Tobat: Memperbaharui Martabat Manusia

rebo awuPernah lihat mobil penuh dengan debu? Ditemukan sepeda motor yang bergelepotan tanah? Pasti pemiliknya jarang or gak pernah mencucinya, sehingga memancing tangan-tangan jahil menulis komentar yang bernada sinis dan mengejek: “kapan aku dicuci”, “pemalas alias kesed”, “ikh, jorok!” dll. Nah, kondisi kotor pada kendaraan seperti itu bisa mengurangi rasa ketertarikan, orang menjadi malas memandang apalagi menyentuh. Kendaraan itu tidak dihargai sebagai alat transportasi  yang harus diperhatikan dan dicintai, dengan kata lain martabat kendaraan tersebut merosot.

Itulah gambaran manusia yang berdosa, karena dosa-dosanya manusia merosot martabatnya sebagai ciptaan Tuhan, apalagi sebagai anak-anak Allah. Pertobatan dan pengampunan adalah sarana untuk memperbaiki martabat manusia agar sesuai dengan citranya sebagai “gambar dan rupa Allah” (bdk Kej 1, 26). Memang, bertobat berkali-kali dengan dosa yang sama bisa menjadi sebab kebosanan, tetapi orang yang tidak pernah bertobat ibarat orang yang tidak pernah mandi, sulit dibayangkan kondisinya.

Baru saja kita melewati tahun 2014, selama ini kita diajak untuk semakin mendalami iman melalui apa yang disebut “formatio iman”. Gereja Keuskupan Agung Semarang mencanangkan hal itu dalam rangka untuk menanggapi Tahun Iman (Oktober 2012-Oktober 2013) yang ditetapkan oleh Bapa Suci Paus Benedictus XVI berkaitan dengan peringatan 50 tahun Konsili Vatikan II.

“Formatio Iman” berkaitan dengan pelayanan iman mulai dari kegiatan liturgi, pewartaan, pelayanan dan paguyuban bagi orang-orang yang telah dibaptis. Dengan kata lain “formatio iman” adalah sebuah proses menjadikan orang-orang katolik semakin memahami imannya, semakin mengahayati identitas dirinya sebagai murid Kristus yang dipanggil dan diutus menjadi saksi pada jamannya, sehingga hidup mereka menjadi semakin relevan dan signifikan.

Namun dalam kehidupan Yesus menjadi nyata bahwa iman itu tidak cukup jika hanya dimengerti, tetapi harus diungkapkan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam suratnya, Santo Yakobus menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati (bdk Yak 2,17). Itulah sebabnya dalam rangka membangun sikap pertobatan selama masa prapaska, kita diajak menghayati iman akan cinta kasih Allah. Hal itu diwujudkan dengan merayakan sakramen tobat, saling mengampuni dan aksi puasa pembangunan. Dengan cara ini diharapkan kita semakin menjadi manusia utuh dan bermartabat.

Diingatkan bahwa martabat kita sebagai manusia di hadapan Allah adalah menjadi anak-anakNya, berkat sakramen pembaptisan.  Dia yang tidak menjatuhkan hukuman kepada pendosa yang dihadapkan kepadaNya itu sama dengan dia yang nanti wafat di kayu salib menanggung dosa-dosa orang lain dan kemudian bangkit dan tidak lagi tertindih oleh dosa dan hukuman. Yang bersedia menerima warta ini bakal ikut mendapat kekuatan untuk tidak membiarkan diri terus ditindih dosa dan hukuman, kalau ia sungguh bertobat.

Kisah perempuan berdosa yang diceritakan dalam Injil Yohanes (Yoh 8,1-11) terjadi di dalam Bait Allah, pusat kekayaan spiritual. Ke sanalah orang-orang berkiblat, di situlah orang bertanya, di tempat inilah diberikan jawaban dari Tuhan. Dan jawaban ini berwujud manusia yang dapat dikenali, dapat diajak berdialog, dapat dibayang-bayangkan. Tetapi juga bisa dijauhi, dimusuhi, dan dibunuh. Kehadiran Tuhan seperti ini membuat orang perlu berpikir lebih dalam.Tidak bisa dikatakan bahwa Yesus benar-benar mencatat atau menulis sesuatu. Juga tidak bisa dikatakan Yesus tidak menggubris para ahli Taurat dan orang Farisi yang datang kepadaNya. Sebaliknya, pencerita malahan menyarankan bahwa Yesus siap mencatat dan menulis bila memang ada yang patut dituliskan saat itu. Penjelasan ini ada hubungannya dengan perubahan postur tubuh Yesus. Dari duduk mengajar, Yesus membungkuk mencatat dan menulis. Apa artinya? Dengan perubahan postur tubuh itu Ia hendak menunjukkan bahwa ia mau mencatat dan menuliskan kebijaksanaan para ahli Kitab dan orang Farisi bila mereka memang memiliki sesuatu yang dapat diajarkan. Tapi para ahli Taurat dan orang Farisi itu tidak berani menerima peralihan peran itu. Bahkan mereka “terus menerus bertanya kepadanya” (ayat 7).

Pada saat itulah Yesus bangkit berdiri lalu berkata, “Siapa saja di antara kamu tidak berdosa hendaklah ia yang pertama yang melemparkan batu kepada perempuan ini” (ayat 7). Segera sesudah berkata demikian Ia membungkuk lagi dan siap menulis di tanah, supaya bisa dilihat semua yang hadir. Sekali lagi Ia meminta mereka mengajarkan apa yang bisa Ia tuliskan, Ia siap untuk itu. Apa yang terjadi? Satu per satu mereka pergi meninggalkan tempat itu, mulai dari yang paling senior. Yesus tidak menyaingi para ahli Taurat dan orang Farisi atau mengecilkan peran mereka. Ia justru minta mereka menunjukkan apa mereka dapat mengajarkan sesuatu yang patut dicatat dan ditulis bagi orang banyak. Ternyata tak ada seorangpun yang berani tampil. Mengapa? Di hadapan orang yang tulus hati ini, suara hati ahli Taurat dan orang Farisi itu sendiri sungguh diuji. Hasilnya, mereka mengakui bahwa tak satupun dari antara mereka layak di hadapan Allah, mereka itu juga orang-orang yang mempunyai dosa dan cacat cela.

Menurut keyakinan saya, orang layak dihargai martabatnya kalau berani mengakui kekurangan maupun kesalahannya, bukan malahan menyalahkan orang lain hingga menuntut praperadilan dsb. Maka, marilah kita bersyukur atas kebaikan dan belas kasihan Allah yang selalu memberi kesempatan kepada umatNya untuk memperbaiki diri, agar kita layak dan bermartabat di hadapanNya!

 

Romo FX Suyamta Kirnasucitra, Pr

Romo Paroki Sragen

 

 

Related Posts

  • 80
    Pesan Yesus kepada para murid: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:19-20). Perintah Yesus itu diberi keterangan waktu: ‘sampai akhir zaman’. Dari…
    Tags: yang, dan, orang, tidak, dengan, iman, di, itu
  • 71
    Budaya Kristiani adalah budaya kasih. Hal pokok ajaran ini yang diajarkan oleh Kristus ketika para ahli hukum Yahudi datang kepada Yesus dan menanyakan hukum mana yang paling utama. Yesus pada saat itu menjawab: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang…
    Tags: yang, dan, orang, dengan, itu, tidak
  • 70
    Saat tulisan ini dibuat, bersamaan waktunya dengan tahun ajaran baru atau lebih tepatnya saat penerimaan siswa baru sekolah. Ada yang bersuka-cita karena mendapat nilai yang bagus dalam ujian akhir nasional. Namun, dengan gampang kita temukan wajah- wajah yang tertunduk lesu karena nilai ujian yang didapat pas-pasan. Standar penerimaan siswa baru salah satunya memang mensyaratkan adanya…
    Tags: yang, dan, itu, di, tidak