Tobat: Mengembalikan Martabat Manusia

tobat‘Pertobatan’ mungkin merupakan salah satu aspek kehidupan orang Kristiani yang paling gencar dipromosikan, tetapi paling sedikit dipraktekkan. Ada banyak faktor yang menjadi penyebap mengapa orang tidak rutin untuk ‘bertobat’. Ada faktor kemalasan. Ada yang beralasan terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Ada juga yang bahkan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang harus dilakukan. Sangat disayangkan, karena pada kenyataannya pertobatan merupakan salah satu kunci agar kita bisa meraih kemenangan dalam iman sepanjang hari. Dengan membiasakan diri melakukan pertobatan, sama artinya kita sedang memilih kehidupan yang diberkati oleh tangan Allah. Semakin sering kita datang menghampiri Tuhan di dalam pertobatan, semakin deras berkat-Nya, mengalir atas hidup kita. Berkat tidak identik dengan uang atau harta benda. Berkat bisa berupa suka cita, damai sejahtera dan kesehatan. Masih beranikan kita berpikir kalau pertobatan itu tidak berguna?

Pertobatan menjadi salah satu perkakas, tool, yang dimiliki oleh orang Kristiani untuk hidup yang berkemenangan. Lantas, mengapa kita perlu sungguh-sungguh bertobat? Sebagai sebuah ilustrasi, ketika suatu saat kita mengami gejala-gejala tidak enak badan, kita segera pergi ke dokter atau pergi ke apotek untuk mendapatkan obat yang cocok, karena ingin segera sembuh. Dalam hal penyakit fisik ini, kita lebih mudah untuk mengenali gejala-gejala yang timbul dan segera untuk mengobatinya. Sebaliknya, dalam penyakit non fisik – yang  berhubungan dengan psikis dan rohani –   walaupun akan sulit untuk mengenali gejala-gejala yang timbul, seharusnya kita lebih jeli untuk mengenalinya, supaya kalau ada penyakit di dalam diri kita (penyakit non fisik), kita bisa segera mengupayakan obat untuk menyembuhkannya, sebab kalau penyakit tersebut kita biarkan terus menerus pasti akan membawa kita kepada keadaan yang lebih buruk, bahkan bisa mengakibatkan kematian (bdk. 1 Kor 15: 55b-56a).

Kedengarannya aneh, tetapi nyata! Terhadap penyakit yang bisa membawa maut ini sering kita tidak merasa takut. Kita merasa nyaman, tenang-tenang saja. Kita membiarkannya tetap bercokol dan menggerogoti jiwa kita selama berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Sangat disayangkan!

Ada lagi sebuah ilustrasi. Pasti, dalam kehidupan kita, kita pernah punya rencana untuk membeli sepeda motor baru, mobil baru, atau rumah baru. Berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun, kita mesti menabung, mengurangi kesenangan supaya dana  terkumpul untuk untuk mewujudkan recana itu. Dalam hal ini, sangat dibutuhkan sikap prihatin. Demikian juga halnya yang terjadi dalam kehidupan beriman kita. Untuk mencapai kebahagiaan atau kemenangan atas kerapuhan jasmaniah ini, kita mengadakan olah rohani dengan bermatiraga. Dalam tradisi Gereja Katoli, sering dikenal dengan ungkapan Masa Prapakah, yaitu masa ‘pertobatan.’ Di mana kita mengandalkan rahmat Tuhan untuk membongkar keinginan-keinginan badan atau nafsu jasmani yang tidak teratur menuju kepada kesucian hidup. Masa ‘tobat’, masa penuh rahmat, di mana Allah selalu bersabar menerima kita untuk kembali menjadi manusia yang bermartabat.

Dalam Tradisi Gereja, puasa merupakan ibadat yang penting, yang dilaksanakan umat sebagai persiapan untuk perayaan-perayaan besar, khususnya perayaan Paskah. Masa Prapaskah  secara resmi ditetapkan oleh Gereja Katolik sebagai masa pantang dan puasa, tetapi selama masa prapaskah itu hari puasa resmi hanya dua hari, yaitu Rabu Abu dan Jumat Agung. Puasa Paskah harus dipandang keramat dan harus dilaksanakan di mana-mana, pada hari Jumat Agung. Bila mungkin, puasai ini hendaknya diperpanjang sampai Sabtu Suci. Namun, Gereja sangat menghargai umatnya yang berpuasa penuh selama 40 hari menjelang Paskah, meneladan cara berpuasa Musa, Elia, dan Yesus. Di samping itu, secara pribadi, umat Kristiani disarankan untuk berpuasa pada hari-hari yang dipilihnya sendiri sebagai ungkapan tobat dan laku tapa. Puasa ini bermanfaat untuk membangun semangat doa dan pengendalian diri, serta menumbuhkan semangat setia kawan dengan sesama yang berkekurangan.

Berikut buah-buah pertobatan yang bisa kita nikmati, pertama, kita mengalami perdamaian dengan Allah. Kedua, kita mengalami perdamaian dengan komunitas Gereja. Ketiga, kita mengalami penyembuhan secara utuh yaitu luka-luka batin. Keempat, kita mengalami pembebasan dari siksa abadi. Kelima, kita mengalami ketenangan batin dan hiburan rohani untuk mendapatkan buah-buah pertobatan yang akan menjadikan manusia bermartabat. Kita harus memiliki waktu pribadi dengan Allah dengan demikian kita bisa mendapatkan pertobatan yang mengubah hidup kita. Kita bisa mengalami terobosan dan menerima penggenapan dari setiap janji  yang Tuhan taruh di dalam kehidupan kita. Pertobatan yang kita lakukan akan menjadi dasar esensial bagi perilaku, tindakan, keputusan kita bila berjalan di dalam kehendak Tuhan, walking in God Destiny, TOBAT akan mengembalikan martabat manusia.

Ibu Ani Rahayu

 

Related Posts

  • 88
    Dibacakan/diterangkan hari Sabtu-Minggu, 21-22 Januari 2017 “Menghadirkan Gereja Yang Inklusif, Inovatif dan Transformatif dalam Masyarakat Multikultural” Saudari-saudaraku yang terkasih, Kita semua bersyukur memasuki tahun kedua Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS KAS) 2016-2020. Tema pelayanan pastoral tahun 2017 adalah “Menjadi Gereja yang Inklusif, Inovatif dan Transformatif yang Hidup Bergairah dalam Masyarakat Multikultural”. Tema ini berbingkai…
    Tags: yang, dan, dalam, kita, dengan, untuk
  • 88
    Diterangkan/dibacakan pada Sabtu – Minggu, 14 – 15 Oktober 2017 “ MEMBANGUN GIZI ” Saudari-saudaraku yang terkasih, Hari Pangan Sedunia (HPS) diperingati setiap tanggal 16 Oktober. Peringatan HPS merupakan salah satu resolusi atau putusan bersama Konferensi Negara-negara anggota Food and Agriculture Organization (FAO) yang diselenggarakan pada bulan November 1976 di Roma. Sebagai resolusi bersama, Negara-negara…
    Tags: dan, yang, kita, dengan, untuk, dalam
  • 87
    “Diutus Menjadi Garam dan Terang Bagi Masyarakat” Dibacakan/diterangkan pada hari Sabtu-Minggu, 6-7 Februari 2016     Saudara-saudariku yang terkasih Memasuki tahun 2016, umat Allah KAS telah memiliki ARDAS VII untuk periode 2016-2020. Dalam semangat ARDAS yang baru ini, kita ingin menapaki peziarahan iman, dengan bergotong royong memperjuangkan Peradaban Kasih melalui hidup bersama yang sejahtera, bermartabat…
    Tags: dan, yang, kita, dalam