Mencari dan Menyelamatkan

David-Livingstone

Sekali kita mengikuti Tuhan, kita tidak boleh mengenal kata mundur di tengah jalan. Dengan kata lain, kita yang telah terpanggil dalam rencana-Nya wajib menyelesaikan panggilan itu hingga tuntas. Itulah yang Yesus lakukan ketika Allah menetapkan diri-Nya menjadi penyelamat bagi dunia. Ia taat menjalani panggilan itu dengan mati di atas kayu salib agar apa yang direncanakan Allah bagi dunia ini tergenapi. Pertanyaannya adalah apakah kunci sukses Yesus menjalani panggilan hidup-Nya hingga akhir? Jawabannya, Yesus tahu apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup-Nya. Ia meyakini bahwa Allah telah menetapkan jalan hidup-Nya sejak Ia dilahirkan ke dunia ini. Itulah rahasianya!

Salah satu faktor yang membuat kita mencari dan menyelamatkan dalam mengalami janji-Nya adalah kesediaan atau kerelaan berkorban. Kita bisa melihat ada begitu banyak pahlawan iman atau anak-anak Tuhan yang mengakhiri perjuangannya dengan baik karena satu alasan: kesediaan mereka untuk berkorban! Mereka rela menyerahkan atau mempersembahkan sesuatu yang paling berharga dari milik mereka untuk tujuan yang tinggi dan mulia. Berkorban demi kepentingan kerajaan surga dan jiwa-jiwa.

Pernah mendengar nama David Livingstone? Ia seorang misionaris asal Inggris yang tergerak melakukan pelayanan misi ke Benua Afrika. Selama masa pelayanannya, David Livingstone telah banyak menderita dan berkorban untuk mencari dan menyelamatkan jiwa-jiwa yang Tuhan percayakan padanya. Ia harus keluar masuk hutan bahkan lengannya nyaris putus dan mengalami kelumpuhan akibat serangan seekor singa. Setelah menikah, David dan istrinya Merry, melewati tahun-tahun penuh penderitaan dan kerja keras. Sampai akhirnya, David harus kehilangan anak-anaknya, juga sang istri yang meninggal karena terserang demam.

Penderitaan berat dan kehilangan orang-orang yang dikasihi tidak membuat David mundur. Ia justru merambah Afrika lebih dalam lagi. Ia tak memperdulikan kondisinya yang menyedihkan. Kaki yang luka dan bernanah karena infeksi dan selama berbulan-bulan tidak memiliki apa-apa untuk dimakan kecuali jagung kering. Hingga kekuatannya pun habis. Ia tak dapat berdiri dan berjalan lagi. Demi tetap bisa mencari dan menyelamatkan jiwa-jiwa yang Tuhan percayakan padanya, ia meminta para pembantunya meletakkannya di atas tandu dan mengusungnya. Bagi David Livingstone, semua itu adalah pengorbanan yang memang harus ia berikan untuk mengerjakan panggilan-Nya hingga tuntas.

David Livingstone menghembuskan nafas terakhirnya di suatu pagi. Ia ditemukan oleh pembantunya meninggal dalam posisi sedang berdoa. Selama 39 tahun, David Livingstone berjalan dengan susah payah menempuh 29 mil dipermukaan Benua Afrika. Pengorbanannya yang luar biasa di Benua Afrika, telah membawa dua juta orang Afrika kepada Kristus

Semoga kisah luar biasa David Livingstone menorehkan pemahaman yang baru di hati dan pemikiran kita tentang pengorbanan, serta betapa indahnya berkorban itu. Bukankah Tuhan sering meminta kita untuk berkorban saat kita menjalani rencana Tuhan dengan sungguh-sungguh? Baik berkorban perasaan, berkorban uang, berkorban waktu, maupun berkorban tenaga. Mari lakukan dengan kerelaan untuk mencari dan menyelamatkan jiwa-jiwa yang Tuhan percayakan pada kita.

Saat Tuhan menuntut ketaatan kita berkorban, sesungguhnya itu hendak membawa kita pada promosi dan multiplikasi berkat-Nya. Di mana kita akan dibawa naik ke level yang lebih tinggi lagi, baik secara rohani maupun jasmani. Sehingga hidup kita menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

Pengorbanan kita adalah jembatan untuk Allah menyatakan kasih dan karya-Nya kepada orang-orang yang membutuhkan, supaya mereka diselamatkan. Coba cek kembali, apakah kita sudah mulai malas berdoa, malas pelayanan, malas beribadat, malas berkumpul dalam pertemuan paguyuban? Apakah kita mulai enggan mempersembahkan yang terbaik dan berharga bagi Tuhan? Apakah kita telah meninggalkan ketaatan dan kesediaan kita berkorban demi mencari dan menyelamatkan jiwa-jiwa yang Tuhan percayakan pada kita? Hati-hati! Ketika itu terjadi, jangan-jangan kasih atau cinta kita kepada Tuhan mulai turun derajat panasnya. Jangan-jangan cinta kita terhadap Tuhan telah memudar. Mari, tingkatkan kembali kecintaan kita terhadap Tuhan, supaya kita bisa tetap berjalan di dalam rencana-Nya sampai kesudahan. Jangan tunda, lakukan itu saat ini juga!

Ani Rahayu, Candi Asri

Related Posts

  • 79
    Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: “Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu” (Yoh 2:5) Saudari-saudara terkasih, Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda. Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di…
    Tags: yang, dan, kita
  • 78
    “Diutus Menjadi Garam dan Terang Bagi Masyarakat” Dibacakan/diterangkan pada hari Sabtu-Minggu, 6-7 Februari 2016     Saudara-saudariku yang terkasih Memasuki tahun 2016, umat Allah KAS telah memiliki ARDAS VII untuk periode 2016-2020. Dalam semangat ARDAS yang baru ini, kita ingin menapaki peziarahan iman, dengan bergotong royong memperjuangkan Peradaban Kasih melalui hidup bersama yang sejahtera, bermartabat…
    Tags: dan, yang, kita, dalam
  • 75
    ROH TUHAN GERAKKAN MISI Saudara-saudari terkasih, Tahun lalu, kita telah merenungkan dua aspek panggilan Kristiani: seruan “keluar dari diri kita sendiri” untuk mendengarkan panggilan Tuhan, dan pentingnya komunitas gerejawi sebagai tempat istimewa di mana panggilan Tuhan lahir, tumbuh dan berkembang. Sekarang, pada Hari Doa Panggilan Sedunia ke-54 ini, saya ingin merenungkan dimensi misioner panggilan Kristiani.…
    Tags: dan, yang, kita, untuk, tuhan