Indahnya Sebuah Kebersamaan

keluargaSalam damai Kristus,
Tanpa terasa kita sudah menapaki bulan Desember, bulan yang penuh makna, yang akan menghantarkan kita pada penghujung tahun 2015.

Bagaimana ibu-ibu, apakah kita sudah bisa merefleksikan diri tentang apa saja yang sudah kita capai selama setahun ini ? Dan sudah sejauh mana kita sanggup menghayati iman serta merenungkan arti hidup kita masing masing sebagai manusia seutuhnya, sebagai pengikut Kristus yang mampu memaknai dan menjalankan hukum kasih dalam kehidupan sehari-hari ?

Saudaraku seiman dalam Kristus, hidup di jaman modern yang serba canggih dan penuh dengan berbagai macam godaan serta beraneka warna kebahagiaan semu akibat dampak era globalisasi, memang tidak mudah! Bahkan dengan adanya berbagai macam pilihan hidup membuat kita seringkali merasa bingung. Kenikmatan duniawi serta kecenderungan manusia untuk mencapai segala sesuatu secara instan seringkali membuat kita tidak mampu menahan diri, sehingga cenderung kurang memperdulikan keberadaan dan kebutuhan orang lain yang ada disekitar kita. Kesenjangan sosial , perbedaan prinsip dan berbagai macam alasan, tak jarang membuat kita “merasa jauh”, acuh tak acuh, sehingga rasa simpati dan sikap tolerensi pun kian pupus dan tergerus! Nah, kembali kepada iman Katolik, kita disadarkan, bahwa sejatinya kita ini adalah umat pilihan Allah, yang harus tetap konsisten dengan janji baptis kita, tetap berjuang untuk meluaskan kerajaan Allah, sebagai garam dan terang dunia, sekaligus menjadi pewarta sabda bahagia Tuhan kepada semua orang. Rasanya kita tidak perlu bermimpi terlalu muluk, mari kita awali kebersamaan kita dalam keluarga masing masing, agar setiap anggota keluarga bisa menyatu dalam visi, misi, hidup saling mengasihi dan melayani. Antara anak dan orang tua mampu membangun komunikasi , saling bertekun dalam doa, saling memahami dan saling menguatkan ketika pencobaan datang di saat-saat sulit.

Sebagai ilustrasi, sekitar lima tahun yang lalu, penulis pernah menyaksikan sebuah tayangan televisi swasta yang berkisah tentang perayaan tradisionil: berkah bumi, yaitu ungkapan syukur para petani atas limpahan hasil bumi dari masyarakat Kuningan, Jawa Barat . Kebahagiaan mereka tidak saja dirasakan oleh salah satu golongan, agama,suku, etnis dan sebagainya, namun semua lapisan masyarakat ikut terlibat dan peduli guyub rukun, saling bergotong-royong ambil bagian dalam upacara tahunan tersebut . Dalam durasi sekitar satu jam itu, penulis sempat merasa larut dan terhanyut. Perasaan syukur, terharu, gembira dan bangga kepada saudara saudara kita yang ternyata bisa berbuat sesuatu yang positif, yang bisa dijadikan suri teladan bagi kita semua, karena meskipun mereka berangkat dari berbagai unsur agama, golongan dan suku, ternyata mereka merasa telah menjadi satu sebagai sebuah keluarga besar.

Mereka bersama sama memikul padi, buah buahan, serta persembahan bermacam macam hasil palawija , makan bersama dengan menggunakan tangan, sambil lesehan diatas tanah, terlihat begitu nikmat , diselingi canda tawa yang begitu dekat dan akrab. Mereka juga berdoa kepada Allah, menyatu dalam rasa yang hikmat dengan cara masing masing, sungguh pemandangan seperti itu benar-benar sulit untuk bisa diterjemahkan dengan kata-kata. Alangkah indahnya andai kata apa yang sudah ditampilkan masyarakat Kuningan tersebut bisa ditinjak lanjuti oleh saudara-saudara kita di daerah lain. Lalu pertanyaannya … bisakah semua itu kita ciptakan? Tentu saja bisa, asalkan kita punya niat , yakin dan percaya atas kuasa dan campur tangan Tuhan, rasa peduli , berbagi dan keinginan untuk terus mengupayakan kebahagiaan bersama, rela meninggalkan rasa ego yang berkepanjangan, demi terciptanya persatuan dan kesatuan, dijauhkan dari rasa iri dan dengki, keserakahan,sikap tidak adil, melawan kekerasan dan menciptakan rasa kasih diantara sesama manusia, yang sesungguhnya “ sama martabat dan kedudukannya dihadapan Allah!”

Ibu-ibu dan sobat wanita terkasih, dalam menyongsong kelahiran Yesus Kristus Sang Juru selamat, mari kita satukan hati dan berbenah diri agar kita pantas menyambutNya dengan hati yang bersih dan penuh rasa syukur. Semoga Natal kali ini benar-benar mampu kita hayati dan kita renungkan, bahwa Allah sungguh mencintai kita, umat-Nya yang penuh dosa dan kelemahan. Sekian dulu bincang bincang kita, semoga kita tetap mampu membangun persaudaraan sejati, semakin dewasa dalam iman dan perbuatan, semakin mampu menjadi pengikut Kristus yang setia, berkenan di hadapan Allah, kini, esok dan selamanya …Amin!

SELAMAT NATAL ….. & TUHAN MEMBERKATI **

 

V.Sri Murdowo

Related Posts

  • 100
    “Diutus Menjadi Garam dan Terang Bagi Masyarakat” Dibacakan/diterangkan pada hari Sabtu-Minggu, 6-7 Februari 2016     Saudara-saudariku yang terkasih Memasuki tahun 2016, umat Allah KAS telah memiliki ARDAS VII untuk periode 2016-2020. Dalam semangat ARDAS yang baru ini, kita ingin menapaki peziarahan iman, dengan bergotong royong memperjuangkan Peradaban Kasih melalui hidup bersama yang sejahtera, bermartabat…
    Tags: dan, yang, kita, dalam
  • 97
    Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) Saudari-saudara terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda. Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di…
    Tags: yang, dan, kita
  • 95
    PESAN NATAL BERSAMA PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI) DAN KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) Tahun2016 "HARI INI TELAH LAHIR BAGIMU JURUSELAMAT, YAITU KRISTUS, TUHAN, DI KOTA DAUD" (Lukas 2:ll)   Saudari-Saudara umat Kristiani di Indonesia, Setiap merayakan Natal hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita. Allah berkenan turun ke dunia, masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan kita.…
    Tags: kita, dan, yang