Full Day School ?

full day school

 

Full Day School adalah wacana yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan baru, Muhadjir Effendy, yang mungkin menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Rencananya guru dan siswa akan melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah dari pukul 07.00-15.00, pada hari Senin hingga Jum’at, sedangkan di hari Sabtu libur. Pada prakteknya kegiatan full day school memang belum sepenuhnya dilaksanakan karena infrastruktur dan sarana prasarana penunjangnya masih belum siap.

Sebagian orang merasa bahwa sistem ini akan memberi beban yang berat terutama kepada siswa karena waktu belajar semakin panjang. Sementara itu, kegiatan belajar seperti itu masih belum dapat diaplikasikan di semua daerah karena masih butuh kajian yang lebih mendalam. Masih banyak hal yang masih harus dipersiapkan! Kalau kebijakan ini diresmikan pasti akan ada ‘korban’ yaitu siswa-siswi dan guru. Kritikannya, jangan kebijakan ini hanya sebagai suatu program unggulan hanya untuk ‘tampil beda’ dengan menteri sebelumnya.

Kebijakan Sekolah Penuh akan berdampak buruk pada hubungan siswa (anak) dengan keluarganya. Pendidikan pada hakekatnya adalah tanggung jawab dari orang tua, pendidikan anak berawal di dalam keluarga. Seorang anak akan menjadi apa di kemudian hari ditentukan dari pola asuh dan peran dari orang tua sendiri. Guru di sekolah hanya sebagai pengemban mandat dari orang tua.

Dalam ilmu sosial keluarga, itu adalah lembaga sosial terkecil di dalam masyarakat atau bangsa, negara. Di dalamnya, terdapat suatu sistem yang berkesinambungan, dengan perangkat aturan, norma. Kualitas dari suatu bangsa dilihat dari kualitas dari keluarga yang tinggal di dalam negara tersebut.

Peran orang tua memang sangat penting terutama di dalam pendidikan di dalam keluarga. Kalau bangsa ingin menjadi bangsa yang besar dan maju, keluarganya harus mempunyai mutu yang baik. Kalau suatu bangsa ingin bebas dari korupsi, tentunya keluarga harus mulai menanamkan kedisiplinan dengan didasari dengan sikap menjunjung tinggi kejujuran dan tidak mentolerir kebiasaan korupsi.

Iman Katolik itu pun tumbuh pertama kali di dalam keluarga. Anak akan belajar bagaimana cara berdoa dari orang tuanya bukan dari guru agama, bukan dari guru sekolah minggu. Anak mengetahui kisah nabi, kisah santo-santa dan kisah Yesus Kristus dari orang tua yang mengajari mereka di dalam ‘pendidikan’ keluarga, bukan dari lembaga formal sekolah.

Begitu pula dengan Ekaristi, anak akan mencintai Ekaristi kalau orang tuanya juga mengajarkan sikap-sikap liturgi di ekaristi dengan tepat. Orang harusnya mengajarkan kepada anak bagaimana sikap hormat pada sakramen Maha Kudus. Kalau anak tidak diajari sedari dini, atau mungkin malah dibiarkan berlarian di luar tanpa tahu sikap liturgi, tanpa tahu makna dari Sakramen Ekaristi, anak akan menganggap Perayaan Ekaristi hanya sebagai suatu kewajiban formal setiap hari Minggu tanpa mengerti esensinya. Yang memprihatinkan, orang tua sendiri punya kebiasaan untuk duduk di luar gereja, bukan di dalam gereja, sehingga anak tidak tahu apa yang terjadi di dalam gereka, dan tak tahu apa yang terjadi di altar. Kalau orang tua tidak mengarahkan, anak hanya tahu kalau ke gereja itu adalah kesempatan untuk berlari-lari dengan teman-temannya di halaman gereja. Apakah anda ingin anak anda menjadi tidak tahu apa itu Ekaristi?

Panggilan hidup bakti (menjadi imam, bruder, suster) tumbuh dan berkembang di dalam keluarga. Penulis teringat dengan khotbah Mgr Riana Prapdi saat beliau misa di Paroki Sragen. Mgr Pius Riana Prapdi menceritakan tentang panggilan imamatnya yang tumbuh mulai di dalam keluarga dengan kebiasaan yang sederhana yaitu dengan doa bersama. Mgr Pius Riana Prapdi bercerita bahwa ketika beliau masih kecil orang tua sedikit memaksa anak-anaknya untuk berdoa pada pukul sembilan malam, dalam keadaan apapun kebiasaan doa itu dilaksanakan, walaupun dirinya sudah tidur orang tua Mgr Pius Riana Prapdi tetap membangunkan dan mengajak berdoa. Hal kecil tersebut secara tidak sadar memperkuat akar keimanan Katolik anak sehingga ketika ada ‘guncangan’ pada anak di kemudian hari, anak tersebut sudah siap.

Kalau peran keluarga menjadi penentu masa depan bangsa dan agama mengapa pendampingan pra pernikahan terkesan kurang. Jika kita bandingkan dengan pelajaran sakramen inisiasi: baptis, Krisma, Sambut Komuni Pertama, yang proses pendidikannya hampir satu tahun, relatif singkat, hanya pada saat kursus saja. Namun masih untung ada tim kerja pastoral keluarga (pendampingan keluarga) yang siap mendampingi keluarga-keluarga di paroki.

Tim LENTERA

Related Posts

  • 63
    BERJUMPA DENGAN ALLAH DALAM KELUARGA “Mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu” (Luk 2:16) Dalam perayaan Natal tahun ini, kami mengajak seluruh umat Kristiani untuk menyadari kehadiran Allah di dalam keluarga dan bagaimana keluarga berperan penting dalam sejarah keselamatan. Putera Allah menjadi manusia. Dialah Sang Imanuel; Tuhan menyertai kita. Ia hadir…
    Tags: dan, keluarga, yang, dalam, di, dengan
  • 61
    11 Februari 2010 Saudara-saudari terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-18  dirayakan di Basilika Vatikan pada tanggal 11 Februari  dengan liturgi peringatan Bunda Maria dari Lourdes. Selain bertepatan dengan ulang tahun ke-25 Lembaga Dewan Kepausan untuk Tenaga Pelayanan Kesehatan (DKTPK) alasan lain adalah untuk bersyukur kepada Tuhan atas pelayanan DKTPK selama ini di bidang pastoral pelayanan…
    Tags: yang, dan, dengan, dalam, di
  • 59
    Widoro (LENTERA) - Natal menjadi suatu moment yang sangat membahagiakan, dan  perayaannya selalu menjadi suatu kegembiraan bagi umat Kristiani. Bertepatan dengan Hari Raya Pembaptisan Tuhan, Minggu (11/1)  umat Wilayah Paulus yang terdiri dari Lingkungan Timotius Krapyak, Markus Widoro, Sebastianus Karang Tengah, Dominikus Ngrampal merayakan Natal. Tema yang diangkat sesuai dengan tema Keuskupan Agung Semarang yaitu…
    Tags: yang, dalam, dengan, keluarga, dan, di, dari, itu