Kerja, Kerja, Kerja !

kerjaKata-kata ini kita dengarkan pada pidato perdana Presiden kita yang ketujuh, Ir. Joko Widodo. Pada saat itu dalam pidatonya, Pak Jokowi ingin mendorong kita untuk tidak berpangku tangan, tetapi menyingsingkan lengan baju dan mulai bertindak memperbaiki keadaan Nusa Bangsa ini menjadi lebih baik dengan kerja, kerja, kerja. Namun, dibalik itu apakah makna kerja itu sendiri?  Arti kerja menurut oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu kegiatan melakukan sesuatu atau suatu hal yang dilakukan. Kerja itu sendiri menurut wikipedia diartikan sebagai suatu jumlah energi yang ditranfer oleh sebuah sistem ke sistem lain, mungkin pengertian ini tidak tepat, bagaimana kalau kata dasar kerja diberi awalan dan akhiran pe-an menjadi pekerjaan. Nah sekarang jelas bahwa kerja adalah suatu tindakan yang mempunyai maksud menghasilkan atau membuat sesuatu, mempunyai tujuan tertentu.

Namun, dalam hidup kita sehari-hari kerja dimaknai sebagai dalam arti sempit yaitu mencari uang saja. Jadi, kalau seseorang tidak bekerja dan mencari uang orang tersebut dikatakan pengangguran. Dalam kerangka pemikiran ‘pasar bebas’,  kerja dipandang sebagai sebuah status yang melekat pada manusia. Kerja menjadi sesuatu yang penting untuk hidup, berbagai macam peluang diambil untuk bisa mendapatkan uang dan dapat membeli kebutuhan untuk hidup.  Namun, dari suatu pekerjaan ini martabat manusia sendiri direndahkan. Misalnya, Ketika anda berada di dalam suatu bus umum duduk di sebelah saudara seorang yang berpakaian lusuh dan ketika saudara bertanya apakah pekerjaannya, kemudian orang itu menjawab bahwa pekerjaannya adalah pemulung. Mungkin, dalam pikiran alam bawah sadar saudara akan membayangkan tumpukan sampah, dan kemudian menyengitkan dahi dan secara refleks menutup hidung. Lain halnya jika saudara bersebelahan dengan seorang yang berpakaian necis, memakai sepatu yang mengkilap dan berpakaian bersih. Baru melihat orang tersebut saja pikiran kita sudah ‘menuduh’ orang tersebut mempunyai pekerjaan yang mapan, dan dari kalangan yang berada. Apa lagi kalau dirinya mengaku bekerja di sebuah badan usaha milik negara, dengan  pangkat yang tinggi. Ilustrasi  ini ingin menggambarkan bahwa makna kerja yang sudah dipandang salah dan dilecehkan oleh paham ekonomisme dan materialisme.

Paham ekonomisme mempunyai arti bahwa kecenderungan untuk menafsirkan semua motivasi manusia dalam kerangka ekonomi, dan materialisme sendiri mempunyai arti paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Dari dua faham ini, sekilas kita melihat bahwa manusia yang bekerja itu melakukan segalanya untuk mendapatkan materi dan hanya berdasarkan motivasi berkaitan dengan ekonomi semata. Dalam pandangan yang sempit tersebut masyarakat kita hidup. Segala upaya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Sampai pekerjaan berat pun dilakukan, resiko yang besarpun dilakukan untuk memperoleh sesuap nasi.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa manusia hidup di dunia membutuhkan materi seperti uang untuk membeli kebutuhan pokok, sandang, papan. Namun, yang menjadi berbeda yaitu ketika kebutuhan ini menjadi hal yang utama. “ Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu, sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah dengan meterai-Nya,” jawaban ini yang diberikan oleh Yesus ketika banyak orang mencari Dia karena Yesus pernah memberi mereka makanan dalam mukjizat lima roti dan dua ikan. Teguran itu ditujukan kepada orang-orang ingin hidup enak dan nyaman ketika ikut Yesus. Mereka menganggap bahwa kalau ikut Yesus segala hal dapat diperoleh, terutama makanan tanpa harus bekerja. Namun, perkataan Yesus berbeda! Yesus mengatakan bahwa kerja yang dilakukan bukan hanya untuk mendapatkan materi saja melainkan juga menghantarkan kepada Sang Pencipta. Artinya kerja sebagai suatu sarana untuk berjumpa dengan Tuhan, di dalam segala hal.

Dalam doa Bapa Kami, kita memohon untuk rejeki untuk hari ini. Kita tidak memohon untuk mendapatkan rejeki yang melimpah ruah, menjadi kaya raya. Kalau pada hari ini kita bekerja dan mendapatkan uang, dan merasa uang tersebut tampaknya lebih dari cukup untuk memenuhi rejeki untuk hari ini, kelebihannya itu tentunya dapat digunakan untuk dana sosial. Itu hal yang sederhana yang dilakukan untuk memaknai kerja secara Kristiani. Sebenarnya setiap tahun kita melakukannya berulang-ulang dengan menyisihkan uang kita ke dalam kotak APP. Mungkin kalau itu dilakukan setiap hari dalam satu tahun, berapa banyak orang yang kecil, lemah, tersingkir, dan difable dapat kita bantu. Golek sego, golek suwargo, mencari makanan dan mencari surga. Kata-kata yang sederhana dari Romo Van Lith ini mungkin melambangkan betapa seimbangnya antara kehidupan duniawi dengan kehidupan surgawi.

Lantas apa yang dapat dilakukan pada hidup kita? Kalau saudara-saudara mempunyai pekerja, asisten rumah tangga, jangan pandang mereka sebagai orang yang dapat diperlakukan semaunya. Melainkan, harus mendapatkan haknya sesuai dengan hukum yang berlaku, sesuai dengan UMR, atau sesuai dengan risiko pekerjaan mereka. Menurut UU No. 13/2003 pekerja atau buruh sebagai manusia tentu memiliki kaitan erat dengan hal-hal yang bersifat kemanusiaan, dan mendapatkan hak (yang harus diperjuangkan) yaitu pada akses terhadap pendidikan, kesehatan, perumahan,dan lingkungan. Kalau orang Katolik dapat memperjuangkan itu makna akan kembali ke fitrah yang sebenarnya.

Redaktur Lentera

Related Posts

  • 85
    ROH TUHAN GERAKKAN MISI Saudara-saudari terkasih, Tahun lalu, kita telah merenungkan dua aspek panggilan Kristiani: seruan “keluar dari diri kita sendiri” untuk mendengarkan panggilan Tuhan, dan pentingnya komunitas gerejawi sebagai tempat istimewa di mana panggilan Tuhan lahir, tumbuh dan berkembang. Sekarang, pada Hari Doa Panggilan Sedunia ke-54 ini, saya ingin merenungkan dimensi misioner panggilan Kristiani.…
    Tags: dan, yang, kita, untuk, dengan, ini
  • 83
    Saudara-saudari: para Romo, Bruder, Suster, Bapak, Ibu, Orang Muda, Remaja Dan Anak-anakku yang terkasih. Berkah Dalem. Saya harap Saudara-saudari semua dalam keadaan sehat dan bahagia karena rahmat Tuhan. Saudara-saudari terkasih. Sebagaimana telah kita ketahui bersama, gerak perjalanan iman Keuskupan Agung Semarang ditempatkan dalam Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang 20 tahun ke depan. Hal ini menjadi…
    Tags: dan, yang, dalam, kita, dengan, untuk, ini
  • 82
    ‘Pertobatan’ mungkin merupakan salah satu aspek kehidupan orang Kristiani yang paling gencar dipromosikan, tetapi paling sedikit dipraktekkan. Ada banyak faktor yang menjadi penyebap mengapa orang tidak rutin untuk ‘bertobat’. Ada faktor kemalasan. Ada yang beralasan terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Ada juga yang bahkan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang harus dilakukan. Sangat disayangkan, karena pada…
    Tags: kita, yang, untuk, dan, dalam, dengan