10 Perintah Allah & Pancasila menuntun Kaum Kristiani membangun kedamaian
Sejak dihilangkannya Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan ( PPKn) diganti dengan Pendikan Kewarganegaraan ( PKn ), cita-cita luhur bangsa yang terkandung dalan nilai-nilai Pancasila akhirnya tergerus zaman. Pancasila kini tak lagi menjadi mata pelajaran / kuliah wajib bagi siswa sekolah maupun perguruan tinggi.
Dalam aplikasinya, pembelajaran PKn cenderung berorientasi pada mencetak peserta didik menjadi siswa yang patuh dan taat pada hokum, bukan penanaman nilai kebangsaan, kerukunan, dan keutuhan berbangsa.
Dengan demikian generasi muda sekarang kurang mengenal lagi dasar berbangsa dan bernegara. Akibat dari pergeseran itu tak urung kaum muda sekarang lebih mudah tergoda idieologi lain , seperti liberalisme, kapitalisme, militerisme, komunisme, dan idieologi lain yang tak relevan dengan idieologi Pancasila.
Idieologi adalah seperangkat pikiran baik bagi seseorang maupun kelompok yang telah diyakini kebenarannya dalam mencapai tujuan hidupnya.
Para pendahulu yang berkecimpung memproses menjadikannya Pancasila sebagai dasar negara telah mewariskan nilai-nilai luhur yang digali dari masyarakat, seperti kerukunan, musyawarah, gotong-royong, rela berkorban, saling menghargai, terbukti telah berhasil menyatukan bangsa ini, karena idilogi Pancasila paling cocok untuk negeri tercinta Indonesia.
Fenomena di atas tentu menjadikan keprihatinan bagi kita semua terutama bagi para stakeholder pendidikan ( guru, orang tua, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta pihak-pihak lain yang ikut berkecimpung di dunia pendidikan ).
Sesuai dengan iman Katolik, tak perlu mendramatisir permasalahan global ini, namun semaksimal mungkin berupaya menanamkan kasih kepada semua pihak tanpa memandang dari golongan apakah sasaran kita. Telah dimengerti bahwa kurukulum pendidikan yang dipakai sejak dihapuskannya PPKn menjadi PKn (th 2004), peran guru sangat penting dalam merancang kurikulum sekolah yang lebih mengarah pada pembentukan karakter siswa didik (caracter building). Menerjemahkan kurikulum PKn dengan contoh-contoh kongret disertai keteladanan kristiani yang meyakinkan tentu anak didik akan lebih mudah untuk memprakktekan dalam hidup bermasyarakat.
Modal utama untuk mendasari hidup bermasyarakat adalah nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila. Seperti halnya kita mentrapkan Sepuluh Perintah Allah di masyarakat, Perintah ke –1 s/d ke-3 : mencerminkan hubungan kasih manusia dengan Allah, dan perintah ke-4 s/d10 : praktik komunikasi manusia dengan sesama dilandasi kepentingan Roh Kudus juga. Dalam Pancasia, sila ke-1 Pancasiala : merupakan praktik hidup dalam hubungannya dengan Allah, serta sila ke-2 s/d 5 : adalah kongretnya hubungan sesama manusia.
Inilah nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut antara lain sebagai berikut :
a. Sila I. Ketuhanan Yang Maha Esa, mengandung nilai-nilai religius sebagai
berikut :
1. Keyakinan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa beserta sifat-sifat-
Nya yang maha segalanya.
2. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
3. Setiap warga negara Indonesia harus memeluk salah satu agama,
melakukan ibadah sesuai agamanya secara taat, serta menghormati
pemeluk agama lain.
b. Sila II. Kemanusiaan yang adil dan beradap, mengandung nilai-nilai
kemanusiaan sebagai berikut :
1. Pengakuan terhadap adanya martabat manusia.
2. Selalu bersikap adil.
3. Menghargai hak dan kewajiban orang lain.
4. Bersikap tenggang rasa dan mau melakukan kegiatan kemanusiaan.
c. Sila III. Persatuan Indonesia, mengandung nilai persatuan bangsa sebagai
berikut :
1. Pengakuan terhadap keanekaragaman bangsa Indonesia.
2. Lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas
kepentingan pribadi dan golongan.
3. Mengembangkan sikap berkorban, cinta tanah air, dan menjaga
persatuan Indonesia.
4. Memiliki semangat Bhinneka Tunggal Ika.
d. Sila IV. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan, mengandung nilai kerakyatan sebagai
berikut :
1, Kedaulatan di tangan rakyat.
2. Manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat
Indonesia mempunyai hak dan kewajiban yang sama di depan hukum.
3. Mengutamakan musyawarah mufakat dalam mengambil keputusan dan
menghormati serta melaksanakan hasil keputusan.
4. Mengembangkan sikap kekeluargaan.
e. Sila V. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, mengandung niai
keadilan sosial sebagai berikut :
1. Selalu bersikap adil.
2. Menghormati hak orang lain.
3.Membantu orang lain.
4. Bersikap hemat.
5. Menghargai hasil karya orang lain.
Harapan yang ingin dicapai, semakin terwujudnya masyarakat damai sejahtera ! Dengan semangat : happy, commited, dan professional, yang terilhami renungan sebulan penuh Devosi Ekaristi Bulan Maria dan Katekese Liturgi 2011 pada Mei yang lalu, mari kita wujudnyatakan cita-cita masyarakat yang Pancasilais sejati.
Andreas Djumali
Guru Sekolah Minggu Lingkungan
Tinggal di lingkungan St.Petrus Margo Asri, Paroki Sragen
Filed Under: Renungan
Comments
No Comments
Leave a reply