Belajar Pasrah

belajar pasrah

Selama masa Prapaskah kita melaksanakan retret agung. Pada retret agung tersebut kita melakukan pertobatan, menyesali segala perbuatan kita, melakukan pantang dan puasa, menyangkal diri dengan tidak menikmati apa yang enak dan menyenangkan, semuanya dilakukan demi merombak diri dan hati kita agar Tuhan layak bersemayam di dalam diri kita. Kemudian ketika hari Paskah tiba, kita memaknai kebangkitan Kristus sebagai kemerdekaan diri kita atas dosa-dosa kita yang membelenggu karena Kristus telah menebus dosa-dosa kira. Kita menjadi manusia yang merdeka bebas dari belenggu dosa. Kita menjadi manusia baru dan membiarkan Kristus berkarya di dalam diri kita.

Bagaimana jikalau setelah masa Prapaskah kita kembali pada kebiasaan kita sebelumnya? ‘Mungkin’ apa yang kita perjuangkan sia-sia. Padahal selama masa Prapaskah kita melakukan aksi puasa pembangunan, membangun diri kita dan pada tahun ini kita merenungkan bagaiman menjadi pelopor peradaban kasih. Harusnya ketika merenungkan renungan dalam buku panduan Aksi Puasa Pembangunan (APP), secara rutin setiap minggunya, kita mendapatkan pembelajaran baru dan harus diaplikasikan setelah melakukan retret agung.

Sebagai orang Katolik setiap tahun kita belajar sesuatu yang baru – ketika masa Adven maupun masa Prapaskah – melalui buku panduan yang dipersiapkan oleh panitia APP Keuskupan Agung semarang. Kalau kita pahami bahwa kehidupan iman Katolik bukan hanya melakukan tradisi semata melainkan melakukan terobosan-terobosan dan pembaruan diri terus menerus. Kalau kita rasakan, kita tidak hanya melaksanakan hari-hari besar keagamaan tanpa persiapan. Pasti dengan persiapan, baik secara rohani maupun secara peribadatan.

Segalanya dilakukan agar kita dapat menjadi tanda plus di dalam kehidupan rohani maupun menjadi tanda plus di kehidupan bermasyarakat. Mengapa tanda plus? Pernah penulis, mengikuti suatu acara, seorang Romo mengatakan bahwa menjadi orang Katolik itu setiap akan melakukan sesuatu membuat tanda plus (+), atau tanda salib. Tanda plus ini menunjukkan bahwa kita ingin menunjukan kualitas diri kita sebagai manusia baik di hadapan Tuhan maupun di kehidupan bermasyarakat. Kalau yang lain hanya melakukan hanya sesuai dengan standar yang ada – atau bahkan tidak sesuai standar, kita melakukan sesuatu lebih dari standar yang ada, dan apa yang dilakukan mempunyai nilai plus, nilai lebih. Begitulah pemaknaan Tanda Salib yang merupakan tanda plus dalam kehidupan kita.

Belajar pasrah. Ketika membaca tentang pengalaman Bapa Uskup terpilih, Mgr. Robertus Rubiyatmoko menanggapi pemilihan dirinya menjadi Uskup Keuskupan Agung Semarang menggantikan Mgr. Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta, di laman Sesawi net, ada sesuatu pergulatan batin yang membuat Mgr Rubiyatmoko tidak tidak bisa tidur selama beberapa hari setelah dihubungi oleh Mgr. Antonio Guido Filipazzi, Duta Besar Vatikan di Jakarta. Pergulatan batin Mgr Rubi sampai pada permenungan tentang bagaimana belajar berpasrah seperti yang diajarkan oleh Yesus pada saat di taman Gestemani sebelum ditangkap dan dijatuhi hukuman salib. “Bukanlah kehendakku, tapi kehendakMu!” (bdk. Luk 22:42), kalimat ini yang meneguhkan Mgr. Rubi untuk menanggapi perutusan sebagai Uskup.
Mgr Rubiyatmoko memilih motto penggembalaan uskup yaitu “Quaerere et Salvum Facere”, yang berarti Mencari dan Menyelamatkan. Motto ini diambil dalam kapasitasnya sebagai Vikaris Judisial atau Hakim Gereja yang sering mendapatkan kasus yang berhubungan dengan pelbagai macam kasus perkawinan. Terkadang, masalah perkawinan ini yang sering membuat orang Katolik ‘terperosok’ dan meninggalkan iman Katolik. Dalam semangat pelayanan ini Mgr Rubiyatmoko ingin mencari domba yang hilang dan tersesat, menemukan dan menyelamatkan.
Kita dapat belajar pasrah dari pengalaman Mgr Rubiyatmoko yaitu bukan hanya galau dalam memutuskan sesuatu melainkan berani untuk berkata “Ya” pada tanggung jawab yang mungkin dirasa berat bagi kita. Misalnya, berkata ‘Ya’ ketika dipilih menjadi anggota dewan paroki, atau sebagai prodiakon. Berkata ya saja tidak cukup, melakukan konsekuensi dari apa yang telah kita setujui itu lebih penting. Itulah hakikat dari belajar pasrah. Memberikan diri dan berani untuk berbuat dan melakukannya dengan penuh tanggung jawab.

TIM LENTERA

Related Posts

  • 88
    Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) Saudari-saudara terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda. Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di…
    Tags: yang, dan, kita
  • 82
    PESAN NATAL BERSAMA PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI) DAN KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) Tahun2016 "HARI INI TELAH LAHIR BAGIMU JURUSELAMAT, YAITU KRISTUS, TUHAN, DI KOTA DAUD" (Lukas 2:ll)   Saudari-Saudara umat Kristiani di Indonesia, Setiap merayakan Natal hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita. Allah berkenan turun ke dunia, masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan kita.…
    Tags: kita, dan, yang
  • 79
    Ada dua bagian dari kehidupan kita yaitu kehidupan vertikal yang berhubungan dengan Tuhan dan kehidupan horizontal yang berhubungan dengan manusia dan semesta alam. Bahwasanya dalam perjalanan hidup pasti kita mengalami pergulatan batin yang ada dalam diri kita sendiri ataupun permasalahan kita dengan sesama manusia. Oleh karena itu, kita sebagai manusia yang menyadarinya perlu membuat suatu…
    Tags: kita, yang, dan, diri