Hari Kasih Sayang

love humanity

Apabila kita mengenang kisah Yesus 2.000 tahun yang lalu menjadi jelas buat kita akan adanya hubungan dengan kasih sayang, karena kasih sayang dinyatakan oleh Yesus dengan jalan melepaskan ikatan lidah dan membuka telinga bagi umat-Nya. Mengapa demikian dan apa hubungannya dengan  hari Valentine? Dalam Injil Markus (Mrk 7:31-37), Yesus yang menyembuhkan seorang tuli dan gagap. Yesus memisahkan orang itu dari orang banyak, lalu Yesus memasukkan jari-Nya ke telinga, meludah dan meraba lidah orang itu, sambil menengadah ke langit, dengan menarik nafas dan berkata: “Efata!”, artinya Terbukalah!  Maka seketika itu ia dapat mendengar dan berkata-kata.

 

Kasih sayang muncul karena adanya komunikasi yang baik dan positif serta menguatkan satu sama lain. Kadang kala kita menganggap bahwa orang lain, pasangan kita, orang tua kita, anak-anak kita, tahu bahwa kita mencintai mereka tanpa kita perlu mengatakannya kepada mereka, demikian pula sebaliknya. Padahal, tidak demikian, kita juga membutuhkan kata-kata, sapaan melalui perbuatan yang menguatkan kita misalnya dengan mengucapkan “I love you”, mom” atau “Papa adalah ayah terbaik yang kukenal” atau “Kau adalah hadiah terindah dalam hidupku”. Sebaliknya, kita jangan bersikap apatis, pesimis, ragu ketika seseorang mengatakan sayang atau cinta kepada kita dengan kata-kata “Ah, masa sih” atau bahkan penolakan, seperti “Bohong…ah kamu” membuat dia akan ragu untuk mengatakannya lain kali! Berkatalah “Terimakasih” kalau sedang merasa sulit menemukan kata-kata yang tepat, hal itu jauh lebih baik.

 

Percayalah kita semua perlu mendengar kata-kata yang baik dan manis dari orang yang mencintai kita setiap saat dalam hidup kita, karena kata-kata yang baik dan indah dapat menguatkan iman, menyehatkan batin, dan membuat kita lebih dekat sebagaimana cinta Allah sendiri kepada kita umat yang dikasihiNya .

 

Konon, hari Valentine terinpirasi oleh kisah Santo Valentine. Santo Valentine adalah seorang imam Gereja Katolik pada abad III. Ia menjadi martir karena menikahkan banyak pasangan muda-mudi. Pada saat itu Kaisar Claudius memerintahkan untuk melarang kaum muda untuk menikah karena jika menikah kaum muda tidak bisa menjadi serdadu kerajaan yang baik. Karena hal tersebut ia ditangkap dan akhirnya dibunuh.

 

Namun, saat ini, makna peringatan hari Valentine dimaknai menyimpang, misalnya hanya dimaknai sebagai ungkapan cinta pada pacar, kekasih semata; bahkan ada yang kebablasan dimaknai hanya sebagai hubungan intim muda-mudi di luar pernikahan, tentu ini menjadi keprihatinan kita semua.  Untuk hal ini kita bisa belajar pada Paus Yohanes Paulus II, dalam buku “Theology of the Body”, yang telah diterjemahkan di dalam bahasa Indonesia oleh Romo Deshi Ramadhani SJ.

 

Hari Kasih Sayang bukanlah semata-mata hari di mana coklat, bunga, dan pernak-pernik hadiah yang diberikan, juga bukan  serta tempat-tempat romantis di mana pasangan ataupun calon pasangannya merayakan. Kita bisa menggunakan momen Valentine untuk saling berbagi perhatian, menyatakan maaf, dan menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus. Memang tidak mudah, tetapi bisa dilaksanakan ketika komunikasi yang baik dan positif. Orang tua memberi pemahaman yang benar akan makna valentine yang sebenarnya.

 

Kalau kita mau memaknai kasih sayang dengan lebih umum tidaklah terbatas pada pasangan muda-mudi semata, kita dapat memberi  tanda kasih tersebut kepada orang-orang yang berjasa pada hidup kita, kepada mereka yang sering kita mintai bantuan, atau yang sering kita lupakan, seperti misalnya, orang tua, guru, sahabat, bahkan asisten rumah tangga kita, yang sebenarnya menjadi ‘sahabat’ dalam menyelesaikan tugas kita setiap hari.

 

Untuk muda-mudi, hari jika hanya untuk merayakan persahabatan, itu tidak menjadi masalah, asalkan tidak berlebihan. Kalau hanya makan-makan atau hanya menjadi saat berkumpul pasangan muda-mudi untuk melakukan hal positif itu tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah  kasih sayang itu diartikan keliru dan kebablasan, yang mengarah kepada kehendak sendiri, di luar hukum Tuhan.

 

Mungkin hal-hal yang sederhana ini dapat menangkal pengaruh negatif dari peringatan hari Valentine misalnya para orang tua dan anak-anak berdoa memohon rahmat iman, kemurnian dan kasih yang tulus bersama sebelum mengizinkan mereka pergi. Kita orang tua memohon dan mendoakan anak-anak kita agar malaikat Tuhan menjaga mereka dan menghindari mereka dari kuasa jahat.

 

Acara Valentine juga bisa digunakan untuk acara sarasehan untuk belajar tentang makna kehidupan tentang problematika perkawinan.  Hal tersebut bisa mengarahkan kaum muda untuk suatu relasi yang baik berfikir positif dan dapat mengetahui bahwa hubungan seks sebelum pernikahan ternyata membawa banyak masalah, dan bahkan akhirnya menjurus kepada perpisahan. Bagi yang sudah terlanjur melakukan hubungan seks di luar perkawinan, tidak ada kata terlambat untuk bertobat, sebab adakalanya seseorang belajar bertumbuh justru dari pengalaman yang menyakitkan. Jika kemurnian hidup dan kasih sejati yang dicari, semoga para muda-mudi dapat menemukan pasangan hidup yang sejati, yang mengasihi dengan tulus tanpa dinodai oleh keinginan daging yang bertentangan dengan perintah Tuhan.

 

Akhir kata, kita tidak membutuhkan agama untuk memberitahu hal yang benar ketika kita melakukan hal yang benar. Apa yang kita butuhkan adalah agama yang memberitahu kita apa yang benar ketika kita melakukan kesalahan.” Marilah kita berdoa, supaya Tuhan membuka telinga, melepaskan ikatan lidah kita semua, seperti ketika Ia menyembuhkan orang tuli dan gagap. Efata (terbukalah) kita semua !! Berkah Dalem.

Oleh: Willybrordus Wimbarhadi

Related Posts

  • 90
    "Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan untuk mengerti amsal dan ibarat perkataan dan teka teki orang bijak. Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan " (Amsal 1 : 5 – 7) Salam jumpa, Berkah Dalem ! Merenungkan bacaan diatas, kira kira…
    Tags: dan, yang, kita, orang, untuk
  • 90
    Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) Saudari-saudara terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda. Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di…
    Tags: yang, dan, kita
  • 87
    MISI DI JANTUNG HATI IMAN KRISTIANI Saudari-saudara terkasih, Sekali lagi tahun ini, Hari Minggu Misi Sedunia menyatukan kita bersama di sekeliling pribadi Yesus, “Penginjil pertama dan terbesar” (Paus Paulus VI, Evangelii Nuntiandi, 7), yang terus menerus mengutus kita untuk mewartakan Injil cinta Allah Bapa dalam kuasa Roh Kudus. Hari Minggu Misi ini mengundang kita untuk…
    Tags: yang, dan, untuk, kita