Kebangkitan Kristus: Sumber Iman, Harapan Dan Kasih

bangkitSelamat Paskah! Perayaan Paskah membawa hidup dan semangat baru bagi dunia dan semua orang, terutama yang merayakan. Apapun yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat dengan segala carut marut persoalan yang ada, Allah tetap hadir dan memberikan diri demi kasih-Nya yang tidak bisa ditarik kembali. Allah tetap setia memenuhi janji-Nya melalui peristiwa Yesus yang memuncak pada peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Inilah satu-satunya alasan yang tak terbantahkan mengapa manusia harus bersyukur, karena “begitu besar kasih Allah kepada dunia ini, sehingga Ia mengutus Puterea-Nya yang tunggal sehingga orang yang percaya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal” (Yoh 3, 16). Dia memimpin umat-Nya seperti gembala terhadap dombanya, “Ia membaringkan aku di padang rumput yang hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya” (Mazmur 23, 2-3)

 

Kebangkitan meneguhkan pengharapan dan berbuah kasih

Rasul Paulus menuliskan kepada jemaat di Korintus: “Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan” (1Kor15:13). Dengan kata lain, orang yang tidak percaya akan kebangkitan badan, tidak percaya akan Kristus sendiri yang telah bangkit. Maka, iman akan kebangkitan badan berhubungan erat dengan iman akan Kristus yang bangkit dari antara orang mati.

Secara lebih detil Santo Paulus menyampaikan pentingnya kebangkitan Kristus, karena beberapa orang di Korintus tidak percaya pada kebangkitan orang mati. Dalam pasal ini Paulus memberikan enam konsekuensi yang parah kalau tidak ada kebangkitan, yaitu: (1) pemberitaan akan Kristus tidak ada artinya (ayat 14); (2)iman dalam Kristus tidak ada gunanya (ayat 14); (3)semua saksi dan pemberita kebangkitan adalah pendusta (ayat 15); (4) tidak ada yang akan ditebus dari dosa (ayat 17); (5) orang-orang percaya pada zaman dulu semua binasa (ayat 18); (6) orang-orang Kristen adalah orang yang paling malang di seluruh dunia (ayat 19).

Santo Thomas dalam Summa Theology memberikan lima alasan mengapa Kristus bangkit, yaitu: (1) untuk menyatakan keadilan Allah; (2) untuk memperkuat iman kita; (3) untuk memperkuat pengharapan; (4) agar kita dapat hidup dengan baik; (5) untuk menuntaskan karya keselamatan Allah. Namun, Kebangkitan badan yang dimaksud di sini adalah badan yang  telah terurai dan hancur akibat kematian akan dibangkitkan pada akhir zaman dan kemudian akan bersatu dengan jiwa masing-masing. Dengan demikian, setiap individu akan kembali mempunyai persatuan antara jiwa dan badan, dan kemudian hidup dalam kekekalan. Bagi yang masuk dalam Kerajaan Surga akan mengalami kebahagiaan dalam persatuan jiwa dan badan yang telah dimuliakan dan bagi yang masuk dalam neraka akan mendapatkan hukuman dalam persatuan jiwa dan badan. Dengan berpegang teguh pada ajaran tentang kebangkitan badan, kita percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian, dan kebahagiaan Surgawi yang telah dijanjikan oleh Yesus menanti kita di kehidupan mendatang.

 

Buah iman adalah harapan dan kasih

Kristus yang sudah bangkit dari antara orang mati dan “telah menjadi buah sulung dari semua yang tertidur” (ayat 20), menjadi jaminan bahwa kita juga akan mengikuti Dia dalam kebangkitan. Firman dan janji Allah menjamin kebangkitan orang-orang yang percaya pada kedatangan Yesus Kristus pada akhir jaman. Pengharapan dan jaminan semacam ini diungkapkan dalam nyanyian agung mengenai kemenangan yang ditulis oleh Paulus: “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” (1Kor 15:15).

Dia mengingatkan pula bahwa karena kita tahu akan dibangkitkan dan menerima hidup baru, maka kita mampu menanggung penganiayaan dan penderitaan demi untuk Kristus (ayat 29-31) sebagaimana yang dialami oleh Kristus, dan juga oleh ribuan martir sepanjang sejarah yang dengan senang hati memberikan hidup dalam dunia ini untuk hidup kekal melalui kebangkitan. Kebangkitan adalah kemenangan agung dan mulia bagi setiap orang percaya dalam Yesus Kristus yang wafat dan bangkit mulia. Pada saat kedatangan-Nya kembali, orang-orang yang mati di dalam Kristus akan dibangkitkan, dan mereka yang masih tinggal dan hidup akan diubah dan menerima tubuh baru yang dimuliakan. Maka kebangkitan Kristus menjadi penting untuk membuktikan  bahwa Allah menerimapengorbanan Yesus Anak-Nya bagi kita. Hal itu menjamin bahwa mereka yang percaya pada Kristus tidak akan mati, namun akan dibangkitkan kepada kehidupan kekal (bdk 1Tes 4:13-18). Inilah iman dan pengharapan kita yang mendorong untuk bersyukur dengan berbuat kasih kepada Dia dan sesama ! Apa gunanya mempercayai ajaran ini?

Sebagai orang beriman seharusnya mempercayai ajaran ini, karena memang inilah yang diwahyukan Allah kepada manusia sebagai kebenaran. Kalau memiliki iman seperti ini, maka:

  1. Tidak terpuruk dalam kesedihan akan kematian. Menjadi reaksi psikologis yang wajar bahwa seseorang menangisi kematian dari orang-orang yang dikasihinya. Namun, seseorang yang percaya akan kebangkitan badan, dia tidak akan kehilangan harapan bahwa pada satu saat dia akan dapat berkumpul kembali dengan orang-orang yang dikasihinya. Rasul Paulus menegaskan hal ini kepada jemaat di Tesalonika, “Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” (1Tes 4:13-14)

 

2. Menghalau ketakutan akan kematian. Kalau kita tidak percaya akan adanya pengharapan yang lain setelah kematian, maka kita akan terjebak dalam ketakutan akan kematian yang harus kita hadapi. Namun, karena kita percaya akan kehidupan kekal dan kebangkitan badan, maka kematian tidak terlalu menakutkan bagi umat beriman. Dengan kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus telah memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut, sehingga Kristus membebaskan kita dari ketakutan terhadap maut (lih. Ibr 2:14-15).

 

  1. Membantu kita untuk hidup lebih baik. Seseorang yang tidak melihat bahwa apa yang dilakukannya diperhitungkan untuk kekekalan, maka ia tidak mempunyai motivasi yang tinggi untuk hidup lebih baik. Namun, seseorang yang mempercayai kehidupan kekal di masa mendatang akan mempunyai motivasi yang tinggi untuk berbuat baik, tahan menghadapi segala tantangan, penderitaan dan ketidakadilan di dunia ini. Rasul Paulus menuliskan, “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” (1Kor 15:19).

 

  1. Membantu kita untuk menjauhi kejahatan. Dengan percaya akan kehidupan kekal dan kebangkitan badan, kita terdorong untuk menjauhkan diri dari kejahatan, karena tahu bahwa segala kejahatan dapat berakibat penghukuman di kehidupan mendatang. Rasul Yohanes menuliskan, “dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum” (Yoh 5:29).

Akhirnya, selamat kepada anda semua yang telah mengimani Kkristus yang wafat dan bangkit untuk kita, umat manusia, domba penggembalaan-Nya ini. Semoga hati kita bersukacita, keberanian kita membara untuk mewartakan kebenaran dan keadilan di jaman ini. Tuhan ada di pihak kita, berkah Dalem.

 

FX. Suyamta Kirnasucitra, Pr

Pastor Paroki Sragen

Related Posts

  • 77
    Era yang sudah-sudah, barangkali era-nya kakek-nenek, atau bapak-ibu kita, atau bahkan, diantara kita masih ada yang mengalami, kalau hendak berkirim kabar, atau terlibat dalam sebuah pembicaraan, santai atau serius; kita mesti berhadapan-muka, face to face, mesti ada dalam sebuah perjumpaan, atau, kalau terbentang jarak yang jauh, telepon atau telegram, jadi sarana yang dipilih untuk mengabarkan…
    Tags: kita, yang, dan, dalam, tidak, untuk
  • 76
    Ngrawoh (LENTERA)  - Perayaan Ekaristi Novena IV putaran V, Kamis (14/6), bertepatan dengan perayaan Kenaikan Tuhan. Meskipun umat sudah mengikuti perayaan di Gereja Paroki dan wilayah pada harinya, perayaan Ekaristi novena malam itu tetap dihadiri oleh banyak umat, kira-kira 300 orang, tampak kursi yang berada di area taman doa terusi penuh. Hujan gerimis mengiringi awal…
    Tags: yang, dan, akan, untuk, tidak, kristus, di, dalam
  • 75
    Dibacakan/diterangkan hari Sabtu-Minggu, 21-22 Januari 2017 “Menghadirkan Gereja Yang Inklusif, Inovatif dan Transformatif dalam Masyarakat Multikultural” Saudari-saudaraku yang terkasih, Kita semua bersyukur memasuki tahun kedua Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS KAS) 2016-2020. Tema pelayanan pastoral tahun 2017 adalah “Menjadi Gereja yang Inklusif, Inovatif dan Transformatif yang Hidup Bergairah dalam Masyarakat Multikultural”. Tema ini berbingkai…
    Tags: yang, dan, dalam, kita, kristus, untuk