PENDIDIKAN: Membentuk Pribadi Yang Seimbang, Rohani – Jasmani

pendidikan katolik

 

Pengantar

“Mens sana in corpore sano”, slogan ini begitu populer dan akrab di telinga, lebih-lebih mereka yang menyukai olahraga. Jiwa yang sehat ada di dalam badan yang sehat, itulah kira-kira maksudnya. Secara umum slogan ini bisa dibenarkan, bahwa biasanya orang yang sehat secara jasmani tidak mengalami masalah kejiwaan (iman) yang berarti, sebaliknya orang yang sakit parah bertahun-tahun akan mengalami kegoncangan jiwa hingga memberotak dan percaya akan kuasa Allah.

Namun, dalam kenyataannya tidak semua orang seperti itu. Biarpun sakit berat dan tidak sembuh-sembuh, ada yang tetap sabar dan percaya akan kasih Allah. Dalam iman katolik, sering terungkap bahwa penderitaan dan sakit itu merupakan cara untuk ikut serta dalam penderitaan Kristus menebus dunia. Orang Jawa mengatakan: “Ndherek sangsara Dalem Sang Kristus”. Dengan semangat ini bukan mustahil orang sakit dan menderita tetap bisa merasakan damai dan bahagia. Orang seperti ini tentu tidak banyak kita temui, hanya akan dialami oleh mereka yang sudah mantab hidup rohaninya.

.

Pandai dan Suci
Paus Fransiskus dalam homili pernah berkata: “Seorang anak Allah harus menyesuaikan cara ia berpikir dengan cara berpikir Allah, dan karena alasan ini ia menolak cara-cara berpikir yang lemah dan dibatasi. Tuhan telah mengajar para murid-Nya untuk menjadi penuh perhatian terhadap tanda-tanda zaman, tanda-tanda yang mana orang-orang Farisi telah gagal untuk memahaminya. Paus mengatakan bahwa, dalam upaya untuk memahami tanda-tanda zaman, seorang Kristen harus berpikir tidak hanya dengan kepalanya saja, tetapi juga dengan hati dan jiwanya. Jika tidak, dia tidak bisa memahami “jalan Allah dalam sejarah”. Dalam Injil, Yesus sungguh tidak menjadi marah, namun memberi pernyataan yang keras ketika para murid tidak memahami-Nya. Di Emmaus Dia berkata: ‘Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu’ (Luk 24,25). Tuhan menghendaki kita untuk memahami apa yang terjadi, apa yang terjadi dalam hatiku, apa yang terjadi dalam hidupku, apa yang terjadi di dunia, dalam sejarah, dll. Apa arti yang sedang terjadi sekarang? Hal-hal ini merupakan tanda-tanda zaman itu! Di sisi lain, roh dunia memberi kita perbandingan-perbandingan lain, karena roh dunia tidak menginginkan sebuah komunitas. Dunia menginginkan sebuah kerumunan massa, tanpa pertimbangan, tanpa kebebasan.”

Sementara roh dunia tidak menghendaki kita untuk bertanya kepada diri kita sendiri bagaimana diri kita di hadapan Allah: Tapi mengapa, mengapa hal lain ini, mengapa hal ini terjadi?’ Atau ia bisa juga menawarkan sebuah cara berpikir ‘siap pakai’, yang sesuai dengan selera pribadi: “Aku berpikir sebagaimana aku suka!” Paus Fransiskus menambahkan bahwa Yesus meminta kita untuk “berpikir secara bebas dalam upaya untuk memahami apa yang terjadi: “Kebenaran itu adalah bahwa kita tidak sendirian! Kita perlu bantuan Tuhan”. Kita perlu “memahami tanda-tanda zaman” itu: Roh Kudus, katanya, “memberi kita hadiah ini, sebuah karunia: kecerdasan untuk memahami”: Jalan apa yang Tuhan inginkan? Selalu dengan roh kecerdasan yang dengannya dapat memahami tanda-tanda zaman itu. Adalah indah untuk meminta Tuhan akan rahmat ini, yang mengirimkan kita roh kecerdasan ini, karena kita tidak memiliki sebuah pemikiran yang lemah, kita tidak memiliki sebuah pemikiran yang dibatasi dan kita tidak memiliki sebuah pemikiran yang sesuai dengan kesukaan pribadi: kita hanya memiliki sebuah pemikiran yang seturut dengan Allah. Hal ini adalah rahmat yang karenanya kita harus minta kepada Tuhan, yakni roh yang membuat kita “memahami tanda-tanda jaman” itu (Domus Sanctae Martha, 29-11-2013)..

.
Tantangan Jaman
Orang tua tentu saja mengharapkan anaknya supaya menjadi pribadi yang seimbang, rohani-jasmani. Pertimbangan ini membawa akibat logis, bagaimana memilih sekolah bagi anak-anak mereka? Memilih sekolah Katolik yang baik dan bermutu adalah ideal bagi keluarga-keluarga katolik. Sekolah seperti ini pasti tidak hanya akan memperhatikan kualitas pendidikan duniawi, tetapi juga memperhatikan perkembangan iman anak. Kalau anak tidak beriman pastilah akan menjadi anak yang sombong, walaupun pandai. Selanjutnya anak seperti itu tidak pernah akan bersyukur, karena merasa bahwa apa yang ada pada dirinya adalah miliknya sendiri. Ia tidak bisa menghargai orang lain pula, karena baginya sesama tidak ada gunanya. Masalahnya sekarang ini adalah tidak mudah mendapatkan sekolah Katolik yang baik dan berkualitas. Kalau toh ada sekolah Katolik yang baik dan berkualitas juga terbatas. Sekolah seperti itu biasanya hanya ada di daerah perkotaan dan biasanya juga mahal (relatif). Inilah tantangan bagi kita, pendidikan katolik jaman ini.

Salam dan Berkah Dalem

FX Suyamta Kirnasucitra, Pr

Pastor Paroki Sragen

Related Posts

  • 93
    Era yang sudah-sudah, barangkali era-nya kakek-nenek, atau bapak-ibu kita, atau bahkan, diantara kita masih ada yang mengalami, kalau hendak berkirim kabar, atau terlibat dalam sebuah pembicaraan, santai atau serius; kita mesti berhadapan-muka, face to face, mesti ada dalam sebuah perjumpaan, atau, kalau terbentang jarak yang jauh, telepon atau telegram, jadi sarana yang dipilih untuk mengabarkan…
    Tags: kita, yang, dan, dalam, tidak, untuk
  • 85
    “Diutus Menjadi Garam dan Terang Bagi Masyarakat” Dibacakan/diterangkan pada hari Sabtu-Minggu, 6-7 Februari 2016     Saudara-saudariku yang terkasih Memasuki tahun 2016, umat Allah KAS telah memiliki ARDAS VII untuk periode 2016-2020. Dalam semangat ARDAS yang baru ini, kita ingin menapaki peziarahan iman, dengan bergotong royong memperjuangkan Peradaban Kasih melalui hidup bersama yang sejahtera, bermartabat…
    Tags: dan, yang, kita, dalam
  • 85
    “JANGAN TAKUT, AKU BESERTAMU: KOMUNIKASIKAN HARAPAN DAN IMAN” Akses yang mudah dan terbuka pada media komunikasi—berkat kemajuan teknologi—memungkinkan banyak orang berbagi berita secara langsung dan menyebarkannya secara luas.Berita yang disebarkan ini bisa baik atau buruk, benar atau salah (hoax). Umat Kristen awal membandingkan pikiran manusia seperti mesin penggiling; terserah si pekerja mau menggiling apa: entah…
    Tags: yang, dan, kita, ini, dalam