Tujuan Utama Keluarga: Surga Vs Kegembiraan di Dunia Saat Ini

family

Sejak awal mula Tuhan menciptakan manusia di dalam kasih-Nya dan Ia merencanakan agar kita dapat kembali bersatu dengan-Nya di dalam kasih-Nya. Jika pasangan saja mempunyai keinginan untuk selalu bersama, Tuhan yang kasihnya lebih sempurna daripada manusia menginginkan kebersamaan yang sempurna di dalam Surga. Surga di sini maksudnya adalah kebersamaan yang kekal dengan Tuhan (lih. Yoh 14:3); persekutuan sempurna antara kita dengan Allah dan dengan sesama manusia di dalam Kristus Yesus (1 Yoh 1:3). Inilah yang digambarkan sebagai Perkawinan Anak Domba, di mana Kristus Sang Anak Domba bersatu dengan Mempelai-Nya, yaitu Gereja-Nya (lih. Why 19:6-10), yang adalah kita semua.

 

Kehidupan keluarga semasa kita masih berziarah di dunia ini harus mengarah ke surga.

Pandangan kita ke surga ini sungguh akan memberi kekuatan dalam kehidupan berumah tangga. Misalnya, jika sampai salah satu dari pasangan jatuh di dalam dosa, pasangannya jangan meninggalkannya, justru berjuang untuk mengangkat agar dapat kembali bersama-sama berjalan di jalan Tuhan menuju surga. Kita harus mengingat bahwa melalui sakramen perkawinan, suami istri telah diikat oleh Tuhan, dengan harapan  dapat saling menuntun agar bersama memperoleh kebahagiaan kekal. Pandangan ke surga ini membuat seluruh keluarga kompak, saling membantu saling menopang dalam iman, sebab tiap-tiap anggota menginginkan agar sekeluarga berkumpul kembali di surga nanti.

Jika sebagai pasangan suami istri mengarahkan pandangan ke surga, kita akan menyadari bahwa segala yang ada pada kita (harta milik, kesehatan, kepandaian, bakat, dst) semuanya sesungguhnya adalah karunia yang ‘dititipkan’ pada kita untuk kita kelola dengan bijaksana (lih. Mzm 90:12). Bukan berarti bahwa kita tidak usah bekerja. Intinya, kita tidak melulu memikirkan bagaimana mengumpulkan rejeki duniawi sebanyak-banyaknya demi kesenangan jasmani; namun kita mengarahkan pandangan kepada tujuan akhir hidup kita, yaitu Surga  (lih. Kol 3:1).

Pandangan ke surga juga mempengaruhi kita dalam mendidik anak- anak. Jika fokus kita adalah menghantar anak-anak ke surga, kita harus dengan serius membina pertumbuhan iman mereka. Pendidikan di sekolah-sekolah Katolik menjadi salah satu caranya. Namun pendidikan iman harus tetap diadakan di rumah, seperti membaca Kitab Suci, memperkenalkan teladan iman dari riwayat hidup para Santa-santo. Orang tua juga harus mempersiapkan diri untuk ‘membentengi’ anak- anak kita dengan perisai iman yang baik, agar tidak begitu saja menjadi korban ‘kesesatan’ media dan pergaulan yang tidak baik di masyarakat. Sudah saatnya kita mengisi cawan hati kita dengan iman yang hidup, agar kita dapat membagikan isi cawan itu kepada anak-anak kita.

Juga tak kalah penting adalah tugas orang tua untuk mendidik anak-anak untuk hidup dalam kemurnian (chastity) (lih. Mat 5: 8) Pendidikan kemurnian ini menghantar anak- anak untuk menemukan tugas panggilan hidup mereka, entah panggilan hidup berkeluarga ataupun selibat untuk Kerajaan Allah. Kedua jenis panggilan hidup ini merupakan cara yang sama- sama mengarahkan manusia kepada kekudusan. Orang tua dengan sikap terbuka memberikan penjelasan kepada anak tentang keluhuran makna hidup selibat bagi Kerajaan Allah.

Di tengah dunia yang makin konsumtif ini, kita juga perlu memohon kepada Tuhan agar mata hati kita tidak tergiur akan gemerlapnya kemewahan dunia. Paus Yohanes II mengajarkan, bahwa kita harus mengajarkan kepada anak- anak kita agar tidak menilai orang dari apa yang dia miliki, tetapi dari apa adanya orang itu, sebab setiap orang diciptakan di dalam kasih Tuhan. Penghayatan akan pengajaran ini membawa dampak dua arah, yaitu pertama terhadap diri kita sendiri,  menjadikan kita tidak terikat terhadap kekayaan dan hidup lebih sederhana. Kedua, terhadap orang lain kita dapat lebih menerapkan kasih yang tulus. Segala hal di dunia sifatnya sementara dengan tujuan menghantarkan agar kita lebih dekat kepada-Nya.  “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26).  Sabda ini merupakan ajakan bagi kita untuk mulai dari sekarang, membangun rumah tangga kita di dalam Tuhan dan bersama Tuhan, dengan Surga dan keselamatan kekal sebagai tujuannya.

Tujuan tersebut dapat terlaksana kalau keluarga-keluarga Katolik memusatkan kehidupan perkawinan pada Kristus, dengan dibantu doa, Firman dan Sakramen, disertai kasih pemberian diri yang tulus setia sampai akhir. Hanya bersama Tuhan, kita dimampukan untuk membangun rumah tangga kita di atas pondasi yang kuat, dengan mengarahkan pandangan kita kepada kebahagiaan Surgawi dan dapat menjadikan keluarga kita sebagai persekutuan kasih dan mewartakan Injil.

Ini berbeda dengan jika kita membangun rumah kita atas dasar kesenangan duniawi dan berfokus pada hal-hal yang bersifat sementara dan jasmani. Sebab jika demikian,  kita bagaikan membangun rumah di atas pasir yang rapuh sehingga rumah menjadi rentan terhadap angin, hujan dan banjir.  Memang, kehidupan keluarga kita di dunia ini tidaklah sepi dari godaan dan masalah, yang serupa dengan hujan dan banjir. Namun Injil mengatakan, “Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Mat 7:25) Mari, sebagai keluarga Katolik kita membangun kehidupan keluarga di atas batu, sehingga ketika banjir, hujan, dan badai menerpa kehidupan keluarga kita, maka kita dapat bertahan terus sampai pada kesudahannya

 

Disari dari:

Stefanus tay & Ingrid Tay, Perkawinan Katolik vs Perkawinan Dunia

http://www.katolisitas.org/6388/perkawinan-katolik-vs-perkawinan-dunia     

 

Related Posts

  • 85
    Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) Saudari-saudara terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda. Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di…
    Tags: yang, dan, kita
  • 85
      Pembaca LENTERA terkasih, bagaimana kabar anda hari ini ? Semoga semuanya terasa indah dalam naungan dan berkat Tuhan, setiap usaha dan rencana senantiasa berjalan lancar sesuai dengan apa yang kita inginkan. Nah ngomong ngomong nih, apakah anda suka berjalan-jalan ke tepi pantai, memandang birunya laut dengan ombak putih yang berkejaran disertai sejuknya semilir angin…
    Tags: kita, dan, yang, dengan
  • 84
    Langkah 1: Mempersiapkan diri sebelumnya dan mengarahkan hati sewaktu mengikuti liturgi Untuk menghayati liturgi, kita harus sungguh mempersiapkan diri sebelum mengambil bagian di dalamnya. Contohnya ialah: membaca dan merenungkan bacaan Kitab Suci pada hari itu, hening di sepanjang jalan menuju ke gereja, datang lebih awal, berpuasa (1 jam sebelum menyambut Ekaristi dan terutama berpuasa sebelum…
    Tags: kita, yang, dan, di, dengan