Keluarga Mengikuti Kehendak Allah

1915145_1114809964839_882412_nPaus Emeritus Benediktus XVI melalui Surat Apostolik Porta Fidei (Pintu Iman) mengutarakan keprihatinannya tentang mulai merosotnya penerusan iman yang sedang melanda Gereja. Oleh sebab itu, Paus mengajak segenap warga Gereja untuk merefleksikan imannya sekaligus mengambil langkah kreatif guna membangun kembali iman dalam perjalanan ziarah hidupnya. Konferensi Waligereja Indonesia menanggapi ajakan ini dengan menghimbau seluruh umat Katolik Indonesia untuk mendalami Kitab Suci dan dokumen-dokumen Konsili Vatikan II sebagai dasar pijakan yang kokoh dalam merefleksikan imannya agar terus bertumbuh di dalam Kristus Yesus, Sang Penyelamat. Lembaga Biblika Indonesia (LBI) yang kiprahnya di bidang Kerasulan Kitab Suci juga memandang pentingnya keluarga dalam upaya penerusan iman. Keluarga-keluarga Kristiani diajak untuk mendalami imannya melalui pergulatan dalam Sabda Allah. Oleh sebab itu, LBI bersama para Komisi Kerasulan Kitab Suci se-Indonesia menetapkan tema, “Kitab Suci Dalam Keluarga” sebagai fokus kerasulan Kitab Suci dalam kurun waktu 2013-2016. Melalui tema ini diharapkan keluarga-keluarga Kristiani dapat bertumbuh dalam imannya berkat permenungan dan pergulatan mereka dengan Kitab Suci yang dibaca, direnungkan dan dihayati dalam keluarga.

Dengan bercermin kepada Keluarga Kudus Nazaret (Luk 2:41-52) umat diajak untuk merefleksikan hidup berkeluarganya, apakah sungguh telah mengusahakan nilai-nilai Injil seperti: kesetiaan, kasih, kesederhanaan, kerendahan hati dan pengorbanan yang menjadi tiang utama penyangga kehidupan berkeluarga.

Diingatkan bahwa tujuan akhir kita sebagai murid Kristus, yaitu seperti Bunda Maria, kelak di akhir zaman kita pun akan diangkat ke Surga, tubuh dan jiwanya. Namun, ada persyaratan yang harus dipenuhi untuk sampai ke sana, yaitu: setia melakukan kehendak Allah dalam kehidupan kita sehari-hari sampai akhir hidup. Kesetiaan kepada Allah adalah suatu keputusan yang harus kita buat setiap saat. Inilah yang ditanyakan oleh Yosua kepada bangsa Israel dan yang ditanyakan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya sebagaimana kita renungkan pada hari Minggu XXI-B.

Setelah Yesus mengajar orang banyak bahwa Ia adalah sang Roti Hidup, banyak dari mereka yang bersungut-sungut, dan kemudian “mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Yesus”(Yoh 6:66). Mengapa? Sebab mereka menganggap ajaran Yesus sebagai “perkataan yang keras”

(Yoh 6:60). Mereka tak bisa menerima bahwa Yesus menghendaki mereka makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya agar dapat memiliki hidup yang kekal (lih. Yoh 6:54). Namun Yesus tidak mengubah ajaran-Nya, dan bahkan mempersilakan para murid-Nya—jika mereka tidak percaya akan ajaran-Nya—untuk juga pergi meninggalkan Dia. Yesus bertanya kepada keduabelas rasul-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Jawab Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:67-69). Jawaban Rasul Petrus ini menjadi jawaban kita umat Katolik, yang mengamini perkataan Tuhan Yesus ini, dengan terus memperingati, merayakan dan menerima-Nya dalam rupa Ekaristi kudus.

Dewasa ini, kita melihat bahwa ada banyak orang yang juga menyebut diri sebagai murid Kristus dan keluarga kristiani, tetapi tidak mengimani ajaran tentang Tuhan Yesus sebagai Roti Hidup sebagaimana yang diimani oleh para rasul, seperti dinyatakan oleh Rasul Petrus. Atau dalam arti yang lebih luas, ada banyak orang yang menentukan sendiri ajaran mereka menurut pemahaman sendiri. Sehingga meskipun menyebut diri Kristen, mereka menyetujui paham-paham yang secara mendasar tidak sesuai dengan ajaran Kristus, seperti yang belakangan ini marak diperdebatkan di sejumlah negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Mereka mulai melegalkan perkawinan sesama jenis, aborsi, euthanasia, memperbolehkan dan bahkan menganjurkan pemakaian alat-alat kontrasepsi, dan seterusnya. Gereja Katolik tidak menyetujui paham-paham semacam ini. Kini, semakin banyak gereja-gereja non-Katolik yang mulai menyetujui pandangan sekular dan mengubah ajaran Kristus. Hanya Gereja Katolik-lah yang tetap menyuarakan ajaran iman dan moral yang sama seperti yang diajarkan oleh Kristus dan dilaksanakan oleh Gereja sejak awal. Gereja Katolik tetap konsisten mewartakan Injil yang berpihak kepada kehidupan dan bukan kematian.

Gereja Katolik tetap tak berubah dalam menyatakan kebenaran dan menjunjung tinggi kekudusan dan martabat manusia, dan bukan sebaliknya. Apa yang di masa lalu dinyatakan benar, sekarang pun tetap dinyatakan benar; demikian pula, yang dulu salah, kini tetap dinyatakan salah. Semoga hati nurani kita semakin diteguhkan untuk melihat betapa Gereja Katolik justru mengajarkan ajaran Kristus dalam kemurnian dan keutuhannya. Walaupun untuk melakukannya tentu diperlukan perjuangan, namun dengan mengandalkan rahmat Allah, tentu ajaran yang otentik ini lah yang akan membuahkan kekudusan dan kesempurnaan yang dikehendaki Allah bagi kita (lih. 1Tes 4:3; Mat 5:48). Tentu saja ajaran Gereja tak terbatas dalam hal moral tetapi juga dalam hal iman, seperti ajaran tentang Allah Trinitas,Inkarnasi, Yesus sungguh Allah sungguh manusia, keselamatan, arti Gereja, Tradisi Suci, sakramen-sakramen terutama Ekaristi, ajaran tentang Bunda Maria dan persekutuan orang kudus, Purgatorium, panggilan untuk hidup kudus dan seterusnya. Semua ajaran tersebut mempunyai implikasi dalam kehidupan kita sehari-hari. Apa masa lalu dinyatakan benar, sekarang pun tetap dinyatakan benar; demikian pula, yang dulu salah, kini tetap dinyatakan salah. Semoga hati nurani kita semakin diteguhkan untuk melihat betapa Gereja Katolik justru mengajarkan ajaran Kristus dalam kemurnian dan keutuhannya. Walaupun untuk melakukannya tentu diperlukan perjuangan, namun dengan mengandalkan rahmat Allah, tentu ajaran yang otentik ini lah yang akan membuahkan kekudusan dan kesempurnaan yang dikehendaki Allah bagi kita (lih. 1Tes 4:3; Mat 5:48)

Tentu saja ajaran Gereja tak terbatas dalam hal moral tetapi juga dalam hal iman, seperti ajaran tentang Allah Trinitas, Inkarnasi, Yesus sungguh Allah sungguh manusia, keselamatan, arti Gereja, Tradisi Suci, sakramen-sakramen terutama Ekaristi, ajaran tentang Bunda Maria dan persekutuan orang kudus, Purgatorium, panggilan untuk hidup kudus dan seterusnya. Semua ajaran tersebut mempunyai implikasi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jadi nampaknya kita perlu menyadari bahwa kebebasan yang diajarkan oleh Kristus “bukanlah kebebasan untuk berbuat apa saja menurut kehendak kita, tetapi kebebasan untuk dapat memilih apa yang baik dengan cara yang bertanggungjawab” (St. Paus Yohanes Paulus II, Juni 1988). Selanjutnya Paus juga mengajarkan, “Bebas dari ketidakadilan, ketakutan, paksaan dan penderitaan, akan menjadi tidak berarti kalau kita tetap menjadi hamba di kedalaman hati kita, yaitu hamba dosa yang memisahkan kita dari Allah. Maka marilah kita mengikuti teladan Bunda Maria yang menanggapi perkataan Allah yang disampaikan oleh malaikat dengan mengatakan: “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Didorong kesanggupan Maria seperti itu, keluarga Katolik dipanggil untuk menghayati hidup dan panggilannya sesuai sabda dan kehendak Allah, bukan keinginan dan kesenangan sendiri. Keluarga sebagai gereja basis bisa menjadi awal pendidikan iman yang baik. Bisa dilihat apakah tersedia Kitab Suci di keluarga, dimana anak disekolahkan, adakah kebiasaan doa bersama dan saling mendoakan satu sama lain? Semoga dengan mempercayakan diri kita kepada belas kasih Tuhan dan pertolongan-Nya, kita percaya Tuhan Yesus akan membimbing kita sebagai jemaat-Nya yang adalah mempelai-Nya sendiri, “dalam keadaan cemerlang, tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu tetapi kudus dan tidak bercela” (Ef 5:27).
Salam dan berkah Dalem

Oleh: Rm FX Suyamta Kirnasucitra, Pr
(Romo Paroki Sragen)

Related Posts

  • 81
    PESAN PAUS BENEDIKTUS XVI HARI MINGGU DOA PANGGILAN SEDUNIA KE-46 3 Mei 2009 PANGGILAN : INISIATIF ALLAH DAN JAWABAN MANUSIA Saudara-saudariku terkasih, Bertepatan dengan Hari Doa untuk Panggilan Sedunia yang akan berlangsung pada Hari Minggu ke-4 Masa Paska, tanggal 3 Mei 2009, izinkanlah saya mengajak seluruh umat kristiani untuk merenungkan tema: Panggilan, Inisiatif Allah dan…
    Tags: yang, dan, dalam, allah, untuk, kita
  • 81
    Kerahiman Ilahi (The Way of Life) : Tahun kerahiman telah dibuka oleh Bapa Paus Fransiskus pada hari raya Bunda Maria dikandung tanpa noda, 8 Desember 2015, dan akan berakhir pada tanggal 20 November 2016, pada Hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam, yang menghadirkan wajah kerahiman Allah. Peristiwa iman ini ditandai dengan pembukaan pintu…
    Tags: yang, kita, dan, allah, untuk, dalam
  • 80
    “Diutus Menjadi Garam dan Terang Bagi Masyarakat” Dibacakan/diterangkan pada hari Sabtu-Minggu, 6-7 Februari 2016     Saudara-saudariku yang terkasih Memasuki tahun 2016, umat Allah KAS telah memiliki ARDAS VII untuk periode 2016-2020. Dalam semangat ARDAS yang baru ini, kita ingin menapaki peziarahan iman, dengan bergotong royong memperjuangkan Peradaban Kasih melalui hidup bersama yang sejahtera, bermartabat…
    Tags: dan, yang, kita, dalam