Mengenal Ajaran Sosial Gereja

67_b

Setiap bulan Agustus kita memperingati hari kemerdekaan Negara kita, dan pada tahun 2015 adalah peringatan yang ke-70. Kita disadarkan bahwa diri kita adalah warga negara Republik Indonesia. Kita adalah bagian dari kehidupan sosial kemasyarakatan bangsa Indonesia. Mgr. Albertus Soegijapranata (alm) mengajak kita untuk menjadi orang katolik 100% dan warga negara 100%

Bulan Agustus oleh Gereja juga ditetapkan sebagai bulan Ajaran Sosial Gereja (ASG). Sebagai warga negara kita diajak untuk mewujudkan iman kepada Yesus Kristus dengan perbuatan-perbuatan sosial, karena iman pada dasarnya tidak bisa lepas dari perbuatan. “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yak 2:17). Yesus Kristus sendiri bahkan mengidentifikasikan diri dengan orang-orang yang kecil dan menderita, sehingga kalau kita beriman kepada Yesus Kristus, dengan sendirinya kita juga harus memperhatikan orang-orang kecil dan menderita. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40).

Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang (ARDAS KAS 2011-2015) juga menekankan pentingnya perhatian dan pemberdayaan kepada kaum Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir dan Difabel (KLMTD) agar Gereja menjadi signifikan dan relevan bagi dirinya sendiri dan bagi masyarakat.

Melalui tulisan ini saya mengajak pembaca untuk mengenal Ajaran Sosial Gereja. Bukan hanya dalam Kitab Suci, tetapi dalam sejarah kehidupan Gereja ternyata mengajarkan kepada umat katolik bagaimana mewujudkan iman dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Gereja bukanlah penonton yang diam dan tak bergerak. Gereja menyadari dirinya sebagai bagian dari masyarakat, keprihatinan masyarakat itu juga menjadi keprihatinan dan tanggungjawab Gereja. Gereja harus terlibat. Inilah seruan dari para Paus yang tampak dalam ensiklik-ensiklik yang berisi ASG dan sekaligus melatarbelakangi munculnya ASG.

Ajaran Sosial Gereja (ASG) sering kali disamakan dengan ajaran para Paus, terutama sejak Paus Leo XIII. Ajaran Sosial Gereja adalah upaya Gereja untuk merumuskan maksud dan arah keterlibatan orang kristen dalam menghadapi masalah-masalah dalam hidup kemasyarakatan yang majemuk dan berbeda-beda.

Prinsip pertama dan yang paling penting di dalam ASG adalah prinsip penghargaan pada martabat manusia.Setiap orang adalah pribadi yang berharga, karena ia diciptakan menurut atau sesuai dengan citra Allah.

Prinsip kedua adalah upaya untuk menciptakan kebaikan bersama (bonum commune). Setiap orang adalah bagian dari masyarakat. Tidak ada orang yang bisa hidup sendiri. Oleh karena itu, setiap orang memiliki kewajiban untuk berperanserta mewujudkan kesejahteraan bersama di masyarakat, dan berhak juga untuk hidup sejahtera sebagai manusia yang bermartabat.

Prinsip ketiga adalah solidaritas. Solidaritas adalah ikatan yang menyatukan kita sebagai manusia. Prinsip keempat adalah prinsip subsidiaritas, artinya setiap kebijakan dan peraturan yang berlaku di masyarakat, baik itu lokal, nasional, maupun internasional, haruslah sejalan dengan prinsip kebaikan bersama.Prinsip kelima adalah keberpihakan pada mereka yang “kalah”. Mereka yang kalah ini termasuk juga kelompok minoritas tertindas, dan juga orang-orang yang miskin secara ekonomi, kultural, moral maupun spiritual.

Bagaimana ASG itu diterapkan?
Pertama, kita perlu memahami secara mendalam situasi yang ada di masyarakat. Analisis-analisis filsafat maupun teori-teori sosial bisa membantu kita dalam hal ini. Kedua, kita perlu menganalisis dan mengevaluasi situasi yang ada dalam kerangka kelima prinsip di atas. Dan ketiga, berpijak pada rencana-rencana yang sejalan dengan kelima prinsip dasarASG, kita melakukan tindakan nyata, dan kemudian melakukan evaluasi serta refleksi atas tindakan kita tersebut dalam terang kelima prinsip dasar ASG. ASG mendorong kita untuk peduli pada kekhawatiran, kecemasan, harapan, maupun kebahagiaan setiap orang.

Macam-Macam Ajaran Sosial Gereja
Nama-nama dokumen Gereja, termasuk dokumen tentang Ajaran Sosial Gereja diambil dari dua kata atau tiga kata pertama dokumen itu dan disingkat dengan mengambil huruf depan dari kedua atau ketiga kata tersebut. Adapun macam-macam dokumen yang berisi tentang Ajaran Sosial Gereja adalah sbb.

1. Rerum Novarum (RN)
Ensiklik Rerum Novarum ditulis oleh Paus Leo XIII pada tahun 1891. Isinya adalah tanggapan Gereja Katolik Roma pada situasi kerja kaum buruh di negara-negara yang mengalami revolusi industri.

2. Quadragessimo Anno (QA)
Dokumen ini ditulis oleh Paus Pius X pada tahun1931. Isinya adalah tanggapan Gereja Katolik Roma pada depresi ekonomi yang dialami dunia.

3. Mater et Magistra (MM)
Dokumen ini ditulis oleh Paus Yohannes XXIII pada tahun 1961. Isinya adalah upaya Gereja Katolik Roma untuk mendampingi negara-negara berkembang yang masih mengalami kesulitan pangan.

4. Pacem in Terris (PIT)
Dokumen ini ditulis oleh Paus Yohannes XXIII pada tahun 1963. Isinya adalah tanggapan Gereja Katolik Roma pada ancaman perang nuklir, himbauan untuk menciptakan perdamaian dan upaya mewujudkan masyarakat yang memperhatikan hak-hak azasi dan kewajiban manusia untuk secara aktif ambil bagian di dalam membangun kebaikan bersama untuk semua orang.

5. Gaudium et Spes (GS)
Dokumen ini dihasilkan dalam Konsili Vatikan II pada tahun 1965. Isinya adalah upaya Gereja Katolik Roma untuk semakin terbuka pada perkembangan dunia.

6.Popularum Progressio (PP)
Dokumen ini ditulis oleh Paus Paulus VI pada tahun 1967. Isinya adalah himbauan Gereja Katolik Roma untuk pengembangan masyarakat dan perdamaian dunia.

7.Octogesima Adveniens (OA)
Dokumen ini ditulis oleh Paus Paulus VI pada tahun 1971. Isinya berkisar tanggapan Gereja Katolik Roma perihal gejala Urbanisasi yang menciptakan banyak masalah-masalah sosial baru.
8.Justicia in Mundo (JM)
Dokumen ini ditulis pada tahun 1971. Isinya merupakan pernyataan Gereja, bahwa keadilan merupakan bagian penting dari kehidupan orang beriman.

9.Evangelii Nuntiandi (EN)
Dokumen ini ditulis oleh Paus Paulus VI pada tahun 1975. Isinya adalah himbauan Gereja Katolik Roma untuk menghubungkan evangelisasi dan pembebasan maupun kemajuan manusia yang berlangsung di semua level komunitas manusia.

10.Redemptor Hominis (RH)
Dokumen ini ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1979. Dokumen ini membahas martabat manusia, HAM, perkembangan teknologi modern, penjualan senjata ilegal dan pengembangan senjata pemusnah massal yang membahayakan umat manusia.

11.Dives in Misericordia (DM)
Dokumen ini ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1980 berisi tentang keprihatinan terkait kesenjangan yang semakin besar antara yang kaya dan yang miskin, serta himbauan menciptakan keadilan yang berpijak pada cinta bagi semua orang.

12. Laborem Exercens (LE)
Dokumen ini ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun1981. Bisa dibilang ini adalah inti dari ajaran sosial Paus Yohanes Paulus II. Baginya kerja haruslah meningkatkan martabat manusia. Dalam arti ini manusia haruslah ditempatkan lebih tinggi dari modal, ataupun niat untuk mencari keberuntungan

13. Sollicitudo Rei Socialis (SRS)
Dokumen ini ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun1987. Isinya merupakan analisis terbaru terkait dengan dokumen Populorum Progressio.

14. Centesimus Annus (CA)
Dokumen ini ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1991. Isinya adalah semacam pemaparan dan refleksi dari seratus tahun terakhir, setelah dokumen Rerum Novarum.

15. Novo Millenio Ineunte (NMI)
Dokumen ini ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 2000, berisi tentang kesadaran ekologi terkait dengan kerusakan alam, perdamaian dunia, HAM, dan keadilan.

16. Caritas in Veritate (CV)
Dokumen ini ditulis oleh Paus Benediktus XVI pada tahun 2009. Isinya adalah pengembangan terbaru dari Populorum Progressio ditambahkan dengan beberapa refleksi teologis yang amat mendalam soal krisis ekonomi dan etika bisnis. Dapat dikatakan bahwa dokumen ini memberikan kerangka teologis ASG.

Kepedulian Gereja terhadap masalah-masalah sosial secara kelembagaan diwujudkan dalam gerakan PSE (Pengembangan Sosial Ekonomi) dan gerakan APP (Aksi Puasa Pembangunan). Di tiap-tiap keuskupan selalu ada Komisi PSE dan Panitia APP. Di tingkat paroki ada Tim Kerja PSE. Selain itu Keuskupan Agung Semarang telah lama mewajibkan Paroki-paroki, agar 15% (sebelumnya 10%, sesuai persembahan persepuluhan) dana kolekte I, sebelum diperhitungkan untuk keperluan-keperluan lain dialokasikan untuk cadangan Dana Papa Miskin (Dan-Pa-Mis). Dalam pelaksaan perwujudan kepedulian sosial sebagai suatu gerakan, masing-masing paroki diharapkan mempunyai Pedoman Penggunaan Danpamis dan dituangkan dalam program kerja.
Selain itu gerakan atau kepedulian sosial bisa diwujudkan dalam solidaritas kemanusiaan ketika ada bencana alam, adanya Gerakan Orang Tua Asuh (GOTA) bagi anak-anak sekolah serta adanya lembaga-lembaga sosial gerejawi.

Secara kelembagaan Gereja Katolik tercatat sebagai lembaga sosial dengan nama PGPM (Pengurus Gereja dan Papa Miskin). Pada tahun 2015 ini untuk makin mewujudkan Gereja yang signifikan dan relevan Bapa Uskup Mgr. Johannes Pujasumarta menghimbau agar Gereja kita berwajah sosial melalui gerakan-gerakan yang makin dirasakan oleh banyak orang. Semoga Gereja kita makin mencermikan wajah Kristus yang peduli terhadap kaum KLMTD.

Berkah Dalem.
Robertus Hardiyanta, Pr
(Pastor Paroki Sragen)

Related Posts

  • 64
    Hari Minggu ke-33 di Masa Biasa 19 November 2017 Marilah kita mencintai, bukan dengan kata-kata melainkan dengan perbuatan 1. "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran" (1 Yoh 3:18), Kata-kata rasul Yohanes ini menyuarakan perintah yang tidak boleh diabaikan oleh orang Kristen manapun. Kesungguhan dalam perintah…
    Tags: dan, yang, kita, orang, dalam, ini, dengan
  • 59
      Gesi (LENTERA) - Tim Kerja Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) bekerja sama dengan Kuartir Ranting Gesi mengadakan kegiatan program bantuan air bersih, kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Pramuka dan merupakan rangkaian kegiatan Ulang Tahun Gereja Paroki Sragen yang ke-59. Pada hari Sabtu (13/8), pukul 11.00, bertempat di Lapangan Kecamatan Gesi kegiatan bantuan air…
    Tags: dan, yang, di, dari, untuk, pada, orang, adalah, ini, dengan
  • 58
    Saya pernah berbincang-bincang dengan salah satu saudara seiman dalam perjalanan pulang setelah mengikuti Perayaan Ekaristi di gereja. Ia mengatakan bahwa ibadat atau liturgi di Gereja Katolik itu “ monoton” kaku” membosankan.” Tata cara ibadat dari dulu sampai sekarang tidak ada perubahan. Kurang mendorong untuk mengubah hidup. Katanya lagu-lagunya itu-itu saja hanya dari Madah Bakti dan…
    Tags: yang, dalam, kita, di, dan, dengan, gereja