Meneladani Pahlawan Iman (Para Kudus) Dengan Hidup Kudus

Romo YamtaPengantar
Gereja menetapkan bahwa bulan November adalah bulan untuk memperingati para arwah, yang dimulai dengan hari raya para orang kudus pada tanggal 1 November dan hari peringatan semua arwah orang beriman pada tanggal 2 November. Hari raya para orang kudus mengingatkan kita bahwa tujuan akhir dari kehidupan kita adalah Surga. Sedangkan hari peringatan semua arwah orang beriman mengingatkan kita bahwa ada sejumlah anggota Gereja yang masih membutuhkan doa-doa kita, yaitu mereka yang berada di purgatorium (api penyucian), mereka ini sedang mengalami masa pemurnian. Dalam rangka membantu jiwa-jiwa di purgatorium, Gereja memberikan indulgensi penuh pada hari peringatan semua arwah orang beriman, sehingga kita dapat membantu jiwa-jiwa tersebut agar dapat digabungkan ke dalam persekutuan orang kudus di Kerajaan Surga. Jadi, sesungguhnya kita mempunyai kesempatan untuk membantu jiwa-jiwa di purgatorium secara istimewa di hari (bulan) arwah. Namun, tentu kita juga tetap dapat membantu jiwa-jiwa tersebut di hari-hari yang lain.

.
Pada perayaaan iman hari raya semua orang kudus, antiphon pembuka dipilih ayat ini: “Marilah kita semua bergembira dalam Tuhan sambil merayakan hari pesta untuk menghormati semua orang kudus; pada hari raya ini para malaikat pun turut bergembira dan bersama-sama memuji Putra Allah.” Hari ini, kita sebagai satu keluarga besar umat Allah bersyukur untuk rahmat Allah yang menguduskan umat beriman, entah mereka yang telah berjaya di Surga, maupun kita yang masih berjuang di dunia ini. Sungguh, kita bersukacita tidak saja untuk menghormati para orang kudus itu, tetapi juga untuk merayakan pengharapan iman kita. Bahwa suatu saat nanti, jika kita setia beriman sampai akhir, kita pun akan digabungkan dalam bilangan para orang kudus-Nya. Dengan kata lain, untuk digabungkan dengan persekutuan para kudus, kita pun harus hidup secara kudus.

.

.

Hidup Kudus
Rasanya kata ini terdengar berat betul, ya? Romo Raniero Cantalamessa OFMCap, imam pengkhotbah Kepausan yang berkunjung ke Jakarta dalam khotbahnya tgl 24 Oktober 2015 yang lalu mengatakan, bahwa kekudusan dapat dijabarkan dengan lebih sederhana dalam empat hal, yaitu: kebaikan, kemurahan hati, ketulusan dan kejujuran. Semoga kita dapat menerapkan keempat hal ini dalam tugas-tugas keseharian kita, dan dengan demikian kita dapat bertumbuh dalam kekudusan itu. Para orang kudus adalah orang-orang yang setia dalam tugas panggilan hidup sampai akhir hayat. Mereka adalah “orang-orang yang keluar dari kesusahan besar” (Why 7:14), dan mereka itu adalah orang-orang yang setia kepada Tuhan dalam kesusahan besar itu. Oleh karena itu, Allah berkenan memuliakan mereka dalam Kerajaan-Nya.

.
Apakah “kesusahan besar” itu? Mungkin ini dapat diartikan sebagai kemartiran, namun juga secara umum adalah perjuangan memikul salib kehidupan. Sebab Gereja mengajarkan bahwa seperti Kristus, kita pun dipanggil untuk mau menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Dia (Luk 9:23). Romo Cantalamessa mengatakan, banyak orang salah mengerti tentang hal ini, seolah-olah kita harus hidup dalam kesulitan dan penderitaan semata-mata. Bukan demikian. Yang benar adalah bahwa “memikul salib” ini maksudnya adalah perjuangan untuk tetap setia dalam panggilan hidup kita. Kesetiaan ini mungkin saja melibatkan pengorbanan, yaitu mau berkurban untuk tetap setia menjalani panggilan hidupnya. Orang yang sedemikian akan hidup bahagia, bukan hanya dalam kehidupan kekal kelak, tetapi juga bahkan dalam kehidupan sekarang ini. Contohnya, para suami tetap setia kepada istrinya, demikian pula istri setia kepada suaminya. Para imam setia terhadap panggilannya sebagai imam. Kaum muda setia dalam menjaga kemurnian agar tidak jatuh dalam pergaulan bebas. Dengan demikian, maksud Yesus memerintahkan kita untuk mengikuti Dia, itu tidak berhenti pada memikul salib saja, tetapi bahwa dengan memikul salib itu, kita dapat sampai kepada kebangkitan. Maka tujuan akhirnya adalah kebangkitan atau kemenangan terhadap kuasa dosa bersama Kristus. Dalam konteks inilah, kita melihat bahwa perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus menjadi relevan, sebab kita memang menantikan saat itu, saat kita dapat dibangkitkan dan digabungkan dengan mereka dalam kebahagiaan kekal di Surga. Namun sejak sekarang pun, kita sudah dapat turut bersuka cita akan pengharapan iman kita itu.

.
Kita bersukacita karena boleh memohon dukungan doa dari semua orang kudus yang telah berjaya di Surga. Mereka bukan hanya para Santa Santo yang telah dikanonisasikan oleh Gereja, tetapi juga orang-orang lain yang telah dipandang sempurna oleh Allah. Termasuk di sini adalah kaum awam yang “yang melalui tugas kegiatan setiap hari, adalah para pekerja yang tak kenal lelah bagi kebun anggur Tuhan. Setelah melalui hidup tanpa diperhatikan banyak orang dan mungkin telah disalahpahami oleh para petinggi dan penguasa mereka disambut oleh Allah Bapa kita. Mereka adalah orang-orang yang rendah hati tetapi pekerja yang baik demi perkembangan Kerajaan Allah dalam sejarah….” (St. Paus Yohanes Paulus II,Christifideles Laici). Karena itu setiap orang baik itu pekerja profesional maupun ibu rumah tangga, pengusaha maupun buruh, pelajar maupun …., semua orang yang dengan setia melakukan tugas-tugas mereka sehari-hari dapat bertumbuh dalam kekudusan. Sebab kekudusan tidak tergantung dari status seseorang dalam hidup, baik lajang, menikah, janda atau imam, tetapi dari kesesuaian pribadi kita dengan rahmat yang Tuhan karuniakan kepada setiap kita. Kita dipanggil untuk menguduskan pekerjaan kita, menguduskan diri kita sendiri dalam pekerjaan kita, dan menguduskan orang lain melalui segala sesuatu yang berkenaan dengan pekerjaan kita. Dengan demikian kita dapat menemukan Tuhan dalam semua langkah kehidupan kita. Jika sesekali kita jatuh, atau kurang setia, atau melakukan tugas-tugas dengan keluh kesah, kita disadarkan kembali untuk memperbaiki diri. Inilah jatuh bangun perjuangan dan perjalanan hidup kita di dunia.

.

.
Penutup
Maka dari itu, marilah kita belajar dari para orang kudus itu, yang tidak pernah menganggap diri sendiri sebagai orang kudus. Sebaliknya mereka selalu mengakui kebutuhan mereka akan belas kasihan Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang mengandalkan Tuhan, dan senantiasa mencari pertolongan Tuhan. Semasa hidupnya di dunia, mereka kerap mengunjungi Kristus dalam Sakramen Mahakudus dan menimba kekuatan dari kehadiran-Nya di sana. Mungkin saja cara hidup para orang kudus ini berbeda-beda, tetapi mereka semua memiliki persamaan, yaitu bahwa mereka begitu mengasihi Tuhan dan orang-orang di sekitar mereka. Dan dengan kasih inilah mereka membuktikan bahwa mereka adalah murid-murid Kristus (lih. Yoh 13:34-35). “Terang teladan mereka menyinari kita dan kerap membuat lebih mudah bagi kita untuk melihat apa yang harus kita lakukan. Mereka dapat menolong kita dengan doa-doa mereka, doa-doa yang kuat dan bijaksana, ketika doa-doa kita begitu lemah dan buta. Ketika kamu melihat di langit malam hari yang dipenuhi bintang di bulan November, pikirkanlah jiwa-jiwa yang tak terhitung banyaknya di Surga, semua yang siap sedia membantumu” (R.A. Knox, Sermon, 1 November 1950).Jadi di bulan November ini kita diingatkan akan dua hal. Pertama-tama, untuk memohon dukungan dari para orang kudus, dan kedua, agar kita pun mendoakan saudara-saudari kita yang telah mendahului kita, agar mereka memperoleh belas kasih Tuhan dan dapat digabungkan dalam bilangan para kudus Tuhan di Surga.

.

.
Catatan
Gereja memberikan indulgensi, bahkan indulgensi penuh pada tanggal 1 November sampai dengan 8 November kepada mereka yang: 1) berdoa bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian; 2) antara tanggal 1 s/d 8 November mengunjungi kubur (makam); 3) menerima Komuni Kudus; 4) berdoa bagi intensi doa Bapa Paus; 5) mengaku dosa dalam Sakramen Tobat. Satu kali pengakuan dosa dalam Sakramen Tobat cukup untuk perolehan indulgensi. Indulgensi penuh mensyaratkan ketidakterikatan dengan segala dosa, termasuk dosa ringan sekalipun.
“Ya Tuhan, betapa kami berbahagia, sebab Engkau telah memilih kami untuk menjadi anak-anakMu. Semoga kami dapat setia menjalani panggilan hidup kami seturut kehendak-Mu agar kelak kami dapat digabungkan dalam bilangan para orang kudus-Mu.

Berkah Dalem,

Rm. FX Suyamta Kirnasucitra Pr

Related Posts

  • 78
    Setiap tanggal 10 November kita bangsa Indonesia selalu memperingati hari pahlawan. Serangkaian kegiatan dilakukan oleh pejabat pemerintah, tokoh-tokoh angkatan (pejuang 45), TNI, POLRI, tokoh umat, tokoh masyarakat, dengan mengadakan upacara, ziarah ke makam pahlawan, dan sebagainya. Yang mana semuanya itu sebagai bentuk penghormatan bagi mereka yang telah dengan sukarela berkorban untuk membela bangsa dan negara…
    Tags: dan, yang, dalam, untuk, kita, para, mereka, orang
  • 76
    Dibacakan/diterangkan pada Malam Tirakatan atau Hari Raya Kemerdekaan Indonesia Rabu - Kamis, 16 - 17 Agustus 2017 “MENGEMBANGKAN SEMANGAT KEBANGSAAN DAN KE-BHINNEKA TUNGGAL IKA-AN” Para sahabat muda, anak-anak dan remaja; para Saudari-saudara, Ibu, dan Bapak; serta para Rama, Bruder, Suster, Frater yang terkasih. Baru saja kita akhiri perhelatan besar Keuskupan Agung Semarang sebagai tuan rumah…
    Tags: dan, yang, kita, dengan, di, dalam
  • 76
    Hari Minggu ke-33 di Masa Biasa 19 November 2017 Marilah kita mencintai, bukan dengan kata-kata melainkan dengan perbuatan 1. "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran" (1 Yoh 3:18), Kata-kata rasul Yohanes ini menyuarakan perintah yang tidak boleh diabaikan oleh orang Kristen manapun. Kesungguhan dalam perintah…
    Tags: dan, yang, kita, orang, dalam, dengan