup yang perlu untuk terus diperjuangkan dan didalami. Karena semua itu bukan sekedar ABC (awalnya Aku pancen tresna kowe; lalu Bener-bener abot urip bebarengan karo sliramu, akhirnya Candhakane aku pengin pisah karo sliramu).

Permenungan ketiga adalah “Sesarengan Ibu Mariyah”. Mengapa kita perlu membangun semangat kebersamaan iman dengan Bunda Maria untuk mengupayakan kebaharuan hidup? Ada kalanya kita menjalani hidup kita dengan dasar keakuan kita. Semua seakan dapat kita lakukan sendiri dan demi diri sendiri. Hal ini membuat kita kurang bersyukur, kurang pasrah dan bahkan melupakan kemahakuasaan Allah dalam hidup kita.

Kehadiran Bunda Maria dalam pergulatan iman kita dapat menjadi inspirasi bagaimana kita menjiwai semangat menggapai kebaharuan hidup kita. Bunda Maria adalah Bunda kita. Ia menjadi sumber segala pengharapan dan permohonan kita. Bahkan Bunda Maria senantiasa setia menemani pergulatan hidup kita. Lihat pengalaman dalam peristiwa pernikahan di Kana. Bunda Maria memberi bantuannya secara total.

Ketika Bunda Maria menerima warta gembira, ketika Bunda Maria mengalami peristiwa kelahiran Yesus yang didatangi oleh 3 sarjana dari Timur dengan berbagai persembahannya, ketika Bunda Maria bingung mencari Yesus yang hilang dibait Allah saat usia 12 tahun, bahkan ketika Bunda Maria menerima Yesus yang wafat dipangkuannya, semua diterima oleh Bunda Maria dengan diam dan merenungkannya dalam hati. Dari sikap ini tampak bahwa Bunda Maria adalah Bunda yang senantiasa setia berefleksi atas hidupnya. Hidupnya mengalami kedekatan personal dengan Allah dan Yesus. Semua direnungkan dan dicari jawabannya dalam hati. Apa kehendak Allah dalam kehidupannya?

Kebersamaan iman kita dengan Bunda Maria seakan mengandung makna ajakan bagi kita untuk terus membangun hubungan kedekatan personal dengan Allah. Kita tidak bisa hanya mengandalkan keakuan kita. Bagaimana caranya? “Ndhedher kapitayan”, yaitu setia dalam doa-doa, mendalami makna kitab suci, memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan (dana driya) dan mati raga serta mengikuti Yesus sampai mati.

Akhirnya, kita semua berharap agar Bunda Maria yang kita harapkan berkenan  hadir di tempat doa ini juga memberi arti tersendiri. Tempat ini bukan menjadi tempat yang hanya baru, dibanding tempat-tempat ziarah yang sudah ada tetapi juga tempat yang mampu memberikan inspirasi bagi hidup iman kita yang berkualitas baru. Saatnya kita bangkit, membangun kualitas hidup kita secara baru melalui kesaksian nyata dalam hidup sehari-hari atas iman kita, seraya mempersiapkan tempat ziarah ini menjadi lebih berkualitas. (Srie Hartanto)

Related Posts

  • 82
    Ngrawoh (LENTERA) - Hari itu, Kamis (31/03), hujan deras sempat mengguyur daerah Ngrawoh dan mungkin wilayah Sragen pada umumnya sejak pukul 16.30 WIB. Gua Maria Fatima Ngrawoh yang sedianya digunakan untuk Misa Novena ke-3 yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa pun tidak luput dari tetesan air yang mengguyur dari “rembesan” atap terpal. Semua basah dan becek.…
    Tags: yang, maria, dan, untuk, bunda, kita, dengan, dalam, ini
  • 81
    Ngrawoh, Sragen (LENTERA) - “Bawa sekar Pocung” yang disusul dengan lagu “Ladrang Ibu Pertiwi”  mengalami proses Ekaristi Novena V di Gua Maria Fatima Ngrawoh, Malem Jum’at Wage, 9 Juni 2011. Pada kesempatan kali ini Wilayah Sidoarjo “didhapuk” menjadi petugas liturgi dan koor. Seperti biasa, novena pada kesempatan kali ini dihadiri oleh 400-500 umat. Yang lebih…
    Tags: yang, maria, dan, dalam, bunda, kita, ini, untuk, dengan, hidup
  • 79
    Ngrawoh (LENTERA) – Perayaan Misa Novena Plus kedua, Kamis (24/02) boleh dikatakan semakin semarak. Hal ini terlihat dari antusiasme umat yang hadir lebih dari 500 orang. Sungguh merupakan kegembiraan tersendiri. Tidak hanya itu, kerelaan umat dalam mengikuti perayaan meski duduk berdesakan dan bahkan di luar tenda karena tempat yang terbatas,  sungguh menjadi tanda kerinduan umat…
    Tags: yang, dan, untuk, maria, dalam, ini, bunda, dari, hidup, kita