Sekolah Katolik Dulu dan Sekarang: Memperjuangkan Iman dan Keselamatan

SMA SAverius Sragen

Realita Pendidikan Kita
Dunia pendidikan menjadi dunia yang tidak pernah habis dan selesai dari kritik dan gugatan. Beberapa yang sering disorot adalah tentang ketidakberesan penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar (KBM), profesionalitas dan kualitas pendidik serta tenaga pengajar, manajemen pendidikan dan pendanaan pendidikan. Salah satu hal lagi, yang sering diperdebatkan adalah tentang minimnya subsidi negara, hingga membuat dunia pendidikan harus sedikit bekerja keras untuk memikirkan biaya operasional, yang senyatanya memang tidak sedikit, bahkan cenderung ‘menyiksa’ lembaga pendidikan. Maka, tidak mengherankan bahwa banyak sekolah yang seolah menjadi ‘bunglon’, mudah untuk berubah-ubah, berganti-ganti format pendidikan, dengan harapan supaya bisa lebih mandiri. Konsekuensi logis dari situasi ini adalah adanya usaha untuk ‘menyerap’dana dari pemasukan para (orang-tua) siswa. Namun, sebuah harapan bisa ‘terpelintir’ dari fakta yang berbicara sekarang, karena keadaan sekarang mengatakan bahwa partisipasi masyarakat lewat para (orang tua) siswa ini, mulai dirasakan sebagai bentuk ketidakadilan, karena menguntungkan kelas sosial tertentu, kalau tidak mau dikatakan: mereka yang kaya dan mampu!

Cita-cita sekolah yang paling luhur sejak zaman perjuangan adalah menyelenggaraan pendidikan bagi semua orang, agar terbentuk masyarakat yang berpengetahuan dan berkesadaran kritis tanpa membedakan agama dan kelas sosial tertentu. Karena, hanya dengan masyarakat yang berpengetahuan dan berkesadaran kritis saja, kemajuan (dan kemakmuran) masyarakat bisa tercapai. Namun, sekolah sekarang, justru terkesan ‘menindas’, menindas apa saja dengan berbagai realita berikut: kurikulum yang tiap hari berganti, yang membuat kebingungan psiko-paradigmatik, selain karena beban biaya yang tiap tahun berkembang irasional bagi masyarakat miskin. Realitas mahalnya biaya pendidikan menjadi kritikan banyak orang, karena tercipta kesenjangan yang sedemikian lebar. Padahal orang-orang dulu, sempat memiliki pengalaman bahwa hanya lewat pendidikan, kesenjangan sosial bisa diminamalisir. Bahkan, parahnya, pendidikan kini menjadi alat legitimasi bagi pelestarian kesenjangan sosial dalam masyarakat.

Sekolah Katolik: Dulu dan Sekarang!
Sedikit menjauh, tanpa meninggalkan tema. Sekolah Katolik, yang dulu dikenal sebagai institusi pendidikan yang ‘unggulan’, karena bukan sekedar menghadirkan pendidikan secara akademis, namun juga aspek religiositas dan karakter menjadi poin yang turut diperhatikan. Kita mengenal sekolah Katolik yang sungguh dibanggakan pada zaman dahulu karena berbagai macam kualitas yang ada: disiplin yang tinggi, membangun karakter dan kedisiplinan anak karena merupakan sekolah warisan Belanda, toleransi yang dijunjung setinggi-tingginya karena menerima murid-murid yang memeluk agama lain. Tidak ada budaya mencontek, dan bentuk kedisiplinan lain yang menerapkan sanksi keras dan tegas. Dan yang paling utama adalah lulusan atau output yang teruji, maka tidak mengherankan, sekolah-sekolah Katolik adalah sekolah yang dicari dan bahkan diperebutkan, di tempat di mana sekolah tersebut berada. Bisa dikatakan, Sekolah Katolik pernah memiliki masa kejayaan dan ‘era-keemasan’, yang bisa menjadi representasi betapa berkualitasnya dunia pendidikan (kala itu).

Perubahan zaman disertai dengan sekian banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Ada kemajuan, ada kemerosotan. Berubahnya situasi hidup, terkadang membawa perubahan besar. Ini pun sekarang terjadi dalam dunia pendidikan kita. Keadaan sekarang berubah banyak, bahkan berubah total. Kita bisa memperhatikan keadaan sekolah Katolik saat ini adalah demikian:

1.Peminat terhadap sekolah Katolik semakin merosot, dengan akibat yang yang nyata yaitu penutupan berbagai sekolah, atau menggabungkannya dengan sekolah sejenjang. Situasi demikian, langsung maupun tidak langsung berdampak luas bagi keberlangsungan Sekolah Katolik ini. Dengan jumlah peminat makin sedikit, makin penerimaan uang sekolah juga makin mengecil. Mesti diakui bahwa penerimaan uang sekolah ini adalah sumber vital untuk menyelenggarakan sekolah. Namun masih untung bahwa Yayasan pengelola masih mempunyai unit-unit sekolah, yang memiliki keuntungan surplus, sehingga masih ada kemungkinan untuk mengadakan ‘subsidi-silang’.

2. Ciri khas sekolah Katolik yang semakin luntur, yang dahulu menjadi keunggulan sekolah-sekolah ini. Misalnya, paling tampak dalam hal kedisiplinan, prestasi siswa, ketegasan sekolah.

3. Semakin terkikisnya semangat perhatian kepada mereka yang lemah, kecil, miskin dan tersingkir. Biaya pendidikan di Sekolah Katolik menjadi mahal dan kurang terjangkau oleh kalangan umat Katolik sendiri. Berbagai keluhan kerap didengar dari umat, karena tidak mampu membayar uang sekolah atau uang gedung, dan biaya sekolah yang lain.

Semua kenyataan ini, tidak bisa terlepas dari fenomena yang menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran mendasar secara substansial dalam praktek pendidikan kita. Semangat dasar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tampaknya hanya menjadi sekedar retorika politik saja, karena yang terjadi hanya mencerdaskan sebagian warga saja, yaitu mereka yang kaya dan memiliki akses dalam menyekolahkan anak-anaknya.

 

Lalu, harus bagaimana?
Menimbang dan merasakan segala yang terjadi bukan berarti kita menjadi putus asa terhadap Sekolah Katolik, karena dimanapun Allah menyelenggara, disitu tetap ada harapan. Usaha-usaha sederhana ini bisa terus dibangun, sehingga segala hal terus berjalan sebagaimana mestinya, meski kita juga masih memasuki ‘daerah abu-abu’ masa depan Sekolah Katolik. Hal yang bisa diusahakan misalnya, terus berkomitmen untuk menjadikan dan mengusahakan Sekolah Katolik sebagai tempat anak-anak berkembang menjadi manusia yang dewasa, yang dibarengi dengan kematangan pribadi serta religiusitas yang kuat, karena pada dasarnya Sekolah Katolik adalah tempat untuk belajar nilai-nilai kemanusiaan yang membebaskan.

Selain itu, perlu ada relasi, komunikasi yang kuat antara pendidik dan orang tua, karena pendidik di sekolah, adalah pendidik formal, yang waktu perjumpaannya masih terbatas, dan peran orang tua menjadi penting, supaya pendidikan karakter itu terus berkesinambungan bagi anak-anak ini. Dan yang terakhir, barangkali masih ‘berbau’ hal-hal operasional, yaitu dengan mengupayakan serta menghidupkan semangat subsidiaritas, yang kalau dalam bahasa iman kita dikenal dengan ‘semangat berbagi’, dengan harapan bahwa yang kuat akan membantu yang lemah, diserta dengan usaha untuk menghemat pembiayaan pendidikan, termasuk di dalamnya: sarana dan prasarana yang tersedia.

Sekolah Katolik perlu berbenah dan menegaskan diri, tanpa perlu kehilangan arah. Ada keyakinan bahwa, yang terutama adalah dengan terus memegang prinsip pembebasan sebagai semangat utama pendidikan, karena di negara manapun, terlebih di negara miskin dan berkembang, pendidikan diselenggarakan untuk membebaskan masyarakat dari sekian banyak persoalan yang membelitnya. Kalau pendidikan formal tidak sanggup menghadirkan spirit pembebasan, diperlukan kerja-kerja sosial untuk membantu masyarakat keluar dari situasi tersebut.

Sekolah Katolik, yang tetap mempertahankan ciri khas, karena didasari oleh semangat kristiani, bisa mengambil bagian untuk mengisi kekosongan sekaligus kerinduan tersebut. Terlebih, apabila Sekolah Katolik hadir dalam keprihatinan-keprihatinan, sehingga dalam hal ini juga terdapat bentuk-bentuk kesaksisan-kesaksian iman. Maka, menjadi kewajiban setiap penyelenggara pendidikan untuk mengusahakan supaya setiap orang menerima pendidikan, terutama mereka yang akan memenuhi harapan Gereja (Gravissimum Educationis art. 2), karena pada dasarnya, pendidikan bukan sekedar untuk pendewasaan pribadi manusia saja, melainkan untuk mencapai pemahaman tentang misteri keselamatan, dan makin hari menyadari karunia iman yang telah mereka terima, sehingga nama Allah Bapa senantiasa dimuliakan dalam Roh Kebenaran.

Yoseph Didik Mardiyanta
(Frater Toper Paroki Sragen 2014-2015)

Related Posts

  • 81
    Jika kita membuka nostalgia masa lalu dekade 80-an, sekolah Katolik merupakan sekolah favorit umat Katolik, sekolah yayasan Katolik terutama yang dikelola oleh biarawan-biarawati mengalami kejayaannya dengan ditandai dengan gedung sekolah yang permanen dan megah, sistem pendidikan yang mengutamakan kedisiplinan, fasilitasnya lengkap, lulusan yang berkualitas, dan mudah mencari pekerjaan, bahkan menjadi kebanggaan masyarakat. Sekolah Katolik tersebut…
    Tags: sekolah, katolik, yang, dan
  • 75
    Almamater (atau alma mater) adalah istilah dalam bahasa Latin yang secara arti harfiah bermakna "ibu susuan". Istilah digunakan di kalangan akademik atau dunia pendidikan yang berhubungan dengan sekolah atau perguruan tempat seseorang menimba ilmu atau menyelesaikan suatu jenjang pendidikan. Dalam sejarah perkembangan Gereja Katolik, Sekolah Katolik membawa peran yang penting dalam lahirnya gereja di sebuah…
    Tags: yang, sekolah, katolik, dan
  • 69
    Paroki Sragen (LENTERA) – Hampir selama dasa warsa terakhir LPK (Lembaga Pendidikan Katolik) banyak mengalami masa-masa pahit. Ini terlihat dari jumlah siswa di sebagian sekolah-sekolah Katolik semakin menurun. Menyadari hal ini Gereja Katolik di Indonesia menerbitkan Pesan Pastoral Sidang KWI 2008 perihal LPK (Lembaga Pendidikan Katolik). Di Sragen terdapat LPK mulai dari Play Group hingga…
    Tags: pendidikan, katolik, dan, yang, sekolah