Tersesat di Dunia Gadget

modidiEra yang sudah-sudah, barangkali era-nya kakek-nenek, atau bapak-ibu kita, atau bahkan, diantara kita masih ada yang mengalami, kalau hendak berkirim kabar, atau terlibat dalam sebuah pembicaraan, santai atau serius; kita mesti berhadapan-muka, face to face, mesti ada dalam sebuah perjumpaan, atau, kalau terbentang jarak yang jauh, telepon atau telegram, jadi sarana yang dipilih untuk mengabarkan berita.

Dengan begitu, kita bisa saling menyadari makna dan kesungguhan pembicaraan itu sendiri, karena dengan cermat kita bisa memperhatikan roman, gerak-gerik wajah dan badan yang ‘meluapkan’ emosi. Namun, dunia (dan teknologi) telah berkembang (atau berubah), bahwa tidak ada orang (masa kini) yang mampu hidup, tanpa menenteng komputer jinjing, telepon seluler, tablet dan ‘turunan-turunan’-nya. Ruang dan waktu, kini tak lagi jadi penghalang, untuk sekedar ‘mentransfer’ kisah, dan perasaan.

Kata orang ini namanya dunia digital, yang lambat laun tapi pasti, menggantikan komunikasi verbal. Dunia digital, tidak hanya mengubah cara berkomunikasi, tapi juga mengubah diri kita. Kini, saat anggota keluarga berkumpul duduk bersama, bisa saja, yang terjadi sesungguhnya adalah mereka sedang sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Tidak sedikit, bahkan dipastikan, hampir semua anak muda sekarang, jari-jarinya bergerak lincah menulis pesan, ketika seharusnya memberi perhatian pada lawan bicara. Malahan, yang paling parah, tidak sedikit di jalan-jalan, banyak orang ber-sms sambil berkendara. Lalu, perubahan diri apa yang dimaksud? Perubahan diri akibat gadget itu adalah bahwa kita terbiasa merasa sepi dan sendiri, walau secara fisik sedang bersama orang lain. Seolah, kita berada di tempat yang jauh, walau kenyataan mengatakan kita tidak sedang berpindah ruang. Kita bersama, tapi dalam dunia berbeda, asyik dengan keypad, layar-sentuh dan alat bantu dengar. Dan selama ini terjadi, sesungguhnya kita takkan pernah sungguh-sungguh memberikan diri kepada orang lain.

 

Relasi antar manusia adalah relasi yang sangat kompleks, rumit dan menuntut.

Namun, dengan gadget, kita menjadi ‘terlatih’ untuk menyulap relasi ini menjadi semudah dan semenyenangkan seperti yang kita mau. Lama-lama, kita menjadi ‘lupa’ bahwa komunikasi semacam ini tidak dapat menggantikan komunikasi langsung ketika dua pribadi saling bertatap muka, dan saling tukar-bicara. Kita pun tak sadar bahwa dalam komunikasi digital, kita bisa mengalami ‘ketidaksungguhan’ dalam hal saling memberikan diri. Komunikasi digital terkadang ‘memaksa’ kita untuk mendapatkan jawaban secepatnya, dan untuk itu, kita cenderung mengajukan pertanyaan dan pernyataan yang sederhana. Akibatnya, kita jadi menggampangkan’ sebuah proses komunikasi. Makin kita terbiasa memper-pendek proses komunikasi ini, sesungguhnya, kita terbiasa mengabaikan kemanusiaan yang sesungguhnya.

Kesendirian yang kita ciptakan, membuat hidup kita menjadi tidak tenang. Sedikit-sedikit mengeluarkan gadget yang kita punya. Begitulah, barangkali sejenak kita bisa mengobati rasa kesepian kita, tapi sesungguhnya, kita kehilangan kesempatan untuk menerima kesepian diri, sampai-sampai tidak dapat menerima orang lain lain sebagaimana dia adanya. Jika tidak siap untuk menjadi sendiri, suatu saat kita pasti terjerumus ke dalam kesepian yang sesungguhnya. Maka, betapa pentingnya, kita memupuk kembali percakapan-percakapan dalam hidup kita, dan untuk itu, kita mesti menyediakan waktu dan tempat; dalam keluarga, dalam ruang kerja, dalam komunitas kita. Yang tak kalah penting, ajarkan pada anak-anak bahwa terlibat dalam pembicaraan secara langsung itu adalah keharusan, dimana mereka belajar untuk saling mendengarkan, saling menghormati, dan saling memberikan apa adanya dan tulus. Kalau tidak, anak-anak akan terjerumus ke dalam kesepian, dan ini adalah beban yang tak tertanggungkan di masa depan.

Maka, para saudara, gadget di satu sisi, adalah sarana untuk ‘mendekatkan’ diri kita pada jaringan relasi kehidupan kita, namun kalau tidak hati-hati, gadget ini pula yang akan menjauhkan, bahkan ‘menyesatkan’ diri kita dari orang lain, dan parahnya, kita merasa asing dengan diri sendiri, dan suasana sepi.

 

Fr. Yoseph Didik Mardiyanto

(Frater TOPER 2014-2015 Paroki Sragen)

 

Related Posts

  • 93
    “Diutus Menjadi Garam dan Terang Bagi Masyarakat” Dibacakan/diterangkan pada hari Sabtu-Minggu, 6-7 Februari 2016     Saudara-saudariku yang terkasih Memasuki tahun 2016, umat Allah KAS telah memiliki ARDAS VII untuk periode 2016-2020. Dalam semangat ARDAS yang baru ini, kita ingin menapaki peziarahan iman, dengan bergotong royong memperjuangkan Peradaban Kasih melalui hidup bersama yang sejahtera, bermartabat…
    Tags: dan, yang, kita, dalam
  • 93
      Pengantar “Mens sana in corpore sano”, slogan ini begitu populer dan akrab di telinga, lebih-lebih mereka yang menyukai olahraga. Jiwa yang sehat ada di dalam badan yang sehat, itulah kira-kira maksudnya. Secara umum slogan ini bisa dibenarkan, bahwa biasanya orang yang sehat secara jasmani tidak mengalami masalah kejiwaan (iman) yang berarti, sebaliknya orang yang…
    Tags: yang, tidak, kita, dan, dalam, untuk
  • 90
    Salam damai Kristus, Tanpa terasa kita sudah menapaki bulan Desember, bulan yang penuh makna, yang akan menghantarkan kita pada penghujung tahun 2015. Bagaimana ibu-ibu, apakah kita sudah bisa merefleksikan diri tentang apa saja yang sudah kita capai selama setahun ini ? Dan sudah sejauh mana kita sanggup menghayati iman serta merenungkan arti hidup kita masing…
    Tags: dan, kita, yang, dalam