Sudahkah Kita Melayani Seturut Sabda Allah?

yesusbasuhkakimuridPelayanan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan Gereja. Pelayanan itu dilakukan semata-mata karena Kristus yang menjadi teladan dalam melakukan pelayanan kepada sesama. Kristus sendiri memberi motivasi kepada murid-murid Kristus dalam karya pelayanan dan menuntunnya kepada orang-orang yang membutuhkan uluran kasih. Santo Paulus memandang Kristus sebagai satu-satunya dasar dan alasan untuk melayani Allah dan sesama manusia. Selama hidup-Nya, Yesus mencurahkan seluruh tenaga pikiran dan terutama hidup-Nya untuk melayani. Dia mengajar, menyembuhkan, dan mengampuni. Ia memberikan hidup-Nya kepada manusia, karena Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani : “Aku ada di tengahmu sebagai orang yang melayani” (Luk 22:27; bdk. Yoh 13:1-15), dan “Anak Manusia tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mat 20:28).

Yesus sendiri telah mengajarkan pada kita untuk selalu melayani dan mengasihi. Hal tersebut dapat kita terapkan pertama-tama di antara anggota keluarga sendiri, kemudian dapat diperluas di dalam lingkup Gereja serta masyarakat. Di dalam keluarga, terutama keluarga Kristiani, terdapat sebuah gereja kecil atau disebut juga dengan Gereja rumah tangga (Ecclesia domestica), di mana keluarga menjadi tempat Tuhan tinggal dan berkarya lewat masing-masing pribadi, anggota keluarga. Dalam kesadara itu Kita diharapkan untuk dapat turut serta dalam menghayati tri-tugas Kristus. Pertama, tugas kenabian, yaitu dengan mendengarkan dan mewartakan sabda. Berkat Sakramen Baptis, Krisma, dan perkawinan, keluarga Kristiani mendapatkan tugas misioner yaitu menjadi misionaris cinta kasih dalam kehidupan, mewartakan Injil, ‘kabar gembira’, kepada seluruh bangsa, terkhusus kepada pribadi atau keluarga yang kurang beriman. Kedua, tugas imamat. Tugas imamat dalam keluarga keluarga Kristiani dijalankan dengan menerima sakramen-sakramen, beribadat, doa, dan pengorbanan hidup sehari-hari, akan tetapi tidak sedikit yang mengabaikan semuanya itu, sehingga hasrat untuk melayani sesama kurang dapat tumbuh dengan baik. Kemudian, yang muncul adalah adanya rasa curiga, dendam, dan dengki. Ketiga, tugas rajawi. Tugas rajawi adalah sepenuhnya meneladan Yesus Kristus yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Keluarga Kristiani diharapkan untuk melihat orang lain di luar anggota keluarganya sebagai saudara-saudari Kristus sendiri, khususnya mereka yang miskin dan menderita.

Di dalam lingkup Gereja, kita pun diharapkan untuk berperan aktif dalam memberikan pelayanan dalam nama Tuhan Allah. Semuanya itu dilakukan bukan semata-mata sebagai pelayanan lahiriah, ataupun agar terlihat baik di mata orang lain, melainkan menjadi suatu sarana untuk mengkuduskan diri kita dan menjadi persembahan yang berkenan kepada Allah.

Masing-masing dari kita memiliki talenta sendiri-sendiri untuk saling melayani satu sama lain. Tuhan memberikan talenta yang berbeda-beda pada setiap manusia, tergantung dari kita bagaimana dalam mengem-bangkan talenta tersebut untuk melayani Allah. Pelayanan kita terkadang ada yang dapat diterima dengan senang hati, ada pula yang tidak dapat diterima. Yesus sendiri sebagai Putra Bapa diutus untuk melayani dan dengan rela hati merendahkan diri-Nya demi keselamatan manusia. Dalam prakteknya, Yesus tidak lah dengan mudah untuk melakukan semuanya itu. Dia dikecam, dimaki, diusir, bahkan dituduh yang bukan-bukan, tetapi Yesus tidaklah gentar untuk tetap melayani mereka yang sudah bertindak tidak baik terhadapNya. Hendaknya kita pun meneladan Yesus, yang dengan rela merendahkan diri-Nya. Kita pun diharapkan untuk tidak mudah berkecil hati ketika pelayanan kita tidak diterima orang lain. Dalam situasi tidak diterima itu, kita menjadi lebih kuat untuk tetap menjadi pelayan-pelayan umat seturut sabda Allah.

Kasih yang kita alami di dalam keluarga dan keikutsertaan dalam perutusan Gereja membawa kita pada lingkup yang lebih luas yakni lingkup masyarakat. Di dalam masyarakat, kita belajar untuk bersosialisasi dan mengembangkan talenta. Sebenarnya di dalam masyarakat inilah kita dapat dikatakan sedang “bersekolah” untuk menjadi warga masyarakat yang baik. Selain belajar untuk bersosialisasi dan mengembangkan talenta, kita juga belajar untuk berkorban serta berdialog dengan sesama yang seiman maupun tidak seiman. Tidak terkecuali untuk warga kristiani. Tidak sedikit dari warga kristiani yang dipercaya oleh warga sekitarnya untuk menjadi pengurus di masyarakat. Peri hidupnya yang baik dapat dilihat orang sehingga mereka dipercaya. Dengan kata dan karyanya, mereka dapat menjadi garam dan terang dunia. Kehadiran mereka sungguh menjadi berkat untuk sesama.

Jadi, apakah kita akan berdiam diri dan menunggu datangnya rahmat Allah dengan sendirinya? Yesus Kristus telah rela wafat bagi kita demi keselamatan manusia. Marilah kita saling melayani dengan sepenuh hati sesuai dengan ajaran Yesus tanpa harus mencari imbalan apa yang dapat kita terima dari semuanya itu. Imbalan yang paling besar dari Allah adalah Kerajaan Surga bagi kita. Perjalanan kita tidaklah berhenti disitu saja, tetapi itu adalah awal dari proses memperluas Kerajaan Allah dengan melayani satu sama lain diantara aggota keluarga, di antara warga lingkungan dan Gereja, serta di lingkup masyarakat.***

Oleh: Tim Redaksi LENTERA

Related Posts

  • 86
    BERJUMPA DENGAN ALLAH DALAM KELUARGA “Mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu” (Luk 2:16) Dalam perayaan Natal tahun ini, kami mengajak seluruh umat Kristiani untuk menyadari kehadiran Allah di dalam keluarga dan bagaimana keluarga berperan penting dalam sejarah keselamatan. Putera Allah menjadi manusia. Dialah Sang Imanuel; Tuhan menyertai kita. Ia hadir…
    Tags: dan, keluarga, yang, allah, dalam, di, untuk, kita, dengan, menjadi
  • 75
    PESAN PAUS BENEDIKTUS XVI HARI MINGGU DOA PANGGILAN SEDUNIA KE-46 3 Mei 2009 PANGGILAN : INISIATIF ALLAH DAN JAWABAN MANUSIA Saudara-saudariku terkasih, Bertepatan dengan Hari Doa untuk Panggilan Sedunia yang akan berlangsung pada Hari Minggu ke-4 Masa Paska, tanggal 3 Mei 2009, izinkanlah saya mengajak seluruh umat kristiani untuk merenungkan tema: Panggilan, Inisiatif Allah dan…
    Tags: yang, dan, dalam, allah, untuk, dengan, kita
  • 73
    Diterangkan/dibacakan pada Sabtu – Minggu, 14 – 15 Oktober 2017 “ MEMBANGUN GIZI ” Saudari-saudaraku yang terkasih, Hari Pangan Sedunia (HPS) diperingati setiap tanggal 16 Oktober. Peringatan HPS merupakan salah satu resolusi atau putusan bersama Konferensi Negara-negara anggota Food and Agriculture Organization (FAO) yang diselenggarakan pada bulan November 1976 di Roma. Sebagai resolusi bersama, Negara-negara…
    Tags: dan, yang, kita, dengan, untuk, dalam, keluarga