Keluarga yang Mewartakan & Bersaksi Seturut Sabda Allah

Keluarga Katolik

 

Bulan September: Bulan Kitab Suci Nasional sebutan itu muncul pada tahun 1975-1976 dan merupakan tahun-tahun awal dari pelaksanaan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Sejak saat itu, diterbitkanlah berbagai macam bentuk buku panduan dalam menyongsong BKSN dengan pelbagai tema beragam dan bergantian.

Tema BKSN tahun ini adalah “Keluarga Yang Mewartakan dan Bersaksi seturut Sabda Allah”. Keluarga yang juga disebut sebagai gereja mini mengambil peran yang sangat penting didalam pewartaan dan kesaksian akan Sabda Allah. Selain itu, keluarga juga merupakan tempat pendidikan yang pertama dan utama.Pendidikan mencakup segala macam bidang ilmu pengetahuan, pendidikan moral, sopan santun, bertutur bahasa, bertingkah laku, dan yang lebih penting lagi adalah pendidikan iman.Keteladanan hidup orang tua merupakan wujud tanggungjawab pendampingan terhadap anak.Tanggungjawab ini menyangkut kesediaan bagi suami atau istri (bapak dan ibu) untuk membesarkan dan mendidik anak-anak, sehingga nantinya mereka dapat menjadi pribadi-pribadi yang utuh, dewasa, mandiri dan iman yang kokoh.

Ada tiga hal yang perlu dilakukan oleh umat Katolik untuk membangun iman yang kokoh, yaitu menjadi pendengar firman, menjadi pendoa yang rajin, dan menjadi pelaksana firman.Bagaimana tiga hal itu dapat kita bangun bersama didalam kehidupan keluarga?
Selama ini umat Katolik dinilai kurang membaca Kitab Suci.Kendati begitu, pandangan itu tidak sepenuhnya benar. Dibanyak tempat Kitab Suci didalami lewat kegiatan kelompok, lewat kursus-kursus, serta lewat pendidikan PIA dan PIR, bahkan di paroki kita, mulai dicanangkan kembali membaca dan mendengarkan Kitab Suci di awal pertemuan rapat, kegiatan – kegiatan bersama dalam kelompok, atau tim kerja. Segala kesulitan yang pada mulanya menjadi hambatan, sedikit demi sedikit mulai diatasi.Buku-buku pendukung untuk mempelajari Kitab Suci sudah cukup banyak, bahkan sumber dari internet yang dapat dengan mudah didapat. Selain itu, setia mengikuti Ekaristi Kudus dan Ibadat Sabda dapat menjadi cara yang efektif untuk mendalami Sabda Tuhan dari Kitab Suci.

Bagaimana keluarga-keluarga Katolik dapat meningkatkan kecintaannya pada Sabda Tuhan?Apakah setiap keluarga Katolik memiliki Kitab Suci? Setidaknya, panduan-panduan misa yang dicetak telah menolong umat untuk membaca sendiri bacaan-bacaan Kitab Suci di dalam Misa Kudus.Jika panduan itu dibawa pulang, masih dapat dibaca lagi dan direnungkan lebih dalam.Lewat media elektronik, hand phone, yang bisa menyimpan Alkitab elektonik dan lain-lain.Hal ini merupakan cara yang selama ini cukup praktis untuk mendekatkan diri pada Kitab Suci. Memang perlu keberanian untuk mau memulai membaca Kitab Suci secara bersama-sama didalam keluarga.Anak-anak mulai diperkenalkan pada kisah-kisah yang terdapat didalam Kitab Suci.Bapak atau Ibu dapat membacakan dan menjelaskan kepada anak-anak menjelang mereka tidur.

Kecintaaan kepada Sabda Tuhan janganlah kita surutkan oleh keengganan untuk memulai.Mulai sajalah membaca Kitab Suci. Jika kegiatan itu dilakukan dengan tekun dan teratur, pasti buahnya akan kelihatan. Ayat-ayat yang menarik dari Kitab Suci dapat saja kita tandai agar kita lebih mudah mengingatnya.Dengan begitu, kita dapat menjadi pembaca Firman Allah yang aktif.Bagaimanapun juga, upaya menjadikan keluarga sebagai pendengar dan pembaca Firman harus kita mulai dari diri kita sendiri.

Menjadi pendengar Sabda Allah yang baik, dan menjadi pendoa yang baik kiranya belumlah cukup jika tidak dilengkapi dengan menjadikan kita sebagai pelaksana Sabda Allah dalam wujud kesaksian hidup yang nyata.Apa yang kita dengarkan dan apa yang kita doakan hendaknya terwujud didalam tindakan. Orang Farisi didalam Injil banyak dikritik sebagai orang-orang yang tekun menggulati Sabda Allah, tekun berdoa tetapi tindakannya sering tidak sesuai dengan apa yang mereka pelajari. Injil Matius bab23 memperlihatkan bagaimana Yesus dengan terus terang mengkritik perbuatan orang Farisi yang tidak sesuai dengan kesalehan yang mereka banggakan. Sabda Allah disampaikan bukan hanya untuk didengarkan, tetapi juga untuk dilaksanakan.Demikian juga doa-doa yang diserukan kepada Tuhan menjadi tanpa makna jika kita tidak mengubah sikap dan tindakan kita menjadi lebih baik.

Keinginan untuk membangun keluarga yang teguh beriman tidak akan berhasil jika masing-masing anggotanya tidak mau menjadi pelaksana Sabda Allah itu sendiri. Iman bukan hanya sikap batin, tetapi juga suatu tindakan. Yesus cukup keras berbicara mengenai hal ini dalam Injil Lukas 6:46 “ Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?”Menjadi pendengar Sabda Allah, menjadi pendoa dan pewarta tetapi tidak menjadi pelaksana Sabda Allah diibaratkan seperti orang yang membangun rumah tanpa dasar. Mungkin bangunan rumah kelihatan megah tetapi jika tidak mempunyai dasar yang kokoh, maka akan dengan mudah dihancurkan oleh banjir.

Haruslah kita sadari bahwa fondasi dan benteng rumah tangga keluarga Katolik adalah Kasih kepada Allah dan Kasih kepada sesama, dalam hal ini adalah pasangan hidupnya, sehingga perjalanan hidup suami istri semakin kokoh-kuat dalam persatuan dengan Yesus Kristus. Dia-lah Jalan, Kebenaran, dan Hidup menuju cita-cita sejati yaitu Kerajaan Allah. Ketika suami dan istri menjadi lebih dekat kepada Allah melalui doa, membaca Kitab Suci, persekutuan, dan kerendahan hati dihadapan Kristus, mereka akan melayani satu sama lain. Semakin suami dan istri bertumbuh kearah Allah, terjadilah ikatan yang semakin kokoh dalam pernikahan.Dengan demikian, keluarga-keluarga kristiani semakin kokoh dalam iman berani menjadi pewarta dan bersaksi ditengah tantangan zaman yang penuh godaan.“Gloria Patri et Filio et Spiritui Sancto”Amen.

Yohanes Krisna Sutarno

Related Posts

  • 83
    Dunia berubah, begitu pula orang-orang dan zamannya berubah. Tantangan yang dihadapi juga mengalami perkembangan. Apakah kita harus khawatir dan merasa terancam. Tidak perlu! Ada Sabda Tuhan, Kabar Gembira yang dapat kita jadikan inspirasi untuk menghadapi tantangan arus zaman yang dapat menghanyutkan kita. Sabda Tuhan dapat kita jadikan senjata rohani untuk mengarungi tantangan jaman tersebut. Harus…
    Tags: yang, suci, untuk, kitab, dan, kita, menjadi
  • 75
    Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) Saudari-saudara terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda. Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di…
    Tags: yang, dan, kita
  • 71
    MISI DI JANTUNG HATI IMAN KRISTIANI Saudari-saudara terkasih, Sekali lagi tahun ini, Hari Minggu Misi Sedunia menyatukan kita bersama di sekeliling pribadi Yesus, “Penginjil pertama dan terbesar” (Paus Paulus VI, Evangelii Nuntiandi, 7), yang terus menerus mengutus kita untuk mewartakan Injil cinta Allah Bapa dalam kuasa Roh Kudus. Hari Minggu Misi ini mengundang kita untuk…
    Tags: yang, dan, untuk, kita