Misa Novena ke-2 Gua Maria Fatima Ngrawoh: PERTOBATAN: Berdamai dengan Allah & Semakin Peduli serta Berbagi

ngrawoh 2Ngrawoh (LENTERA) – “Dalu punika anginipun santer sanget. Bergemuruh seperti pertanda datang Roh Kudus”, begitulah ungkapan Rm. Yohanes  Ari Purnomo, Pr ketika membuka Perayaan Ekaristi Novena II di Gua Maria Fatima Ngrawoh. Hari itu, Kamis (15/03) memang hembusan angin yang cukup kencang menerpa wilayah Ngrawoh dan sekitarnya. Keadaan ini mewarnai suasana sepanjang perayaan Ekaristi malam hari itu.

Novena II kali ini, umat Wilayah Santo Simon Gondang dipercaya sebagai petugas liturgi. Sementara itu, untuk petugas Koor, Wilayah St. Simon Gondang dibantu oleh kelompok Simphoni Gratia. Hal ini menjadikan perayaan ekaristi malam itu semakin semuwa. Tema yang diambil dalam Perayaan Ekaristi Novena II adalah PERTOBATAN: Berdamai dengan Allah dan Semakin Peduli serta Berbagi.

Dalam khotbahnya Rm. Yohanes Ari Purnomo, Pr menyampaikan bahwa pertobatan adalah pokok utama dalam perjalanan hidup iman orang kristiani. Dalam tradisi kehidupan orang Jawa, kita sering mendengar istilah kapok ketika seorang anak dihukum orang tuanya karena berbuat salah. Kapok biasanya diartikan sebagai bentuk sikap untuk tidak mau melakukan hal itu lagi. Dalam tradisi iman Kristiani, sikap ini disebut dengan metanoia. Bacaan I, kisah pertobatan Saulus, dapat menjadi inspirasi bagi kita bagaimana seharusnya membangun semangat per-tobatan.

Perlu disadari, hidup adalah sebuah peziarahan panjang bersama dengan Allah. Oleh karena itu, perjuangan yang mesti kita lakukan adalah bagaimana membuat hidup kita ini menjadi semakin berarti di hadapan Allah. Inilah rahasia besar kehendak Allah dalam tata penyelamatan, yaitu membangun relasi personal dan intim bersama dengan Allah. Hal ini dapat kita rasakan ketika kita berjumpa dengan pengalaman kematian. Kematian merupakan simbolisasi dosa, yaitu keterputusan hubungan dengan Allah. Dalam kondisi kedosaan seperti ini, orang dibawa pada pengalaman kesepian, kesendirian dan putusnya kedalaman relasional dengan sesama dan Allah.

Bertobat bukan semata-mata didasar¬kan pada kemampuan kita. Dengan kata lain, adalah tidak benar kalau bertobat hanya didasarkan pada semangat dan sikap bahwa saya mampu dan bisa, mentang-mentang diri. Pertobatan adalah sebuah bentuk dan upaya untuk mengosongkan diri agar dipenuhi oleh Allah dalam RohNya. Dengan kata lain, pertobatan adalah sebuah rahmat. Karena kemauan kita untuk membuka diri pada Roh Kudus itulah maka Allah menuntun kita dimampukan untuk bertobat. Oleh karena itu, jangan pernah merasa atau bahkan menjadi sok suci.

St. Yohanes Maria Vianney pernah mengatakan “Jangan kita berpikir bahwa Tuhan akan mengasihi kita secara semena-mena. Tuhan tahu atas dosa-dosa kita dan pasti akan memberikan pengampunannya tanpa syarat. Sekali-kali kukatakan tidak. Tuhan adalah Allah yang adil. Ia akan mengadili orang menurut tindakannya. Kesadaran untuk terus membangun semangat dan sikap pertobatan adalah hal penting dalam hidup kita. Jadi jangan pernah merasa kita mesti diampuni begitu saja. Semua tergantung pada kerahiman Allah.

Lebih lanjut Rm. Ari mengatakan bahwa bacaaan II mengantar kita untuk menjadi kaya karena Allah. Kaya karena Allah itu tampak dalam kepedulian kita sehari-hari dengan saudara-saudara KLMTD dan pendosa. “…..Aku berkata kepadamu: sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (lih. Mat 25:40.45). Inilah hakekat kedalaman dari tema pergumulan yang kita renungkan malam hari ini.

Kita bersyukur bahwa dalam kehidupan iman kita ada Bunda Maria. Keteladanan Bunda Maria dalam me-ngosongkan diri dapat menjadi inspirasi dalam kehidupan iman kita. Tidak hanya itu, Bunda Maria ternyata juga memberikan keteladanan yang berarti bagi kita dalam hal berbagi hidup dengan orang lain. Bunda Maria mendedekasikan dan memberikan seluruh hidupnya bagi Allah dan sesama.

Pesan Bunda Maria dalam setiap penampakannya di Fatima jelas, yaitu BERTOBAT. Pertobatan dalam arti yang sederhana dipahami sebagai bentuk hidup suci dan keberanian untuk meninggalkan keduniawian. “Manusia harus memperbaiki kelakuannya serta memohon ampun atas dosa-dosanya. MEREKA TIDAK BOLEH LAGI MENGHINA TUHAN YANG SUDAH BEGITU BANYAK KALI DIHINAKAN.”

Sangat disadari bahwa pada zaman sekarang ini banyak manusia yang makin hari makin “ngenthengke Gusti”. Ungkapan-ungkapan spontan dalam hidup sehari-hari menjadi bentuk sikap ngenthengke Gusti ini, seperti ra papa mung thithik….Gusti ngerti kok nek awake dhewe wong dosa…. Dari sikap seperti ini, yang akhirnya muncul adalah makin pupusnya hati nurani. Orang menjadi toleran dengan perbuatan berdosa. Ra papa ming thithik wae….

Rasanya menarik kalau kita belajar dari filosofi orang Jawa dalam memaknai kehidupan. Orang Jawa memperjuangkan 4 tahap dalam rangkan mencapai kesempurnaan hidup, yaitu Sariat (per-gumulan hidup dalam tataran legal formal), tarekat (mengedepankan kebenaran kasih sebagai spiritualitas hidup), hakekat (doa menjadi makna terdalam dari perjumpaan Allah dan manusia), makrifat (manung¬galing kawula Gusti/kesatuan dengan Allah dalam seluruh hidup).

Akhirnya, kita semua berharap bahwa tempat doa ini sungguh-sungguh menjadi sarana untuk menemukan kehendak Allah untuk semua orang melalui keteladanan Bunda Maria. Tempat doa ini menjadi semacam perjuangan hidup dan iman kita yang semakin nyata dalam bentuk peduli dan berbagi. Mari kita wujudkan bersama….!!! (Sri)

Related Posts

  • 81
    Hari Minggu ke-33 di Masa Biasa 19 November 2017 Marilah kita mencintai, bukan dengan kata-kata melainkan dengan perbuatan 1. "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran" (1 Yoh 3:18), Kata-kata rasul Yohanes ini menyuarakan perintah yang tidak boleh diabaikan oleh orang Kristen manapun. Kesungguhan dalam perintah…
    Tags: dan, yang, kita, orang, dalam, ini, dengan
  • 80
    Ngrawoh (LENTERA) - Hari itu, Kamis (31/03), hujan deras sempat mengguyur daerah Ngrawoh dan mungkin wilayah Sragen pada umumnya sejak pukul 16.30 WIB. Gua Maria Fatima Ngrawoh yang sedianya digunakan untuk Misa Novena ke-3 yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa pun tidak luput dari tetesan air yang mengguyur dari “rembesan” atap terpal. Semua basah dan becek.…
    Tags: yang, maria, dan, untuk, kita, dengan, dalam, ini, itu, allah
  • 77
    PESAN PAUS BENEDIKTUS XVI HARI MINGGU DOA PANGGILAN SEDUNIA KE-46 3 Mei 2009 PANGGILAN : INISIATIF ALLAH DAN JAWABAN MANUSIA Saudara-saudariku terkasih, Bertepatan dengan Hari Doa untuk Panggilan Sedunia yang akan berlangsung pada Hari Minggu ke-4 Masa Paska, tanggal 3 Mei 2009, izinkanlah saya mengajak seluruh umat kristiani untuk merenungkan tema: Panggilan, Inisiatif Allah dan…
    Tags: yang, dan, dalam, allah, untuk, dengan, kita