Arif Dalam Menggunakan Teknologi Informasi

PopesocialmediaBapa Suci emeritus Benedictus XVI pernah berkata bahwa internet adalah mukjizat di abad ini. Sebagai pribadi yang sudah lanjut usia bahkan beliau tidak mau ketinggalan untuk selalu menggunakan media elektronik dan digital dalam menyebarkan dan mensosialisasikan pandangan-pandangan beliau. Begitu pula Bapa Suci Paus Fransiskus. Beliau memiliki berbagai akun media sosial di dunia maya, bahkan akun twitter beliau followernya berpuluh-puluh juta netizen.

Bapak Uskup Agung kita Mgr. Johannes Pujasumarta, sewaktu beliau masih menjadi vikaris jendral Keuskupan Agung Semarang sudah sangat aktif di dunia maya. Setelah menjadi uskup beliau mempunyai beberapa akun facebook, bahkan dulu pernah mempunyai blog pribadi. Di kalangan para uskup dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) beliau dikenal atau dijuluki sebagai ‘uskup internet’. Beliau selalu membawa gadget di tangan ketika menghadiri peristiwa-peristiwa penting baik di wilayah Keuskupan Agung Semarang, maupun ketika menjalani tugas-tugas di luar keuskupan dan sewaktu-waktu siap memposting apa yang sedang beliau alami baik sebagai informasi maupun juga gagasan-gagasan beliau. Hampir tiap hari beliau selalu memposting sesuatu di beberapa milis sekaligus, salah satunya milis para Rama UNIO KAS dan juga milis para Rama Paroki KAS.

Kemajuan teknologi informasi sungguh sangat mengagumkan. Rama Dominicus Donny Widiyarsa, Pr. yang kini dipercaya untuk mengelola majalah keuskupan Salam Damai mengembangkan penggunaan teknologi informasi untuk berbagai hal yang berkaitan dengan bina iman katolik. Kalau anda membuka laman decima.com, anda bisa mengunduh macam-macam hal yang berkaitan dengan iman katolik. Aplikasi tersebut tersedia untuk pengguna gadget Black Berry maupun Android.

Website lain: katolisitas.com yang dikelola oleh Bapak Stefan Leks, seorang mantan imam yang ahli Kitab Suci bersama stafnya menyediakan informasi yang lengkap berkaitan dengan hal-ikhwal iman katolik.

Kalau kita bisa membuka laman atau websitenya Vatikan, kita akan dapat mengetahui banyak hal tentang Gereja Katolik. Para netizen pasti tahu bagaimana berselancar di dunia maya untuk menemukan laman-laman tersebut.

Sekarang ini memiliki gadget bukan lagi sesuatu yang istimewa ataumewah. Sepuluh tahun lebih yang lalu kalau seorang imam menggunakan handphone menjadi rasanan umat, baik rasanan positif maupun negatif. Kalau umat muda yang ngrasani rata-rata mengatakan: “wah, Rama-nya gaul”, tetapi umat yang tidak tahu-menahu dunia digital akan memandang negatif, malah tidak jarang beranggapan bahwa handphone itu adalah berhala. Rama Donny yang sekarang menjadi salah satu imam praja KAS yang banyak tahu seluk-beluk dunia digital, dalam sharingnya kepada para imam dalam salah satu kesempatan pertemuan UNIO berkata bahwa beliau sudah mau dikeluarkan dari Seminari Tinggi gara-gara ngenet di warnet.

Fakta-fakta di atas menunjukkan betapa sekarang ini kita tidak bisa tidak pasti akan berhubungan dengan dunia digital. Setiap saat bahkan orang zaman ini tidak bisa lepas dari penggunaan gadget. Dalam sehari boleh dikatakan waktu-waktu orang zaman ini sebagian besar disita perhatiannya untuk berhubungan dengan dunia digital. Apa yang dahulu disebut dunia maya, kini adalah dunia nyata. Orang zaman ini yang tidak mau mengenal dunia digital benar-benar akan terpinggirkan dari kehidupan dan dalam bahasa orang Jawa disebut: “koyo kethek ditulup” (plonga-plongo ga tahu apa-apa).

Sebegitu pesat dan dahsyatnya perkembangan dunia digital dewasa ini hingga mengubah perilaku, budaya, habitus dan gaya hidup orang. Sekarang alat komunikasi digital itu adalah barang yang tidak bisa tidak ingin dimiliki oleh setiap orang dan menjadi kebutuhan setiap orang mulai dari yang hanya sekadar bisa untuk telepon dan sms saja sampai yang begitu canggih sebagai multi media. Dunia sekarang ini benar-benar berada di genggaman tangan, bukan hanya dalam soal informasi tetapi juga dalam melaksanakan aktivitas manusia. Banyak hal yang dahulu harus dilakukan secara manual atau kehadiran fisik, sekarang ini bisa dilakukan secara virtual. Kita bisa belanja maupun menjual apa saja melalui dunia digital. Urusan perbankan yang kadang harus antri berjubel dan membosankan, kini bisa dilakukan secara digital dari tangan kita. Bahkan untuk konsultasi rohani kepada pemimpin rohani orang tidak selalu harus datang dan bertemu secara fisik. Undangan rapat via sms kalau dahulu dianggap ‘tidak sopan’ sekarang sudah merupakan hal yang lazim.

Dampak paling nyata yang kita rasakan bisa bermacam-macam, baik itu dampak positif maupun negatif. Secara ekonomis anggaran untuk ‘memberi makan peliharaan digital’ itu sudah pasti jadi kebutuhan yang tidak bisa tidak, mulai dari pengisian pulsa, abonemen fasilitas dan perangkat digital, pembelian atau abonemen paket-paket komunikasi digital sampai pada pembelian aksesori alat-alat komunikasi digital. Dampak psikologis, terutama pada anak-anak adalah ketergantungan pada alat-alat komunikasi digital sehingga orang menjadi ‘autis’, sibuk dengan alat komunikasi di tangannya dan tidak menyadari keadaan di sekitarnya. Dampak sosial, seperti telah saya uraikan di atas benar-benar bisa mengubah perilaku hidup manusia dan bagaimana memperlakukan sesama manusia.

Dampak-dampak negatif telah banyak kita ketahui dan alami. Dalam salah satu tayangan TV swasta berjudul ‘dari kata menuju (berujung) penjara’ dikisahkan bagaimana dunia digital yang digunakan secara tidak bijaksana bisa mendatangkan petaka bagi hidup dan masa depan seseorang. Dampak khusus dalam kehidupan rohani dan kehidupan beriman secara langsung kita alami ketika dering handphone kita dengar waktu kita sedang beribadah. Selain itu orang menjadi terobsesi sehingga waktu beribadah pun orang mau diganggu dengan kontak melalui alat komunikasi digital. Tidak sedikit orang yang di tengah-tengah misa berkomunikasi dengan menggunakan gadget, bahkan juga menerima panggilan tilpon. Sebegitu bebas dan terbukanya dunia digital sehingga media-media sosial menjadi tempat orang curhat dan bahkan bersumpah-serapah, ‘ngudo roso’ sampai menjatuhkan orang lain. Ranah kehidupan pribadi atau privasi bisa menjadi ranah kehidupan publik.

Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapi. Yang jelas sarana komunikasi digital itu benar-benar hanyalah sarana yang akan membantu manusia bila digunakan secara arif dan bijaksana. Kalau manusia justru sudah diperbudak oleh sarana dan alat komunikasi digital, lalu kita lupa akan tujuannya. Nasihat orang zaman dulu barangkali masih tetap relevan untuk kita perhatikan. Dalam menggunakan sarana komunikasi digital sebaiknya ‘sak madyo’ atau ungkapan lain: ‘ngono ya ngono, ning aja ngono’.  Salam dan Berkah Dalem.

 

Robertus Hardiyanta, Pr

(Pastor Paroki Sragen)

Related Posts

  • 76
    Hari Minggu ke-33 di Masa Biasa 19 November 2017 Marilah kita mencintai, bukan dengan kata-kata melainkan dengan perbuatan 1. "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran" (1 Yoh 3:18), Kata-kata rasul Yohanes ini menyuarakan perintah yang tidak boleh diabaikan oleh orang Kristen manapun. Kesungguhan dalam perintah…
    Tags: dan, yang, kita, orang, dalam, ini, dengan
  • 67
    Tuhan Itu Baik Kepada Semua Orang... (Bdk. Mzm. 145:9a) Saudara-saudari yang terkasih, segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada, salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus. 1. Dalam suasana kebahagiaan Natal sekarang ini, kembali Tuhan menyapa dan mengingatkan kita umat-Nya untuk merayakan Natal ini dalam semangat kedamaian, kebersamaan dan kesahajaan. Dengan mengucap syukur…
    Tags: kita, yang, dan, dengan, untuk, dalam, di, orang, ini
  • 67
    Dibacakan/diterangkan pada Malam Tirakatan atau Hari Raya Kemerdekaan Indonesia Rabu - Kamis, 16 - 17 Agustus 2017 “MENGEMBANGKAN SEMANGAT KEBANGSAAN DAN KE-BHINNEKA TUNGGAL IKA-AN” Para sahabat muda, anak-anak dan remaja; para Saudari-saudara, Ibu, dan Bapak; serta para Rama, Bruder, Suster, Frater yang terkasih. Baru saja kita akhiri perhelatan besar Keuskupan Agung Semarang sebagai tuan rumah…
    Tags: dan, yang, kita, dengan, di, dalam