Mari Berjuang, Singsingkan Lengan Baju!

 

hari pahlawan

Bangsa Indonesia sudah mencapai kemerdekaan di umur yang ke 70 tahun, tetapi apakah perjuangan bangsa Indonesia sudah usai. Masih belum! Masih banyak persoalan, masalah yang belum selesai sampai sekarang, dari masalah yang klasik seperti kemiskinan, korupsi, kelaparan, ketidakadilan ekonomi, keserakahan yang berujung pada pengrusakan alam , dan masih banyak lain. Rasanya belum ada titik temu, atau racikan yang tepat untuk mengatasi masalah dari Negeri Indonesia. Butuh sosok yang dapat menyelesaikan masalah-masalah dengan sikap perilaku dan tindakan yang tepat.

 

Indonesia membutuhkan sosok pahlawan!

Di jaman perang kemerdekaan, perang agresi militer, kita dapat melihat banyak orang yang mengorbankan kepentingan dirinya sendiri, dan berani mengorbankan hidupnya untuk membela tanah air. Mereka berjuang agar bangsa tidak dijajah, agar bangsa tidak lagi dirampok oleh bangsa asing. Motivasi mereka ini bukan untuk mendapatkan gelar ‘pahlawan’, tetapi semata-mata ingin membebaskan masyarakat dari penjajahan, juga berjuang agar saudara sebangsanya merdeka dari berbagai macam seperti belenggu, seperti belenggu penjajahan, belenggu kebodohan, belenggu tradisi yang mengekang. Kita dapat melihat contoh dari Ki Hajar Dewantara yang membebaskan bangsa dari belenggu kebodohan. Raden Ajeng Kartini yang membebaskan perempuan dari belenggu tradisi yang menghambat perkembangan perempuan,  juga kita dapat melihat sosok Mgr. Soegijapranata yang berjuang untuk kemerdekaan Negara Indonesia dengan jalur diplomasi. Mereka terpanggil dan kemudian melakukan suatu tindakan dengan caranya masing-masing.

 

Kesadaran Berbangsa dan Bernegara

Kesadaran berbangsa dan bernegara sebagai warga pada saat ini mengalami degradasi nilai. Kesadaran berbangsa ini harus ada di dalam hati kita. Kalau itu hilang, kita tidak akan kehilangan kehormatan kita sebagai bangsa. Kesadaran sebagai bangsa yang besar akan menghantarkan diri kita untuk berani menyingsikan lengan baju demi kemajuan bangsa tanpa bertanya akankan apa yang ditindakan menghasilkan keuntungan atau tidak. Di jaman ini, kesadaran berbangsa itu hilang karena kita sering berpikir tentang untung rugi semata. Disamping itu, kita terkadang hanya berpikir untuk kelompoknya sendiri (kelompok suku, ras, agama, warna kulit), atau bisa dikatakan sebagai fanatisme. Fanatisme inilah yang terkadang merusak kesadaran berbangsa: kesadaran kita yang hidup di Negara Indonesia yang  menjunjung tinggi bhineka tunggal ika. Fanatisme itu menghancurkan semangat Sumpah Pemuda, yang mengikrakan diri sebagai suatu bangsa tanpa memandang dari suku, ras, warna kulit, dan agama apa. Ikrar suci itu harus dijaga. Tanpa itu, Negara Indonesia mungkin akan hancur.

Menteri Pertahanan  meluncurkan suatu program yang menjadi polemik di masyarakat yaitu program bela negara. Program ini mungkin digulirkan karena adanya kegelisahan terhadap keadaan masyarakat yang mulai acuh dengan bangsanya sendiri. Kalau benar program itu dilaksanakan, apakah kita mau ikut terlibat?

 

Perwujudan Iman: Berani menjadi Pahlawan

Dalam iman Kristiani, kita dituntukt untuk mewujudkan Iman kita dalam perbuatan nyata. Berani menjadi pahlawan adalah salah satu perwujudan iman. Rasa cinta kepada Tuhan diwujudkan dengan mencintai sesama dan mencintai alam sekitar kita. Kalau perwujudan iman kita adalah menanggapi panggilan menjadi pahlawan; bukan karena ingin mendapatkan gelar pahlawan melainkan karena kita ingin membalas cinta Tuhan kepada kita. Kita sudah dicintai Tuhan, sekarang saatnya membalas cinta Tuhan. Andai kata kita mendapatkan gelar Pahlawan, itu mungkin  bonus yang akan kita terima. Kita mendapatkan panggilan untuk menjadi pahlawan-pahlawan dalam kehidupan harian. Sangat sederhana, tetapi berguna bagi sekitar kita. Berpikir global, bertindak lokal. Panggilan itu ada di sekitar kita. Menghidupi pekerjaan kita dengan sungguh-sungguh itu juga kita sudah menjadi pahlawan, misalnya menjadi guru dengan sungguh-sungguh; menuntun anak didiknya menjadi manusia bermoral, pintar, dan juga berguna bagi bangsa. Contoh lain, berani memberikan waktu untuk menjaga keamanan lingkungan dengan ronda malam. Berani meluangkan waktu untuk ikut serta gotong royong membersihkan desa dengan tulus hati, dan masih banyak lain hal-hal sederhana yang dapat kita upayakan.

Panggilan menjadi pahlawan terbuka luas di hadapan kita, tetapi perlu kita renungkan sosok pahlawan adalah sosok yang berani menanggung beban penderitaan orang lain dipundak. Pahlawan itu tidak mementingkan dirinya sendiri melainkan berani mengorbankan apa yang sungguh berarti bagi hidupnya untuk sesama, juga alam semesta. Pahlawan itu sadar dan peka dengan keadaan yang ada disekitarnya, dan berusaha untuk memperbaiki keadaan yang kurang baik itu. Kalau dilihat-lihat, ciri khas itu terdapat dalam diri Yesus Kristus. Nah, para pembaca yang terkasih, kalau Tuhan Yesus sendiri sudah memberi teladan yang baik, maukah kita berani menanggapinya?

 

Redaksi LENTERA

Related Posts

  • 75
    Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) Saudari-saudara terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda. Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di…
    Tags: yang, dan, kita
  • 75
    PESAN BAPA SUCI FRANSISKUS UNTUK HARI KOMUNIKASI SEDUNIA 24 Januari 2018 “Kebenaran itu akan Memerdekakan Kamu” (Yoh 8:32) Berita Palsu dan Jurnalisme Perdamaian . Saudara dan Saudari yang terkasih, KOMUNIKASI adalah bagian dari rencana Allah bagi kita dan jalan utama untuk menjalin persahabatan. Sebagai manusia kita diciptakan seturut gambar dan rupa Sang Pencipta, dan karenanya…
    Tags: yang, dan, kita, untuk
  • 75
    Pernah mendengar nama Lee Myung-bak? Ia adalah presiden Korea Selatan yang terpilih pada tahun 2008 hingga sekarang. Lee terlahir dari keluarga sangat miskin. Begitu miskin hingga ia terbiasa makan ampas gandum dan sering mengganjal perutnya dengan minum air putih. Meski begitu Lee punya tekad kuat untuk menempuh pendidikan tinggi. Ia belajar keras demi mendapat beasiswa…
    Tags: yang, dan, kita, di, dengan, untuk, dari