Menjadi Pelopor Peradaban Kasih

IMG_1896

APP 2017: MENJADI PELOPOR PERADABAN KASIH
“Meski panas terik matahari menyengat, tak membuat para aktivis perdamaian dan persaudaraan lintas agama ini menyerah dalam menyampaikan niat dan amanat. Silih berganti mereka menyampaikan orasi damai. Lukas Awi Tristanto, misalnya, mengajak masyarakat untuk terus berjuang melawan setiap diskriminasi. Para hadirin dan masyarakat dibuat terpana penuh haru saat Ellen Kristi menyampaikan orasi damai mengenang Intan Olivia Marbun, anak balita yang jadi salah korban pelemparan bom molotov di Gereja Oikemene Samarinda beberapa waktu lalu. Sambil menangis penuh cinta seorang ibu, ia menyerukan agar kekerasan dan intoleransi tak lagi terjadi di negeri ini” (www.sesawi.net, Aloysius Budi Purnomo Pr, Aksi dan Orasi Damai Merawat Kebhinekaan, November 19, 2016).

Itulah potret aksi sebagian dari masyarakat Indonesia yang tidak mau tinggal diam menyaksikan peristiwa pelanggaran HAM yang merobek kemanusiaan dan menyisakan kepedihan dalam menjalani hidup bersama di negeri Pancasila.

Kembali ke Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) 2016-2035 yang mencita-citakan terwujudnya peradaban kasih di bumi Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman cerdas, tangguh, mendalam, misioner dan dialogis. Menghayati iman dan berjuang mewujudkan peradaban kasih dalam kehidupan masyarakat yang majemuk di Indonesia, menjadi landasan untuk hidup bersama dengan orang lain dari berbagai macam suku, agama, ras maupun golongan.

Dalam rangka itu umat Kristiani diharapkan terus menerus memperjuangkan dan mewujudkan kasih yang tulus, menjalin persaudaraan dengan semua orang tanpa membeda-bedakan. Sebagai bagian dari suatu bangsa, umat Kristiani terus menerus diajak mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila, yaitu berketuhanan, berperikemanusiaan, bersatu, berdemokrasi dan berkeadilan sosial bagi seluruh warga bangsa.

Mgr Albertus Soegijapranata, SJ (Alm) memberikan warisan mendalam berkaitan dengan nilai kemanusiaan. Beliau menegaskan bahwa kemanusiaan itu satu kendati berbeda bangsa, asal usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan sebuah keluarga besar. Ungkapan tersebut menegaskan ajakan agar umat Kristiani menghayati nilai-nilai iman di tengah-tengah bangsa yang sangat majemuk. Dan berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila beliau menegaskan bahwa kita juga wajib mendalami, menjabarkan dan memperjuangkan perwujudan Pancasila dasar negara kita, dengan iman yang dikaruniakan Tuhan kepada kita.

Dalam Surat Gembala Hari Raya Kemerdekaan RI ke-68 Mgr Johannes Pujasumarta, Pr (Alm) menyebutkan: “Kemerdekaan bangsa ini terjadi berkat rahmat Allah yang Mahakuasa! Dengan demikian, sejarah bangsa kita pun menjadi bagian dari sejarah keselamatan Allah. Cinta kepada tanah air merupakan tanggungjawab sejarah untuk mengisi kemerdekaan dengan peradaban kasih. Sungguh arif dan bijaksanalah, bila pemimpin negeri ini mengemban kekuasaan negara untuk melindungi seluruh bangsa dan tumpah darah Indonesia, yakni memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial sebagaimana dituangkan dalam prinsip dasar kehidupan negara ini, yakni dalam sila-sila Pancasila.”

Dengan mencintai tanah air, tulis surat gembala bertema ‘Mengisi Kemerdekaan Dengan Peradaban Kasih’, umat Katolik memilih mengisi kemerdekaan dengan rela melakukan apa yang baik (bdk. 1Ptr 2:13-17), yaitu “membangun persaudaraan, bukan menceraiberaikan; menghormati sesama, bukan merendahkan; mengasihi sesama, bukan menyingkirkan orang lain karena berbeda suku, agama, ras dan golongan.”

Mgr Pujasumarta juga menyampaikan ajaran penting Paus Fransiskus dalam Ensiklik “Lumen Fidei” (Terang Iman), 29 Juni 2013, bahwa “iman adalah terang yang khas, yang mampu menyalakan setiap aspek kehidupan manusia.” Paus menyadarkan bahwa dengan beriman secara benar, orang tidak melupakan penderitaan dunia, tapi semakin membuka diri pada kenyataan kegelapan dengan kehadiran yang selalu mendampingi, membangun sejarah kebaikan yang menyentuh setiap kisah penderitaan manusia saat ini.

Memasuki bulan Maret ini Gereja Katolik mengajak putera-puterinya untuk mempersiapkan diri menyambut perayaan paskah dengan mendalami bahan Aksi Puasa Pembangunan. Adapun Tema APP 2017 adalah “Aku Pelopor Peradaban Kasih”. Tema ini kemudian direnungkan dalam lima kali pertemuan:
Pertemuan I : Aku Dikasihi Tuhan
Pertemuan II : Kasihilah Sesamamu
Pertemuan III : Berbeda Disatukan dalam Kasih
Pertemuan IV : Kasih dalam Kepedulian
Pertemuan V : Kasih dan Semangat Berbagi

Kelima sub tema tersebut bisa dijadikan sarana untuk mengembangkan dan mewujudkan nilai-nilai Pancasila. Aku dikasihi Tuhan (Sila ke -1), Kasihilah Sesamamu (Sila ke -2). Berbeda Disatukan Dalam Kasih (Sila ke -3), Kasih Dalam Kepedulian (Sila ke -4) dan Kasih dan Semangat Berbagi bisa menjadi wujud nilai-nilai keadilan sosial (Sila ke -5).

Oleh karena itu gerakan APP 2017 kiranya menjadi sarana untuk membangun kesalehan hidup dan pertobatan melalui olah rohani dan laku tapa (puasa dan pantang) dan membangkitkan kepekaan sosial umat bersama masyarakat, sebagai bentuk penghayatan dan perwujudan pertobatan dan solidaritas sebagai murid-murid Kristus.

Berkah Dalem
FX Suyamta Kirnasucitra, Pr
Pastor Paroki Sragen

Related Posts

  • 86
    Saudara-saudara terkasih di dalam Yesus Kristus, 1. Kita patut menaikkan syukur ke hadirat Allah dalam Yesus Kristus, sebab atas anugerah-Nya bangsa dan negara kita dapat mengukir karya di tengah sejarah, khususnya dalam upaya untuk bangkit kembali serta membebaskan diri dari berbagai krisis yang mendera sejak beberapa tahun terakhir ini. Anugerah, penyertaan dan bimbingan Tuhan bagi…
    Tags: dan, yang, dalam
  • 86
    “Satu hati bagi bangsa mewujudkan Peradaban Kasih di Indonesia” Dibacakan/diterangkan pada Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga; Sabtu-Minggu, 13 - 14 Agustus 2016   Saudara-saudariku umat Katolik Keuskupan Agung Semarang, Para Pejuang Senior, Veteran, dan sahabat-sahabat muda yang penuh semangat: SALAM BAHAGIA, karena kasih dan kemerdekaan yang Tuhan berikan bagi kita. SALAM PERJUANGAN…
    Tags: dan, yang, dalam
  • 83
     “Iman Disertai Perbuatan Kasih Semakin Hidup”   Saudara-saudariku yang terkasih, Pada tahun 2015 ini peziarahan iman Umat Allah KAS berada pada tahun terakhir Arah Dasar KAS 2011-2015. Tahun-tahun berikutnya Ardas KAS lima tahunan kita buat dalam kerangka Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang dua puluh tahun ke depan menuju Jubileum ter-agung tahun 2033 untuk merayakan dua…
    Tags: dan, yang, dalam, kasih