Peduli : Berbela Rasa Kepada Sesama

044-044-thegoodsamaritan-full

Budaya Kristiani adalah budaya kasih. Hal pokok ajaran ini yang diajarkan oleh Kristus ketika para ahli hukum Yahudi datang kepada Yesus dan menanyakan hukum mana yang paling utama. Yesus pada saat itu menjawab: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah manusia seperti dirimu sendiri,…” (Mrk 12: 30-31).

Dua hukum ini bukan untuk meniadakan hukum yang sebelumnya melainkan untuk memberi muatan kasih dan yang paling penting adalah menjadi dasar untuk hukum-hukum yang ada sebelumnya. Jadi hukum yang utama itu merupakan penegasa Yesus bahwa ketika ada hukum yang tidak sesuai dengan hukum kasih tersebut berarti hukum tersebut melanggar dan melenceng dari hukum kasih. Dengan hukum kasih tersebut, Yesus telah mengamandemen hukum taurat y ang terkadang kejam, seperti mata dibalas dengan mata, tangan dibalas dengan tangan, dan masih banyak lagi. Dalam kehidupaan harian, Kristus mengajarkan lebih mendasar bahwa kalau ditampar pipi kanan berikan pipi kirimu. Hukum kasih inilah yang membuat orang Kristiani, khususnya orang Katolik dikenal dengan cinta kasihnya, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa kalau seorang bertemu dengan orang Katolik pasti orang tersebut akan merasa nyaman, tenteram, damai, karena orang Katoli adalah orang yang penuh dengan belas kasih. Jadi, kalau ada orang Katolik yang masih belum dapat membera rasa nyaman, tenteram, damai, dan penuh belas kasih kepada masyarakat disekitarnya, mungkin orang tersebut belum mengenal Yesus Kristus secara mendalam dan personal.

Saat Kasih Dipertanyakan
Kejadian yang menggemparkan terjadi di tanah Papua yaitu adanya penyerangan dan pembakaran kawasan Tolikara Papua pada saat Salat Idul Fitri membuat kita bertanya-tanya apakah benar yang melakukan tindakan yang tidak bermoral itu adalah orang Kristiani atau hanya oknum saja? Apakah tujuan dan motifnya, kenapa kejadian tersebut terjadi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul karena mungkin kita merasa tidak percaya kalau apa yang terjadi adalah tindakan yang disengaja atau penuh dengan unsur benci dan kekerasan. Kita bertanya-tanya apakah benar murid-murid Kristus melakukan suatu hal yang berbau kekerasan seperti itu. Tidak mungkin orang Kristiani melakukan hal yang demikian. Kita sebagai orang Kristiani tidak menyangka. Ditambah lagi kesabaran kita diuji ketika membuka media sosial. Di media sosial kata-kata makian yang tidak berdasar muncul menanggapi kejadian tersebut, hingga permasalahan yang sebenarnya menjadi rancu, yang mana yang menjadi kebenaran dan yang mana yang hanya berita palsu untuk memecah belah persatuan Indonesia. Kita harus sabar, dan menyerahkan segala proses hukumnya kepada penegak hukum. Jangan khawatir. Jangan tersulut emosi ketika membaca komentar-komentar yang mungkin menyinggung SARA. Boleh membaca komentar di media sosial asalkan sambil mendaraskan reima agar tidak tersulut emosi: “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, kasih itu lemah lembut…..”

Anggaplah pengalaman yang tidak menyenangkan ini sebagai suatu tantangan untuk berbuat kasih, dan tentunya akan semakin mempertebal kemampuan kita untuk mengasihi Tuhan dan sesama kita. Kasih Itu Butuh Perbuatan Yang Nyata Kasih harus diwujudnyatakan dengan tindakan peduli terhadap sesama. Lantas siapakah sesama kita? Sesama kita adalah bisa orang yang dekat dengan kita:keluarga kita, saudara, teman. Namun Yesus dalam kisah orang Samaria yang baik hati mengajarkan bahkan orang yang berbeda pandangan, berbeda prinsip, berbeda kebudayaan, agama, ras, bahkan musuh kita adalah sesama kita. Sesama kita itu bisa orang yang dilahirkan tanpa ada kekurang satu apapun. Sesama kita itu bisa orang yang memang memiliki kebutuhan khusus atau difable. Siapapun sesama kita, dan sesama kita juga butuh untuk kita kasihi dan kita beri kepedulian.

Terkadang rasa peduli kita muncul ketika ada bencana alam. Bantuan dari manapun datang. Dana yang jumlahnya besar pun tidak tanggung-tanggung digelontorkan untuk membantu orang yang sedang dalam bencara. Namun, pertanyaan mendasar, apakah kepedulian itu muncul di saat ada bencana saja? Ada baiknya kepedulian itu muncul dan menjadi gaya hidup harian orang Kristiani. Memang tidak menggaruskan dengan bantuan yang besar melainkan hal-hal remeh dan sederhana. Misalnya, memberi makan, sandang kepada orang yang tuna wisma yang ada di pinggir-pinggir jalan, makanannya pun tidak harus yang enak, bisa saja makanan yang kita makan sehari-hari. Membuat gerakan jimpitan beras untuk warga kampung yang tidak mampu, mengunjungi orang sakit, dan mungkin masih banyak lagi kegiatan yang sederhana yang akan tetapi kepedulian ini sangat berguna bagi orang yang diberi bantuan.
Kepedulian itu adalah saat kita bisa berbela rasa kepada sesama kita yang membutuhkan, bukan karena kita lebih mampu dalam hal finansial melainkan karena kita punya kepedulian. Intinya ketika kita melihat suatu penderitaan sesama kita yang benar-benar tidak mampu, kita dapat merasakan penderitaan itu dengan ikut ambil bagian dalam penderitaan itu dengan berbagi. Seperti dalam perayaan Ekaristi di mana Kristus yang dibagi-bagi begitu pula kita. Kita menerima Injil dan Tubuh Darah Kristus, kemudian meresapkannya di dalam tubuh kita, dan kita mewartakan Kristus melalui diri kita yang rela berbagi.***

Redaksi LENTERA

Related Posts

  • 81
      Salam damai Kristus, Menyadari betapa besar cinta kasih Allah kepada kita, umat-Nya yang lemah dan sarat akan dosa sungguh merupakan sebuah refleksi manusiawi yang sangat mendasar dan tak akan pernah terhayati sampai kapanpun. Sebagai umat ciptaan-Nya, kadang kita tak mampu mengucap rasa syukur atas segala kasih karunia-Nya yang sudah kita terima dan kita alami…
    Tags: kita, yang, dan, orang, dengan
  • 78
    Apabila kita mengenang kisah Yesus 2.000 tahun yang lalu menjadi jelas buat kita akan adanya hubungan dengan kasih sayang, karena kasih sayang dinyatakan oleh Yesus dengan jalan melepaskan ikatan lidah dan membuka telinga bagi umat-Nya. Mengapa demikian dan apa hubungannya dengan  hari Valentine? Dalam Injil Markus (Mrk 7:31-37), Yesus yang menyembuhkan seorang tuli dan gagap.…
    Tags: yang, kita, dan, kasih, orang
  • 77
    Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) Saudari-saudara terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda. Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di…
    Tags: yang, dan, kita