“Quaerere Et Salvum Facere” (Mencari dan Menyelamatkan)

yesus sakheus

Setiap Imam maupun Uskup yang ditahbiskan mempunyai “moto tahbisan” yang dijadikan visi dalam pelayanan yang diembannya. Mgr. Robertus Rubiyatmoko memilih moto tahbisan “Quaerere et Salvum Facere” : Mencari dan Menyelamatkan. Moto tahbisan tersebut diambil dari Injil Lukas (Luk19:10). Ayat tersebut selengkapnya berbunyi: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Konteks dari ayat tersebut adalah (Luk 19:1-10) yakni perjumpaan Zakheus dan Yesus, yang diakhiri dengan kunjungan Yesus ke rumah Zakheus dan bahkan Yesus berkenan untuk “menumpang” di rumah Zakheus.

Dengan memilih moto tahbisan tersebut Mgr. Rubi hendak menempatkan diri sebagai gembala umat Allah Keuskupan Agung Semarang yang ingin mencari dan menyelamatkan domba-domba yang hilang. Pilihan moto tersebut kiranya tidak jauh dari profesi yang beliau geluti selama ini, yakni sebagai Vikaris Yudisial / Ketua Tribunal yang dikenal murah hati dengan memberikan keputusan-keputusan yang sangat membantu keluarga-keluarga yang mengalami kendala Hukum Gereja. Di tangan beliau banyak kasus perkawinan yang ditolong sehingga “domba-domba yang hilang” tersebut akhirnya kembali ke pangkuan Gereja dan bisa hidup sebagai umat Allah dengan menerima kembali hak-haknya sebagai warga Gereja.

Selain itu seiring dengan arah penggembalaan Bapa Paus Fransiskus, yang dalam semangat yang sama menulis surat apostolik Misericordiae Vultus (Wajah Kerahiman) mengajak para gembala umat untuk menampakkan “Wajah Kerahiman”. Dalam ensikliknya yang terakhir Amoris Laetitia (Sukacita Kasih) Bapa Paus Fransiskus juga menuliskan ajakan apostolik agar para gembala dengan kegembiraan atau sukacita melaksanakan panggilan dengan menyatakan kasih yang tulus.

Dalam gurauan dengan beberapa Romo, terungkaplah kesan bahwa yang dipilih oleh Allah kok mirip dengan yang ada dalam Kitab Suci: ‘berbadan pendek’ (seperti Daud dalam Perjanjian Lama dan Zakheus dalam Perjanjian Baru), bahkan moto tahbisan pun diambil dari perikop Injil yang mengisahkan Zakheus. Barangkali inilah perwujudan nyata Kidung Magnifikat: ‘Allah meninggikan yang rendah’, saatnya orang-orang yang direndahkan, orang-orang yang tidak diperhitungkan, orang-orang yang tersingkir dan bahkan yang hilang ditemukan kembali. Maka moto tahbisan Mgr. Ruby ini juga mengandung sebuah harapan bagi orang-orang yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difable (KLMTD) seperti tetuang di dalam Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang.

Mgr. Ignatius Suharyo sebagai Ketua KWI saat ini memberi keterangan bahwa beliau sendiri lebih suka dengan istilah “Bapa Uskup” daripada “Monseigneur” (baca: monsinyur). Monseigneur itu artinya yang dipertuan, sedangkan Uskup itu artinya “penilik” (jemaat). Dengan moto tahbisan “mencari dan menyelamatkan” sebutan Uskup lebih tepat bagi Bapa Uskup Robertus Rubiyatmoko. Penggembalaan umat itu terlaksana antara lain ketika seorang Uskup menilik (mengunjungi) umat gembalaannya, sebagaimana Allah melawati umat-Nya. “Seorang Uskup perlu sering menjumpai umatnya, menunjukkan jalan dan menjaga harapan mereka agar tetap bernyala” demikian tandas Mgr. Suharyo.

Santo Robertus (Bellarminus) sebagai pelindung Bapa Uskup Rubi adalah seorang yang cerdas dan ramah, sangat gemar membaca dan menulis. Semua sifat Santo Robertus kiranya ada pada Bapa Uskup kita yang baru ini. Kita bersyukur mempunyai seorang Bapa Uskup yang ramah dan sangat akrab baik dengan para imamnya maupun dengan umat. Sebagai seorang ahli Hukum Gereja yang bergelar Doktor kiranya Bapa Uskup Rubi akan tetap menjaga jalannya Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dengan disiplin dan tertib di satu pihak, tetapi sekaligus sebagai gembala yang murah hati dan lebih mengutamakan belas kasih daripada menerapkan hukum secara kaku.

Di sisi lain, Bapa Uskup Rubi adalah pribadi yang suka humor dan homilinya selalu cair. Ini menjadi ciri khas tersendiri, bahkan beberapa umat selalu menantikan “banyolan” beliau sewaktu mendengarkan homili. Dalam “misa requiem perdana” beliau sebagai Uskup, 3 hari setelah beliau ditahbiskan mengantar kepergian Rama Damasus Windya Wiryana, Pr. pun homili Bapa Uskup Rubi selalu mengundang gelak tawa, sehingga suasana duka pun berubah menjadi sukacita.

Dengan moto “Quaerere et Salvum Facere” para Rama pun diajak untuk menjadi gembala yang mencari dan menyelamatkan yang hilang. Semoga dalam penggembalaan Bapa Uskup Robertus Rubiyatmoko, Keuskupan Agung Semarang menemukan kembali hal-hal, nilai-nilai dan banyak umat yang hilang.

Robertus Hardiyanta, Pr
Pastor Paroki Sragen

Related Posts

  • 77
    “Satu hati bagi bangsa mewujudkan Peradaban Kasih di Indonesia” Dibacakan/diterangkan pada Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga; Sabtu-Minggu, 13 - 14 Agustus 2016   Saudara-saudariku umat Katolik Keuskupan Agung Semarang, Para Pejuang Senior, Veteran, dan sahabat-sahabat muda yang penuh semangat: SALAM BAHAGIA, karena kasih dan kemerdekaan yang Tuhan berikan bagi kita. SALAM PERJUANGAN…
    Tags: dan, yang, dalam
  • 77
    Saudara-saudara terkasih di dalam Yesus Kristus, 1. Kita patut menaikkan syukur ke hadirat Allah dalam Yesus Kristus, sebab atas anugerah-Nya bangsa dan negara kita dapat mengukir karya di tengah sejarah, khususnya dalam upaya untuk bangkit kembali serta membebaskan diri dari berbagai krisis yang mendera sejak beberapa tahun terakhir ini. Anugerah, penyertaan dan bimbingan Tuhan bagi…
    Tags: dan, yang, dalam
  • 76
    (23 Oktober 2016) GEREJA MISIONER, SAKSI KERAHIMAN Saudara dan saudari terkasih, Yubileum Agung Kerahiman, yang sedang kita rayakan, memberikan cahaya terang bagi Hari Minggu Misi Sedunia 2016: Ia mengajak kita untuk merenungkan misi ad gentes sebagai misi besar melalui karya kerahiman, baik rohani dan jasmani. Pada Hari Minggu Misi Sedunia ini, kita semua diundang untuk…
    Tags: dan, yang, dengan