Menuju Kedewasaan Iman

iman katolik

Pengantar
Seringkali manusia menghubungkan pertambahan usia dengan kedewasaan, meskipun menjadi tua belum tentu berarti bersikap dewasa. Maka ada ungkapan, “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.” Sebuah tulisan tentang kedewasaan menyebut bahwa ciri-ciri orang dewasa adalah: diam aktif, tak banyak bicara, tapi menyikapi permasalahan dengan bijaksana. Dewasa juga berarti mempunyai empati, senantiasa meluangkan hati untuk memikirkan dan memahami perasaan orang lain. Dewasa adalah berhati-hati dalam berpendapat dan menentukan sikap, tepat dalam menggunakan waktu dan menggunakan harta benda. Dewasa adalah sabar, sehingga ia bisa mengendalikan jiwanya dari ledakan emosi dan menenangkan hatinya dari kemarahan tanpa guna. Dewasa adalah bertanggungjawab akan kehidupan yang dijalani, dll.

Iman yang Dewasa
Jika kita bertanya pada anak-anak tentang cita-cita mereka, tentu mereka ingin menjadi besar, dengan kata lain, ingin bertumbuh menjadi dewasa. Memang, pertumbuhan menjadi ciri khas kita sebagai manusia, yang kita alami baik secara jasmani maupun rohani. Selayaknya, kita yang telah dibaptis ingin bertumbuh menjadi lebih dewasa di dalam Kristus. Allah sendiri menghendaki pertumbuhan iman, oleh karena itu Ia mengaruniakan rahmat sakramen penguatan, yang dimaksudkan untuk melengkapi rahmat pembaptisan.

Sebagaimana secara alamiah seseorang lahir, bertumbuh, oleh karena makanan jasmani, maka secara rohani, iapun dilahirkan kembali di dalam pembaptisan, menjadi dewasa oleh penguatan dan bertumbuh dan dikuatkan oleh ekaristi, yang adalah makanan rohani. Oleh karena itu sakramen pembaptisan, penguatan dan ekaristi menjadi sakramen-sakramen Inisiasi Kristen yang kesatuannya harus dipertahankan.

Dalam kehidupan rohani, kita yang telah dilahirkan kembali oleh air dan Roh melalui pembaptisan, juga bertumbuh dewasa di dalam Kristus. Kedewasaan di dalam Kristus ini ditandai oleh ketahanan kita untuk menolak dosa dan kuasa jahat yang menjadi ‘musuh’ iman kita. Untuk itu, Kristus melalui Gereja-Nya memberikan pada kita sakramen penguatan, yang memperlengkapi kita untuk menghadapi peperangan rohani antara keinginan berbuat baik dan pengaruh dunia yang sering kali bertentangan dengan iman kita. Karena pergumulan ini bersifat rohani, maka Allah memberikan kepada kita sumber kekuatan, yaitu karunia yang berasal dari Roh Kudus-Nya sendiri. Kepenuhan Roh inilah yang dijanjikan oleh Kristus kepada para murid-Nya (Yoh 14:15-26).

Kisah nyata
Ini kisah nyata tentang seorang pria dewasa, namanya Eka Pratama Suyatna, Direktur Fortis Asset Management yang sangat terkenal di kalangan pasar modal dan investment, beliau juga sangat sukses dalam memajukan industri reksadana di Indonesia. Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, yaitu 58 tahun. Kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit dan juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun, dan dikarunia empat orang anak.

Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama dua tahun. Menginjak tahun ketiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Eka memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum. Rutinitas ini dilakukan Pak Eka lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan keempat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari, keempat anak itu berkumpul di rumah orangtua mereka sambil menjenguk ibunya. Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung meminta agar ayahnya tidak usah merawat ibu, kalau perlu menikah lagi demi kebahagiaan hidup di hari tua. Pak Eka menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya: “Anak-anakku, jikalau perkawinan & hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi. Tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian. Hanya kalian yang selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak dapat dihargai dengan apapun.”

“Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang? Kalian menginginkan bapak yang masih sehat ini dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yang sakit?” Pak Eka melanjutkan: “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, dan perhatian, itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban demi cintanya untuk kami. Dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…”

Penutup
Pak Eka adalah contoh seorang beriman dewasa, karena ia memiliki “mainstream” dalam hidupnya dan tidak bisa dibelokkan oleh kekuatan apapun. Kondisi hidup seperti itu tidak mungkin jauh dari Tuhan, pastilah Pak Eka adalah seorang pendoa pula. Doa bagi orang beriman menjadi sarana untuk berelasi dengan Tuhan, sehingga hidupnya menjadi bermakna baik dalam pengalaman sedih maupun senang.

Kebutuhan berdoa tidak hanya timbul pada waktu orang berada dalam pengalaman sedih, tetapi juga dalam keadaan kuat & stabil. Alkitab menggambarkan hubungan Tuhan & manusia itu seperti ayah & anak, seorang anak berbicara kepada ayahnya bukan hanya untuk meminta pertolongan atau membutuhkan sesuatu, tetapi untuk merasakan kedekatan dan kemesraan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Pak Eka mampu bertahan dalam pengalaman sedih, bahkan ia bisa merasakan kedekatan dengan Tuhan dalam diri istri yang sakit dan menderita.
Gereja St Perawan Maria di Fatima memasuki usia ke -60, sejauh mana telah menunjukkan sikap dewasa dalam hidup beriman? Bagaimana kehidupan pribadi maupun kelompok sebagai paguyuban umat beriman mampu menunjukkan kesetiakawanan satu sama lain? Baik dalam suka maupun duka, selagi cocok maupun bersebarangan? Semoga tulisan ini bisa membantu untuk merenung dan introspeksi diri. Berkah Dalem (+)

Salam,
FX Suyamta Pr

Related Posts

  • 66
    Bapa Suci emeritus Benedictus XVI pernah berkata bahwa internet adalah mukjizat di abad ini. Sebagai pribadi yang sudah lanjut usia bahkan beliau tidak mau ketinggalan untuk selalu menggunakan media elektronik dan digital dalam menyebarkan dan mensosialisasikan pandangan-pandangan beliau. Begitu pula Bapa Suci Paus Fransiskus. Beliau memiliki berbagai akun media sosial di dunia maya, bahkan akun…
    Tags: yang, dan, di, tidak, orang, kita, bisa, dalam, untuk, ini
  • 65
    Dibacakan/diterangkan pada Malam Tirakatan atau Hari Raya Kemerdekaan Indonesia Rabu - Kamis, 16 - 17 Agustus 2017 “MENGEMBANGKAN SEMANGAT KEBANGSAAN DAN KE-BHINNEKA TUNGGAL IKA-AN” Para sahabat muda, anak-anak dan remaja; para Saudari-saudara, Ibu, dan Bapak; serta para Rama, Bruder, Suster, Frater yang terkasih. Baru saja kita akhiri perhelatan besar Keuskupan Agung Semarang sebagai tuan rumah…
    Tags: dan, yang, kita, dengan, di, dalam
  • 64
    Pelayanan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan Gereja. Pelayanan itu dilakukan semata-mata karena Kristus yang menjadi teladan dalam melakukan pelayanan kepada sesama. Kristus sendiri memberi motivasi kepada murid-murid Kristus dalam karya pelayanan dan menuntunnya kepada orang-orang yang membutuhkan uluran kasih. Santo Paulus memandang Kristus sebagai satu-satunya dasar dan alasan untuk melayani Allah dan…
    Tags: untuk, yang, kita, dan, dalam, dengan, di, tidak, menjadi, itu