Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini Menuju Penyiapan Generasi Muda Katolik Masa Depan

Pendidikan agama katolik

 

Pendahuluan
Anak adalah pewaris dan sekaligus sebagai generasi pelangsung cita-cita perjuangan keluarga, gereja dan bangsa. Anak perlu dipersiapkan demi kelangsungan eksistensi keluarga, gereja, bangsa dan negara di masa mendatang dan agar dapat tumbuh dan berkembang dengan sebaik-baiknya sehingga menjadi generasi yang beriman, jujur, disiplin, cerdas, sehat secara fisik dan mental, maupun sosial-emosionalnya. Untuk mencapai hal itu, harus ada upaya pengembangan potensi yang dimilikinya anak-anak Katolik secara optimal.

Kesadaran dan komitmen terhadap urgensi pendidikan termasuk di dalamnya pendidikan iman anak terus meningkat, baik dalam keluarga, gereja lokal, keuskupan, maupun secara universal. Salah satu pendorongnya adalah temuan hasil-hasil riset tentang manfaat pendidikan iman anak, pengalaman empirik berbagai keluarga, gereja dan negara, serta semakin dirasakannya dampak pendidikan terhadap peningkatan sumber daya manusia dan bidang kehidupan lain.

 

Perkembangan Anak Usia Dini Katolik
Sedemikian penting perhatian terhadap anak, maka dari aspek fisik sangat dianjurkan agar anak mendapatkan vaksinasi dan asupan gizi yang cukup dan seimbang agar ia mempunyai tubuh sehat, kuat dan otak yang cerdas. Dari aspek psikis orang tua juga harus memperlakukan anak secara hati-hati dan benar, agar ia memiliki karakter dan kepribadian yang tepat untuk perkembangannya lebih lanjut. Dari aspek keagamaan (religi) anak Katolik butuh pendasaran iman yang kuat: perlu contoh, teladan, pembiasaan kehidupan yang baik (habitus), melalui kesaksian dan keteladanan hidup kristiani sejati yang diwujudkan dengan pemberian kasih sayang yang tulus, adil, arif bijaksana (Bdk. LG 11; GE 3; FC 50), dan perlu ajaran-ajaran iman yang benar secara konprehensip/holistic.

.
Kurangnya pendidikan iman anak sejak usia dini
Permasalahan kurangnya pendidikan iman anak sejak usia dini terlihat tidak saja di rumah/di tengah keluarga, tetapi juga di sekolah, bahkan di sekolah Katolik, dan juga di paroki. Seandainya sudah ada sekalipun, patutlah kita pertanyakan, apakah sudah cukup memadai, terutama jika ada cukup banyak umat Katolik yang meninggalkan Gereja Katolik.

.
Tantangan Pendidikan Anak
Budaya global yang dibangun oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi media informasi dan hiburan telah membawa banyak perubahan, termasuk perubahan nilai-nilai. Perubahan-perubahan nilai ini bisa bersifat konstruktif, tetapi juga dekstruktif.

Beberapa tren negatif dari pengaruh globalisasi yaitu: budaya materialistik dan hedonistik: Prinsip hidup, limpah materi dan bersenang-senang. Makna hidup yang dicari adalah kemewahan dan kenikmatan. Nilai hidupnya ditakar dari apa yang dia miliki (rumah, mobil, dll), bukan karakter. Pengorbanan, askese, tapa, kesederhanaan dan kerelaan melepaskan kesenangan untuk sebuah keluhuran hidup tidak ada tempatnya dalam budaya itu. Iklan-iklan di media audiovisual ikut menyuburkan budaya itu. Bahkan iklan-iklan itu menjadi “firman” yang menjanjikan “keselamatan” dan “kegembiraan” di depan mata. Televisi, gadged, Hand Phone telah mengganti peran agama bahkan menjadi agama baru dalam kehidupan manusia.

.
Urgensi Pendidikan Anak
Pengakuan terhadap urgensi pendidikan anak dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, semuanya memiliki kesamaan fokus yaitu bahwa pendidikan anak itu penting dan perlu ditangani dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya. Dalam buku “Kerangka Besar Pembangunan PAUD Indonesia Periode 2011-2025” (Kemendiknas, 2011: 30-39), disebutkan ada beberapa sudut pandang atau aspek tinjauan terhadap pelaksanaan PAUD di Indonesia, antara lain sebagai berikut: aspek keagamaan dan yuridis, aspek filosofis, aspek keilmuan, aspek teoritis dan empiris, aspek sosial, ekonomis dan budaya.

 

Pengembangan Program Katekese Anak Usia Dini
Pembinaan iman anak bertujuan membangun atau mendewasakan religiositas anak. Dengan bantuan pembinaan iman, anak diharapkan menghayati imannya dengan semakin mandiri dan semakin bertanggung jawab. Perlu dipahami bahwa tempat dan cara mengembangkan iman anak pertama-tama adalah dalam keluarga dengan melalui pengajaran dan teladan yang diberikan oleh orang tua dan anggota keluarga lainnya. Iman anak berkembang pula dalam pembinaan iman anak (PIA) yang dilaksanakan melalui pengajaran dan teladan pembina iman anak, tetapi itu bukan sebagai pengganti hanya sebagai pengembang dan pelengkap pembinaan iman anak dalam keluarga. Iman anak juga berkembang dalam pergaulan dengan teman sepermainan melalui pengaruh yang diberikannya. Iman anak berkembang dalam jaman yang maju ini melalui pesatnya perkembangan teknologi, terutama teknologi informatika, dan perkembangan pemikiran manusia. Kelompok Bina Iman Anak (disingkat: BIA) merupakan salah satu wadah yang secara sengaja dibentuk oleh paroki untuk ‘menularkan’ iman Kristiani kepada anak-anak. Dengan model pengajaran yang diterapkan melalui permainan, nyanyian, dan cerita Kitab Suci, anak-anak akan mengetahui secara lebih baik siapa sebenarnya yang mereka imani, mendekatkan mereka pada Yesus, serta menjadi bekal bagi mereka agar kelak mereka mampu mempertanggungjawabkan iman yang mereka miliki kepada orang lain. Kalau tidak, maka generasi penerus kita akan dipenuhi oleh orang-orang yang tidak cukup tahu tentang apa yang dianutnya.

Pendidikan Anak dan Penyiapan Generasi Masa Depan
Secara umum tujuan pendidikan anak usia dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Secara khusus tujuan pendidikan anak usia dini (Sujiono, 2009: 42-43) sebagai berikut: 1) Agar anak percaya akan adanya Tuhan dan mampu beribadah serta mencintai sesamanya. 2) Agar anak mampu mengelola keterampilan tubuhnya termasuk gerakan motorik kasar dan motorik halus, serta mampu menerima rangsangan sensorik. 3) Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif sehingga dapat bermanfaat untuk berpikir dan belajar. 4) Anak mampu berpikir logis, kritis, memberikan alasan, memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat. 5) Anak mampu mengenal lingkungan alam, lingkungan sosial, peranan masyarakat dan menghargai keragaman social dan budaya serta mampu mengembangkan konsep diri yang positif dan kontrol diri. 6) Anak memiliki kepekaan terhadap irama, nada, berbagai bunyi, serta menghargai karya kreatif.

.
Kesimpulan
Anak merupakan generasi pelangsung kehidupan umat manusia. Demikian juga keberadaan bangsa ini di masa depan berada di tangan mereka yang saat ini masih terhitung sebagai anak-anak. Secara alamiah peranan setiap generasi akan digantikan oleh generasi sesudahnya. Oleh karena itulah penyiapan generasi pengganti atau generasi penerus itu menjadi mutlak harus dilakukan. Setiap generasi akan menghadapi tantangan dan problemanya sendiri, tidak sama dengan yang dialami oleh generasi sebelumnya.

Dengan upaya pemberdayaan generasi yang baik pada usia dini, akan dihasilkan anak-anak yang memiliki masa depan cerah karena mereka kelak menjadi orang dewasa yang kreatif dan mempunyai rasa percaya diri yang kuat.

.
Referensi :
Kemendiknas. 2010. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal.
Kemendiknas. 2011. Kerangka Besar Pembangunan PAUD Indonesia Periode 2011-2025. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal.
Komkat KWI, 2010. Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Komkat KWI.
…………………, 2003. Kurikulum Pendidikan Agama Katolik di Sekolah. Jakarta: Komkat KWI.
Konggregasi untuk Iman. 1995. Petunjuk Umum Katekese. Jakarta: Dokpen KWI.
Patmonodewo, Soemiarti. 2003. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Sujiono, Yuliani Nurani dan Bambang Sujiono. 2005. Menu Pembelajaran Anak Usia Dini. Jakarta: Citra Pendidikan Indonesia.
Sujiono, Yuliani Nurani. 2009. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Indeks.
Suryabrata Sumadi. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Visimedia.

 

.
Andreas Kosasih

Related Posts

  • 76
    Acara yang sedianya dimulai pukul 18.00 wib, mundur satu jam karena turun hujan yang sangat lebat, sampai tenda yang dibuat panitia harus dibongkar lagi karena tidak mampu menahan curah hujan yang deras sekali. Beralaskan tikar dan beratapkan langit, akhirnya jadi juga acara ini digelar dihalaman gereja, setelah hujan reda. Dengan iringan orgen dan nyanyian ”Engkau…
    Tags: yang, dan, anak
  • 64
    Muntilan (LENTERA) – Pada Minggu Prapaskah II Komisi Kateketik (KOMKAT) Keuskupan Agung Semarang (KAS) mengadakan pertemuan para pengemban bidang pewartaan dan evangelisasi se-Keuskupan Agung Semarang di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan pada hari Sabtu-Minggu (11-12/3). Paroki Santa Perawan Maria di Fatima Sragen mengirimkan perwakilannya yaitu Bapak Gabriel Nahak, Tim Kerja Kitab Suci dan Paulus Supriwidodo Tim…
    Tags: dan, iman, yang, anak, pendidikan
  • 64
    Dalam sejarah peradaban manusia, pendidikan merupakan salah satu bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan keberlangsungan eksistensi mereka (Francis Wahono, 2001: iii). Oleh karena itu pendidikan dan budaya tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan masyarakat dan manusia. Manusia, masyarakat dan pendidikan pada hakikatnya memiliki hubungan fungsional yang cukup berarti. Manusia dan masyarakat akan berarti apabila…
    Tags: dan, yang, pendidikan