Peran Wanita dalam Pendidikan dan Politik

wanitadan politik

Wanita dan Pendidikan
Realita yang ada adalah masih minimnya tokoh-tokoh dan ilmuwan-ilmuwan wanita jika diprosentasekan dengan pria. Dokter-dokter ahli wanita masih sangat minim, di Indonesia misalnya dokter ahli kandungan masih didominasi dokter pria, Pengamat, peneliti dan ahli di bidang ekonomi dan sosial politik juga kurang muncul dari pihak wanita.

Fakta di atas secara explisit menjelaskan bahwa kurangnya kemauan dari kalangan wanita untuk menekuni dan menjadi ahli di bidangnya masing-masing. Faktor lain yaitu kurangnya kesempatan, dukungan, dan minat. Hal lain yaitu Menjadikan keluarga sebagai prioritas utama menjadi ibu rumah tangga.

Paradigma yang masih berkembang luas adalah pendidikan untuk wanita tidaklah begitu penting dibandingkan pria. Alasan-alasan budaya di daerah tertentu masih mengakar kuat kalau wanita cukup berdiam di rumah saja, karena tanggung jawab menafkahi keluarga memang dibebankan kepada lelaki. Namun, bukan berarti pendidikan tidak penting bagi wanita, karena fakta yang ada menunjukkan bahwa wanita masih termarjinalkan hak-hak mereka dalam pendidikan, hak sosial, ekonomi dan politik menjadikan kajian-kajian mengenai, “persamaan gender, feminisme, dan diskriminasi atas wanita” masih nyaring terdengar.

Kesiapan seorang wanita dalam pendidikan, agama, etika, bermasyarakat dan sains menjadi sangat penting apalagi jika ia berperan sebagai ibu yang menjadi sumber pertama bagi pendidikan anak-anaknya. Longlife education menjadi suatu wacana yang penting untuk dipahamkan. Pendidikan didapat bukan hanya dari bangku sekolah dan kuliah, melainkan juga dari proses

Sejatinya pendidikan sangat berarti dalam sisi pembentukan karakter generasi pemuda menjadi orang-orang yang bertanggungjawab dan bermoral. Sejarah Kartini yang menceritakan betapa Ia sangat ingin bersekolah ke Belanda, tetapi karena sistim dan kulture pada zaman itu membuanya tidak mendapat dukungan untuk sekolah. Tetapi keinginannya untuk membuat kemajuan bagi kaum perempuan tidak berhenti di situ. Ia rajin bertukar pikiran dengan temannya yang berasa di belanda melalui surat. Sampai saat ini Kartini masih menjadi sumber inspirasi bagi kaum wanita.

Pramudia Ananta Tour dalam bukunya “Panggil Aku Kartini Saja” mengungkapkan keprihatinannya kepada kaum perempuan. Ketidakberdayaan kaum perempuan kerap kali dijadikan komoditas dari dulu hingga sekarang. Kalau dulu ribuan wanita diperkerjakan paksa menjadi wanita penghibur buruh-buruh kerja rodi sekarang halnya tidak jauh berbeda. Hanya saja keadaan sekarang sedikit dimodifikasi tetapi hakekatnya sama. Ribuan wanita dengan profesi wanita malam atau pekerja seks komersial sesungguhnya adalah ekploitasi terhadap kaum perempuan. Begitupun dengan tenaga kerja wanita Indonesia. Banyak yang mengalami perlakuan tidak manusiawi.

Hal ini disebabkan oleh dua hal: pertama kurangnya pendidikan akademis sebagai modal yang dimiliki oleh kaum perempuan, sehingga mereka memilih jalan singkat untuk meneruskan keberlangsungan hidup mereka. Kedua kurangnya pendidikan moral dan agama yang mereka terima dari lingkungan.

Wanita dan politik
Konvensi Persatuan Bangsa-Bangsa pada tahun 1979 dalam Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination against Women menekankan partisipasi aktif dan maksimal kaum perempuan dalam setiap dimensi kehidupan dan persamaan hak antar wanita dan laki-laki. Dalam hal politik partisipasi wanita dinilai kurang. Di Indonesia jumlah prosentase wanita yang duduk di legislatif berjumlah 11 %. Sedangkan peran politik wanita dalam mengambil kebijakan yang berkenaan dengan kepentingan kaum hawa sangat penting. Upaya peningkatan partisipasi wanita dalam dunia politik hendaknya diupayakan bukan hanya dari segi kuantitas tetapi kualitas dan tingkat efektifitas agar dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang akan diambil.

Negara-negara maju seperti Norwegia, Swedia, Finlandia, Denmark, dan Swezerland menempatkan wanita dalam parlemen dengan angka diatas 30% (Data Inter-Parliamentary Union /IPU). Yang menjadi poin penting adalah para wanita harus mengoptimalkan peran mereka di setiap posisi yang mereka geluti termasuk dalam hal politik.

Pendidikan politik adalah penting karena kebanyakan perempuan tidak tahu hak-hak dan kewajiban politik mereka. Pemberdayaan wanita dalam politik masih gencar disuarakan. Riset membuktikan kurangnya partisipasi aktif perempuan dalam politik di Kenya, Indonesia, Pilipina, India baik di parlemen ataupun aktivitas partai antara laindikarenakan oleh: kurangnya kesadaran politik, minimnya pengetahuan politik, dan kurangnya minat untuk berkecimpung dalam dunia politik.

Kesimpulan yang bisa diambil adalah pemberdayaan potensi yang ada pada wanita sangatlah penting agar kaum wanita dapat berperan dengan optimal. Dengan catatan mereka tidak boleh melupakan tanggung jawab dan status kodrati sebagai perempuan. Hal ini diupayakan untuk memaksimalkan peran lelaki dan perempuan tanpa perbedaan. Hal lain agar kaum perempuan tidak menjadi korban dalam kebijakan politik ekonomi. Peran aktif perempuan memang diperlukan dalam segi politik, ekonomi, sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Hal ini harus dimodali dengan pendidikan yang baik. Pendidikan bagi dan oleh Wanita adalah mutlak dipentingkan bukan hanya pendidikan formil, tetapi juga pendidikan bersosial dan bermasyarakat. Ahlak dan moral generasi muda sangat bergantung kepada ahlak dan moral perempuan yang berperan sentral dalam mendidik keluarga. Ada satu yang menjadi kekurangan kaum perempuan, “mereka tidak tahu bahwa mereka begitu berharga”.

Dari berbagai Sumber
C. Dwi Atmadi

Related Posts

  • 64
    11 Februari 2010 Saudara-saudari terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-18  dirayakan di Basilika Vatikan pada tanggal 11 Februari  dengan liturgi peringatan Bunda Maria dari Lourdes. Selain bertepatan dengan ulang tahun ke-25 Lembaga Dewan Kepausan untuk Tenaga Pelayanan Kesehatan (DKTPK) alasan lain adalah untuk bersyukur kepada Tuhan atas pelayanan DKTPK selama ini di bidang pastoral pelayanan…
    Tags: yang, dan, dengan, dalam, di, mereka
  • 63
    Berbicara tentang mengasuh dan mengasihi bisa dikaitkan dengan banyak hal, salah satunya dengan adanya kehadiran seorang anak dalam sebuah keluarga di mana keluarga melakukan aksi nyata untuk memberikan bentuk-bentuk pendidikan bagi anak mereka. Pendidikan tersebut berawal dari keluarga sebagai pendidik yang pertama dan utama, selanjutnya pendidikan formal di dalam lembaga pendidikan seperti sekolah formal, dan…
    Tags: yang, di, pendidikan, dan, dalam, dengan
  • 62
    Dibacakan/diterangkan pada Malam Tirakatan atau Hari Raya Kemerdekaan Indonesia Rabu - Kamis, 16 - 17 Agustus 2017 “MENGEMBANGKAN SEMANGAT KEBANGSAAN DAN KE-BHINNEKA TUNGGAL IKA-AN” Para sahabat muda, anak-anak dan remaja; para Saudari-saudara, Ibu, dan Bapak; serta para Rama, Bruder, Suster, Frater yang terkasih. Baru saja kita akhiri perhelatan besar Keuskupan Agung Semarang sebagai tuan rumah…
    Tags: dan, yang, dengan, di, dalam