Seputar Ajaran Sosial Gereja

Oleh: C. Dwi Atmadi

vaticanAjaran Sosial Gereja sebenarnya adalah ajaran Gereja yang diperuntukkan bagi kebaikan bersama (common good) dalam masyarakat, untuk mengarahkan masyarakat kepada kebahagiaan. Banyak orang menghubungkan surat ensiklik Bapa Paus Leo XIII, Rerum Novarum, tahun 1891, sebagai tanggapan Gereja Katolik yang nyata terhadap keadaan krisis sosial dunia.  Namun sebenarnya, keberadaan ajaran sosial Gereja telah ada sejak lama, bahkan sejak jaman Perjanjian Lama

Ensiklik-ensiklik sosial itu tidak lepas dari konteks sejarahnya. Inilah kelebihan dan menariknya mempelajari teks-teks karena tidak lepas dari konteksnya. Misalnya, Ensiklik pertama Rerum Novarum (1891) sendiri lahir dalam konteks ketegangan dua kubu ideologi besar saat itu, yakni kapitalisme dan sosialisme-komunisme. Pacem in Terris (Damai di Bumi, 1963) lahir karena krisis nuklir, paska Krisis Misil di Kuba (1962) dan pembangunan Tem-bok Berlin. Ensiklik Quadragessimo Anno lahir dalam konteks Perang Dunia I (1914-1918), Perang Dunia II, Rasisme Jerman, Komunisme Soviet, Fasisme Mussolini, dan krisis ekonomi dunia yang dikenal dengan The Great Depression. Ensiklik Rerum Novarum membahas tentang kondisi kelas kerja pada waktu itu, yakni buruh.

Paus Leo XIII prihatin pada kondisi buruk para buruh, khususnya di negara-negara industri. Dilihat sejarahnya, ini sebagai dampak dari Revolusi Industri yang melahirkan pembagian kelas sosial, yakni kelas kapitalis (majikan) dan kelas pekerja (buruh). Para pecandu Marx sering mengkaitkan ini dengan gagas-annya tentang Das Kapital dan relasi kapital dan pekerja. Ensiklik kedua Quadragessimo Anno. Ensiklik ini ditulis oleh Paus Pius XI pada peringatan 40 tahun lahirnya Rerum Novarum. Pius XI mengkritik tajam penyalahgunaan kapitalisme dan komunisme dan berusaha menyesuaikan Pengajaran Sosial Katolik dengan keadaan yang sudah berubah.

Pius XI memperluas keprihatinan Gereja akan kaum buruh miskin, termasuk struktur-struktur yang menindas mereka. Paus inilah yang pertama kali menggulir­kan istilah subsidiaritas dalam usaha membantu kaum buruh dan masyarakat tertindas. Mater et Magistra (Paus Yohanes XXIII, 15 Mei 1961) dan Pacem in Terris, Paus Yohanes XXIII, 11 April 1963), menyampaikan sejumlah petunjuk bagi umat Kristiani dan para pengambil kebijakan dalam menghadapi kesenjangan antara bangsa-bangsa yang kaya dan yang miskin, dan ancaman terhadap perdamaian dunia. Paus mengajak orang Kristiani dan semua orang yang berkehendak baik bekerja sama menciptakan lembaga-lembaga sosial, sekaligus menghormati martabat manusia serta menegakkan keadilan dan perdamaian.

Gaudium et Spes, Konsili Vatikan II, 7 Desember 1965, konsili meneguhkan bahwa perutusan khas religius Gereja memberinya tugas terang, dan kekuatan yang dapat membantu pembentukan dan pemantapan masyarakat manusia menurut hukum ilahi. Keadaan, waktu, dan tempat menuntut Gereja agar dapat dan bahkan harus memulai kegiat-an sosial demi semua orang.

Paulus VI dalam ensiklik Populorum Progressio (1967) dan surat apostolik Octogesima Adveniens (1971) menegaskan masalah sosial, yang kini menjadi tajam terutama di Amerika Latin. Keduanya menghimbau agar negara kaya dan negara miskin bekerja sama menciptakan tata keadilan dan tata dunia.

Laborem Exercens, Hakikat Kerja, Paus Yohanes Paulus II, 14 September 1981 berisi pandangan Katolik mengenai kerja manusia. Dari kerja, manusia memperoleh martabatnya yang istimewa. Penaklukan bumi (dalam arti luas) hanya bisa dilakukan melalui kerja. Bekerja memampukan manusia mencapai kedaulatannya dalam dunia yang kelihatan sebagaimana layaknya baginya. Kerja akan lebih memanusiawikan pelakunya. Kerja adalah kunci persoalan sosial. Kendatipun kerja merupakan sesuatu  yg mulia, namun kenyataannya para pelaku kerja justru mengalami berbagai penderitaan dalam menjalani kerja. Hal ini diakibatkan oleh pandangan umum ma-syarakat yang keliru dalam memaknai kerja. Kerja lebih dipandang sebagai barang dagangan. Buktinya manusia diperdagangkan, kerja hanya dihubungkan dengan pencarian uang, dan tentu banyak lagi yang diungkap oleh dokumen ini terutama dalam menanggapi persoalan modern berupa kesenjangan dan penghisapan satu kelompok manusia terhadap kelompok yang lain. Dan harus tetap diakui bahwa dokumen ini tak seperti teori-teori sosial lainya, yang menawarkan rumusan kongkret untuk mengatasi persoalan sosial yang kompleks ini.

Sollicitudo Rei Socialis (Keprihatinan Sosial) tahun 1987 tentang meningkatnya jumlah penderita kemiskinan dan stuktur-struktur dosa yang membelenggu masyarakat. Dan terakhir, Centesimus Annus (Ulang tahun Ke-100 Rerum Novarum) tahun 1991. Dokumen yg lahir pada ulang tahun ke-100 Rerum Novarum ini menanggapi keruntuhan komunis internasional dan masyarakat barat yang konsumtif. Gereja diharapkan terus belajar untuk bergumul dengan masalah-masalah sosial.

Demikianlah seputar isi ASG. ASG merupakan jawaban Gereja atas situasi dunia. Paus Benedictus XVI dikabarkan dalam situs berita Katolik sedang mempersiapkan ensiklik sosial pertamanya yg isunya berjudul Labor Domini. Tidak lupa juga pada tahun ini diperingati 120 tahun lahirnya Rerum Novarum.

dari berbagai sumber

Filed Under: Fokus

Comments

No Comments

Leave a reply