Liturgi sebagai Perayaan Syukur Bersama

liturgi ekaristi

 

Ibu, Bapak, Saudara, Rekan Muda dan Anak-anak, para pembaca yang budiman, kita umat Allah yang disatukan dalam paguyuban umat beriman selalu berusaha untuk mewujudkan ungkapan syukur kepada Allah dengan berusaha hidup seturut kehendak-Nya dan menjadikan hidup kita sebagai berkat, dan cermin kebaikan, kasih dan kerahiman Allah, supaya kerahiman Allah dapat dirasakan oleh siapapun. Sungguh suatu yang sangat indah, membahagiakan bila setiap umat beriman, apapun keyakinannya berusaha menghayati iman, keyakinannya dengan bersyukur, hidup yang damai sejahtera dalam suasana penuh kasih dan pengampunan. Tentu hal tersebut adalah gambaran kehidupan surga yang dapat kita rasakan di dalam kehidupan di dunia sekarang ini.

Lantas apa hubungannya dengan “Liturgi”? Apa hubungannya dengan “Tema” di atas? Pembaca yang terkasih “Liturgi” adalah ungkapan khas Gereja Katolik yang kurang lebihnya memiliki arti “sembah bakti”. Sembah bakti kepada Allah yang memiliki kehidupan dan mengatur segalanya. Sembah bakti kepada Allah yang penuh kerahiman, kasih dan pengampunan.

Liturgi dalam Gereja Katolik merupakan tradisi yang diwariskan dan dipelihara, bahkan dikembangkan oleh umat beriman sebagai salah satu cara bersyukur, sekaligus menjaga rasa syukur, dan sebagai ungakapan sembah bakti kepada Allah secara pribadi maupun bersama-sama. Dengan berliturgi yang baik dan benar, umat berkomunikasi langsung dengan Allah dalam doa, nyanyian pujian, aklamasi. Dalam liturgi, umat dapat menimba inspirasi, motivasi, serta mengenangkan cinta kasih Allah yang dapat memberi semangat dalam menanggapi panggilan dan perutusan.

Sungguh disayangkan kalau masih sering kita jumpai beberapa sahabat, saudara, oknum umat yang mengikuti kegiatan liturgi dengan tidak benar dengan main gadget , handphone, ngobrol sendiri, dan tidak fokus, dan terkadang datang terlambat, pulang mendahului, pandai mengkritik, mencela tetapi hanya sebagai penonton, tidak mau terlibat. Sungguh sangat disayangkan!

Mengikuti liturgi peribadatan memang harus dengan persiapan, khususnya persiapan hati , karena kita akan menghadap dan berkomunikasi dengan Tuhan. Syukur-syukur kita juga punya pemahaman, pengetahuan iman yang memadai. Segala sesuatu yang kita kerjakan kalau kita pahami dengan baik dan dengan gembira hati, akan bisa kita kerjakan dengan lebih baik dan sukacita! Bukankah demikian?

Liturgi dalam Gereja Katolik dikenal dan dibedakan antara “Liturgi Resmi” dan “Liturgi Tidak Resmi”. Liturgi resmi adalah tata cara umat beriman bersembah bakti kepada Allah yang diatur oleh ketentuan baku dan aturan resmi Gereja Katolik hal itu berkaitan dengan petugas, pakaian, perlengkapan, bacaan, tata gerak, serta ritusnya. Contoh liturgi resmi yaitu liturgi Ekaristi. Liturgi tidak resmi adalah liturgi yang ketentuannya lebih longgar, tidak terlalu dibakukan, misalnya: ibadat atau devosi, apalagi devosi yang dilakukan secara pribadi.

Tantangan Jaman
Kita hidup di tengah fakta kehidupan yang nyata, yang tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan umat beriman, di mana tidak hanya kebaikan, kebenaran yang tumbuh melainkan juga kejahatan, korupsi, kolusi dan nepotisme, kekerasan, kesewenang-wenangan,kemewahan, kenikmatan, hawa nafsu yang tumbuh subur mewarnai kehidupan. Orang begitu mudah melakukan itu semua hanya untuk kesenangan, kenikmatan sesaat, ego pribadi. Bagaimana dengan kita?

Penting bagi Gereja untuk menjaga tradisi baik dalam berliturgi, bahkan mengembangkannya supaya selalu relevan, tidak ketinggalan zaman, tentunya dalam batas-batas yang diperbolehkan. Lantas bagaimana caranya? Setiap warga Gereja, secara pribadi, keluarga, komunitas, paguyuban, baik sebagai awam ataupun biarawan-biarawati, bahkan kaum tertahbis harus dapat bekerjasama dengan startegi yang cerdas, bagaimanapun caranya, didukung dengan segala potensi, talenta. Anda dapat terlibat bagaimana pun caranya! Yang penting Yesus Kristus sebagai sumber inspirasi dan motivasi. Supaya Liturgi menjadi ungkapan iman, ungkapan perayaan syukur, kuncinya terletak pada katakese, serta keteladan dan pembiasaan (habitus) dari orang tua atau guru pembimbing.

Allahlah yang memulai pekerjaan baik dan kita yakin Allah pula yang akan menyelesaikannya, melalui kita, anda sekalian yang percaya pada Allah dan memiliki hati untuk Allah! Segala upaya untuk menerapkan liturgi yang baik dan benar, pada akhirnya haruslah dapat membawa daya ubah (transformatif) baik secara pribadi, atau bersama-sama atas sikap hidup yang “semakin” terbuka (inklusif), bijaksana, penuh rasa syukur, kasih dan pengampunan, selalu ada upaya pembaharuan (inovatif). Berliturgi yang baik dan benar akhirnya haruslah dapat membawa kita semakin dekat dengan Allah, untuk dapat melihat dan merasakan kerahiman-NYA, dan selanjutnya kita hidup lebih baik penuh rasa syukur untuk dapat mengungkapkan kerahiman Allah, supaya kerahimanNYA dapat dirasakan oleh siapa dan apapun melalui hidup dan kehidupan kita. Bagaimana dengan anda? Berkah Dalem.

Yustinus Sri Winarno

Related Posts

  • 80
    Langkah 1: Mempersiapkan diri sebelumnya dan mengarahkan hati sewaktu mengikuti liturgi Untuk menghayati liturgi, kita harus sungguh mempersiapkan diri sebelum mengambil bagian di dalamnya. Contohnya ialah: membaca dan merenungkan bacaan Kitab Suci pada hari itu, hening di sepanjang jalan menuju ke gereja, datang lebih awal, berpuasa (1 jam sebelum menyambut Ekaristi dan terutama berpuasa sebelum…
    Tags: kita, yang, dan, liturgi, dengan, dalam
  • 78
    Hai, para pemerhati Lentera. Hari-hari kita sudah makin dekat hari Rabu Abu. Itu pulalah masa awal PRAPASKAH. Oleh karenanya dua hal pasti dapat dikatakan mengenai hal ini: Menyiapkan perayaan Paskah dan (sekaligus sebagai konsekuensinya) membina semangat tobat. Untuk tahun 2018 ini seruan yang dihadapakan kepada kita adalah: “Bertobat, Tidak Hanya dalam Kata-Kata tetapi Juga dengan…
    Tags: yang, dan, allah, kita, dengan
  • 78
    PESAN PAUS BENEDIKTUS XVI HARI MINGGU DOA PANGGILAN SEDUNIA KE-46 3 Mei 2009 PANGGILAN : INISIATIF ALLAH DAN JAWABAN MANUSIA Saudara-saudariku terkasih, Bertepatan dengan Hari Doa untuk Panggilan Sedunia yang akan berlangsung pada Hari Minggu ke-4 Masa Paska, tanggal 3 Mei 2009, izinkanlah saya mengajak seluruh umat kristiani untuk merenungkan tema: Panggilan, Inisiatif Allah dan…
    Tags: yang, dan, dalam, allah, dengan, kita