Ecclessia Domestica

para-uskup-ok

Dalam Info Khusus (Fokus) ada dua hal yang menjadi bahan permenungan yaitu Pesan Natal tahun 2015 dan hasil dari Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia. Dua bahan permenungan itu membahas tentang keluarga. Keluarga memang sangat dekat kehidupan kita, bahkan Yesus pun hadir dalam keluarga Nasaret. Keluarga mempunyai peran yang sangat signifikan untuk kehidupan berbangsa bermasyarakat karena hanya lewat keluarga-keluarga yang baik, lahir generasi-generasi yang baik pula.

Dalam Pesan Natal 2015, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengajak umat Kristiani untuk merenungkan kembali jati diri dengan merenungkan tema “Hidup Bersatu Sebagai Keluarga Allah.” Dari tema tersebut kita diajak untuk merenungkan jati diri kita sebagai ciptaan-Nya, citra Allah.

Namun, apa yang dimaksud dengan citra manusia Allah? Manusia sebagai citra Allah mempunyai arti bahwa: 1) manusia dapat mengenal dan mengasihi Penciptanya; 2) manusia adalah seorang pribadi, bukan hanya ‘sesuatu’, 3) manusia diciptakan untuk menguasai alam dan melayani Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu untuknya, 4) misteri tentang manusia hanya dapat dipahami dengan mengacu kepada misteri Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia, 5) umat manusia merupakan satu kesatuan, karena mempunyai asal yang sama yaitu Allah, 6) maka semua manusia adalah saudara dan saudari di dalam Tuhan; 7) manusia merupakan mahluk rohani, walaupun ia mempunyai tubuh jasmani. Dalam poin kelima, Tuhan memang menciptakan perbedaan dan keragaman sebagai anugerah. Namun, karena keangkuhan manusia sendiri, perbedaan pemisah satu dengan yang lain. Perbedaan menjadi suatu alasan untuk menghacurkan satu sama lain. Dalam keadaan yang porak-poranda semacam ini, kita perlu melakukan rekonsiliasi, perbuatan memulihkan hubungan persahabatan kembali ke keadaan semula, baik dengan sesama manusia, maupun dengan seluruh ciptaan Tuhan: flora dan fauna.

Keluarga sebagai Sekolah Utama
Konferensi Waligereja Indonesia melangsungkan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia SAGKI pada hari Senin-Jumat, 2-6/11. Dalam SAGKI tersebut melahirkan sejumlah komitmen dan langkah bersama untuk membangun Ecclessia Domestica (Gereja Rumah-Tangga) di Indonesia.

Pertama, keluarga sebagai Gereja Rumah-Tangga menjadi pusat dan pewartaan iman, pembinaan kebajikan, dan kasih kristiani dengan mengikuti cara hidup Gereja Perdana (Kis 2:41-47; 4:32-37). Gereja Rumah-Tangga mengambil bagian dalam tiga fungsi imamat umum Yesus Kristus, yaitu guru untuk mengajar, imam untuk menguduskan, dan gembala untuk memimpin. Gereja Rumah-Tangga di Indonesia dibangun berdasarkan nilai-nilai Kristiani yang di wujudkan dalam masyarakat majemuk.

Kedua, dalam reksa pastoral keluarga, Gereja harus berangkat dari keprihatinan dan tantangan keluarga zaman ini, yang semuanya membutuhkan kerahiman Allah. Gereja dipanggil untuk menunjukkan wajah Allah yang murah hati dan berbelas kasih melalui pelayanan, terutama kepada mereka yang paling lemah, rapuh, terluka, dan menderita. Kerahiman Allah tak pernah bertentangan dengan keadilan dan kebenaran, tapi bergerak melampauinya karena “Allah adalah Kasih” (1Yoh 4:8).

Ketiga, dengan menggiatkan pastoral keluarga yang berbelas kasih dan penuh kerahiman, Gereja dipanggil melakukan pertobatan pastoral secara menyeluruh. Pertobatan dimulai dari pelayan-pelayan pastoral yang berkarya dalam berbagai lembaga pelayanan. Dengan demikian, pastoral keluarga dapat menanggapi persoalan keluarga secara tepat. Untuk itu, Pedoman Pastoral Keluarga KWI (2010) harus diperhatikan dan dilaksanakan. Selain itu, reksa pastoral keluarga terpadu dan berjenjang dibentuk dan dihidupkan kembali mulai dari persiapan perkawinan hingga pendampingan keluarga pascanikah.

Keempat, keluarga Katolik di panggil untuk mewartakan sukacita Injil dengan kesaksian hidup dan kepeduliannya kepada keluarga-keluarga lain. Dengan demikian, keluarga sungguh menjadi Gereja Rumah-Tangga yang tidak terkungkung dalam dirinya sendiri, tetapi menjalankan tugas perutusannya dalam memajukan Gereja dan menyejahterakan masyarakat (bdk. Familiaris Consortio art.42).

Sumber
hidupkatolik.com/index.php/2015/12/02/gereja-bangkitkan-gereja-rumah-tangga
Ingrid Listiati. Arti manusia diciptakan menurut gambaran Allah http://www.katolisitas.org/6504/arti-manusia-diciptakan-menurut-gambaran-Allah)

Related Posts

  • 83
    Segenap umat Katolik yang terkasih, Konferensi Waligereja Indonesia menyelenggarakan sidang tahunan pada tanggal 6-16 November 2017 di Jakarta. Sidang dimulai dengan hari studi yang mengangkat tema Gereja Yang Relevan dan Signifikan: Panggilan Gereja Menyucikan Dunia. Tema tersebut diolah dengan mendengarkan masukan para narasumber, didalami dalam diskusi kelompok, dipaparkan dalam rapat pleno, dan dilengkapi dengan catatan…
    Tags: dan, yang, dengan, di, untuk, dalam, gereja
  • 83
    PESAN PAUS BENEDIKTUS XVI HARI MINGGU DOA PANGGILAN SEDUNIA KE-46 3 Mei 2009 PANGGILAN : INISIATIF ALLAH DAN JAWABAN MANUSIA Saudara-saudariku terkasih, Bertepatan dengan Hari Doa untuk Panggilan Sedunia yang akan berlangsung pada Hari Minggu ke-4 Masa Paska, tanggal 3 Mei 2009, izinkanlah saya mengajak seluruh umat kristiani untuk merenungkan tema: Panggilan, Inisiatif Allah dan…
    Tags: yang, dan, dalam, allah, manusia, untuk, dengan
  • 82
    BERJUMPA DENGAN ALLAH DALAM KELUARGA “Mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu” (Luk 2:16) Dalam perayaan Natal tahun ini, kami mengajak seluruh umat Kristiani untuk menyadari kehadiran Allah di dalam keluarga dan bagaimana keluarga berperan penting dalam sejarah keselamatan. Putera Allah menjadi manusia. Dialah Sang Imanuel; Tuhan menyertai kita. Ia hadir…
    Tags: dan, keluarga, yang, allah, dalam, di, untuk, dengan